

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JalanTelawi [Beta] &#187; Puasa</title>
	<atom:link href="http://jalantelawi.com/tag/puasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jalantelawi.com</link>
	<description>Mata Air Pencerahan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 12:26:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
<meta xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex,follow" />
		<item>
		<title>Daging</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2010/09/daging/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2010/09/daging/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 01:04:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Goenawan Mohamad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esei]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[Chairil Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Gandhi]]></category>
		<category><![CDATA[Goenawan Mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[Heidegger]]></category>
		<category><![CDATA[Karl Marx]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramdhan]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=2027</guid>
		<description><![CDATA[Barangkali berpuasa telah berubah: menahan haus dan lapar tidak lagi ditandai tekad melawan godaan, tapi sikap ketakutan akan godaan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div><em>via: </em><a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/caping/2010/08/16/mbm.20100816.CTP134339.id.html" target="_blank"><em>Catatan Pinggir/Tempointeraktif</em><br />
</a></div>
<p>Puasa: perut yang harus dibiarkan lapar, tenggorokan yang menahan haus selama 12 jam, alat kelamin yang tak tersentuh syahwat. Demikianlah yang jasmani dikendalikan: daging harus dituntun oleh roh. Kalau tidak: dosa.</p>
<p>Maka dari waktu ke waktu, seraya menolak yang jasmani, kita dianjurkan hanya menerima yang ”rohani”. Sejak pukul 4 dini hari, masjid dan surau penuh suara orang menyebut Tuhan, menganjurkan ibadat, meneguhkan iman, menjalankan syariat…. Kita dilengkapi dengan banyak penangkal: kita harus bisa menolak gado-gado, soto, video porno.</p>
<p>Tapi bisakah daging diasingkan? Bisakah tubuh dilihat terpisah? Tampaknya ada yang luput dilihat di sini. Justru pada bulan Ramadan, yang jasmani diam-diam menyiapkan resistansi.</p>
<p>Mari datang ke pusat-pusat perbelanjaan mewah dan angkringan sederhana di kaki lima. Kita akan melihat semarak pelbagai penganan lezat yang tak lazim sehari-hari. Ramadan telah jadi sebuah paradoks: ketika orang diharuskan menahan nafsu, kreativitas menyiapkan hidangan justru meningkat; omzet perdagangan makanan naik sampai 60 persen. Orang ramai berbelanja untuk membuat meriah meja berbuka puasa dan sahur mereka.</p>
<p>Ramadan agaknya telah jadi sebuah periode ketika orang berusaha memperoleh kompensasi istimewa. Tampaknya kuat anggapan bahwa pengekangan atas tubuh kita selama 30 hari itu adalah sebuah deprivasi, sebuah perenggutan dari hidup yang normal, dan kita, yang merasa harus menanggungkan itu, menginginkan imbalan yang memuaskan.</p>
<p>Di atas semua itu, setidaknya di Indonesia, orang-orang yang menganggap puasa sebagai deprivasi yang berat akan bersikap seakan-akan anak manja atau si korban yang dendam: mereka minta diperlakukan dengan kelas tersendiri. ”Hormatilah orang yang berpuasa!” seru pengumuman di mana-mana. Maksudnya: ”jangan menggoda atau merayu orang yang berpuasa untuk batal”.</p>
<p>Barangkali berpuasa telah berubah: menahan haus dan lapar tidak lagi ditandai tekad melawan godaan, tapi sikap ketakutan akan godaan. Pada bulan ini orang-orang yang mengatakan bahwa niat mereka berpuasa adalah untuk Allah (dengan kata lain: ikhlas) ternyata juga orang-orang yang merasa berhak mengklaim proteksi dari kekuatan di luar diri mereka: Negara.</p>
<p>Maka rumah-rumah hiburan malam pun diharuskan tutup sepanjang bulan. Bahkan panti pijat yang biasanya dipergunakan keluarga (termasuk anak-anak) tak boleh buka. Tak urung, para juru pijat, umumnya ibu-ibu yang bekerja untuk menambah nafkah keluarga, berkurang pendapatan. Di Bekasi, para pemilik dan buruh industri <em>entertainment</em> kecil atau menengah mengeluh (ya, mereka akhirnya berani mengeluh) bahwa setiap tahun nafkah mereka putus selama 30 hari. Padahal mereka juga harus ikut mengumpulkan pendapatan lebih untuk bersenang-senang pada hari Lebaran.</p>
<p>Dengan kata lain, puasa telah jadi semacam privilese. Orang-orang yang berpuasa bukan saja harus dihormati secara istimewa, tapi juga orang lain harus bersedia berkorban untuk mereka.</p>
<p>Persoalannya akan berbeda jika kita menganggap berpuasa dengan sikap lain: puasa bukan sebagai deprivasi, melainkan sebagai ikhtiar kita untuk mengurangi apa yang dirasakan berlebih dan berlebihan dalam diri. Dengan kata lain, inilah puasa sebagai pilihan laku yang menangkis keserakahan. Bahkan inilah puasa sebagai reduksi agresivitas menghadapi dunia—agresivitas yang meringkus dunia jadi milik dan bagian dari sasaran konsumsi.</p>
<p>Dalam puasa reduktif itu, kita sebenarnya melanjutkan pesan Nabi untuk berhenti makan sebelum kita kenyang dan juga pesan Gandhi untuk menyadari betapa dunia terbatas: bumi cukup untuk kebutuhan tiap orang, namun tak akan cukup untuk ketamakan tiap orang.</p>
<p>Puasa yang macam itu tentu saja tak akan diakhiri dengan kemenangan yang dirayakan dengan Idul Fitri yang pongah. Puasa yang menampik keserakahan dan agresivitas tak akan meneriakkan kemenangan, terutama kemenangan diriku sebagai subyek yang perkasa yang telah mengalahkan tubuh sendiri. Bahkan dalam puasa yang seperti itu, ”aku”, seperti dikatakan Chairil Anwar di pintu Tuhan, ”hilang bentuk, remuk”.</p>
<p>Tak berarti ”hilang bentuk, remuk” itu menunjukkan wajah manusia yang tertindas dan jadi asing bagi dirinya sendiri.</p>
<p>Marx memang pernah menganggap, dalam agama (sebagai bentuk alienasi), wujud manusia hilang: ”semakin banyak yang dicurahkan manusia ke Tuhan, semakin sedikit yang ia sisakan bagi dirinya sendiri….”. Tapi di situ Marx salah. Pada abad ini yang kita saksikan justru sebaliknya: semakin banyak yang dicurahkan manusia ke Tuhan, semakin menggelembung ia jadi subyek yang penuh dan perkasa. Dan agresif.</p>
<p>Mungkin itu sebabnya mereka yang berpuasa juga tampak seperti orang yang ingin berkuasa. Kecuali jika puasa membuat kita sadar bahwa kita tak pernah bisa tegak utuh sendiri. Kita, roh yang juga daging, terbentuk oleh zat-zat yang sama dengan zat-zat dunia—meskipun kesatuan antara roh dan daging itu menyebabkan manusia tak seluruhnya bisa dirumuskan. Kita ada di bumi, di bawah langit, di antara makhluk lain yang fana, di hadapan Tuhan—sebuah variasi dari <em>das Geviert </em>Heidegger. Dalam posisi itu, aku bisa merasakan bumi, langit, sesama makhluk dan rahmat Tuhan mengasuhku. Dalam posisi itu, aku bisa menghilangkan ketamakan dan agresivitasku.</p>
<p>Di situ, puasa tak akan disertai hasrat mendapatkan kompensasi yang memuaskan buat tubuh yang merasa tertindas dan terasing oleh Ramadan. Di situ, puasa tak dimulai dengan merasa telah direnggutkan, hanya karena mulut tak boleh menelan, lidah tak boleh mencicip. Di situ, puasa adalah pertemuan kembali dengan tubuh yang sebenarnya lumrah dan patut disyukuri. Bukan tubuh yang dikurung untuk diwaspadai.<strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/09/macam-macam-puasa-dan-%e2%80%98aidul-fitri/" rel="bookmark" title="18 September, 2009">Macam-Macam Puasa dan ‘Aidul Fitri.</a></b> Amin Ahmad</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/01/106/" rel="bookmark" title="16 Januari, 2011">106</a></b> Hafiz Hamzah</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/01/sajak-sajak-wan-nor-azriq/" rel="bookmark" title="9 Januari, 2011">Sajak: Wan Nor Azriq</a></b> Wan Nor Azriq</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/12/havel/" rel="bookmark" title="19 Disember, 2011">Havel</a></b> Goenawan Mohamad</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/05/victoria/" rel="bookmark" title="15 Mei, 2011">Victoria</a></b> Hafiz Hamzah</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/03/pilihan/" rel="bookmark" title="16 Mac, 2009">Pilihan</a></b> admin</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 82.458 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2010/09/daging/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Macam-Macam Puasa dan ‘Aidul Fitri.</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2009/09/macam-macam-puasa-dan-%e2%80%98aidul-fitri/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2009/09/macam-macam-puasa-dan-%e2%80%98aidul-fitri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 06:26:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amin Ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolum]]></category>
		<category><![CDATA[Aidulfitri]]></category>
		<category><![CDATA[Amin Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=880</guid>
		<description><![CDATA[Hari Raya ‘Eidul Fitri akan datang lagi. ‘Eidul Fitri nanti akan kedengaran khatib mengulang khutbah Raya tentang keperluan umat kembali kepada fitrah yang suci dengan menginsafi dosa lalu serta berusaha memperbaiki diri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<a href="http://jalantelawi.com/wp-content/gallery/masthead_kolum/amin_kolum.jpg" title="" class="thickbox" rel="singlepic3" >
	<img class="ngg-singlepic" src="http://jalantelawi.com/wp-content/gallery/cache/3__255x88_amin_kolum.jpg" alt="Amin Ahmad" title="Amin Ahmad" />
</a>
Hari Raya ‘Aidul Fitri akan datang lagi. ‘Aidul Fitri nanti akan kedengaran khatib mengulang khutbah Raya tentang keperluan umat kembali kepada fitrah yang suci dengan menginsafi dosa lalu serta berusaha memperbaiki diri.</p>
<p>Seperti mana selalunya, Ramadhan dan Syawal adalah dua bulan dalam kalendar Hijrah umat Islam yang disambut secara istimewa kerana adanya tuntutan Rukun Islam yang ketiga iaitu berpuasa dan juga adanya sambutan Hari Raya ‘Aidul Fitri serta kewajipan zakat fitrah.</p>
<p>Dalam menyambut Ramadhan serta Syawal tidak lama lagi, saya sentiasa terkenangkan bagaimana perubahan corak budaya sambutannya berlaku dari tahun ke tahun.</p>
<p><strong>Puasa</strong></p>
<p>Seingat saya, saya mula berpuasa ketika berusia 4 tahun dan berpuasa penuh semasa darjah 3. Waktu emak dan ayah menyuruh saya mula belajar berpuasa, keghairahan meluap. Namun, bila masuk tengah hari, saya mula terasa lapar. Mungkin sebab itu dulu ada kata popular <em>“puasa yang yuk, tengah hari buka periuk!”</em>. Bila masuk darjah 3, rasa malu jika tidak berpuasa datang sendiri apatah lagi bila ada awek cun yang sama satu kelas telah mula berpuasa penuh sejak tadika! Namun, sementelahan saya telah dewasa, saya tertanya apa alasan bagi mereka yang sengaja memilih untuk tidak berpuasa.</p>
<p><strong>Kuih Raya</strong></p>
<p>Ada masanya ketika tidak berpuasa, saya akan menjadi ‘tukang rasa kuih’ yang emak buat untuk Hari Raya. Selalunya saya makan berlebihan sehinggakan emak terpaksa menghadkan bilangan kuih yang saya boleh rasa. Saya tidak tahu berapa ramai orang yang masih menyediakan sendiri kuih raya untuk tetamu. Dulu, rakan saya pernah mengatakan yang dia hanya sedia ‘kuih tunjuk’. Oleh kerana saya pertama kali mendengarnya, maka saya bertanya <em>“bagaimanakah rupa bentuk kuih tersebut?”</em>. Jawabnya kuih tunjuk itu bermaksud tunjuk saja di kedai! Apa yang berbeza pada hari ini ialah kerana kuih-kuih moden lebih banyak mengambil tempat kuih-kuih tradisional.</p>
<p><strong>Pasar Ramadhan</strong></p>
<p>Kemeriahan pasar ramadhan masih sama seperti dulu. Orang ramai berpusu-pusu mendapatkan juadah berbuka yang sebahagiannya sukar ditemukan di luar bulan Ramadhan. Waktu ini tumbuh bagai cendawan usahawan segera dan sebahagiannya anak muda yang mencari upah buat bekal membeli pakaian untuk menyambut hari raya. Waktu ini, kita boleh melihat pelbagai menu masakan budaya Melayu.</p>
<p><strong>Buka Puasa</strong></p>
<p>Emak selalu mengatakan jika saya tidak berpuasa, maka saya tidak boleh berbuka bersama mereka yang berpuasa. Kata-kata emak ini bertujuan untuk menggalakkan saya berpuasa. Waktu berbuka selalunya adalah waktu penting yang diambil kebanyakan untuk mengeratkan tali silaturrahim. Ada rakan-rakan sewaktu bersekolah berpakat untuk berbuka bersama, ahli keluarga yang dekat juga berhimpun dan sebagainya. Semasa di kampus, saya dan rakan-rakan sering menganjurkan majlis berbuka puasa bersama di surau dengan makan di dalam dulang.</p>
<p><strong>Mercun</strong></p>
<p>Dulu semasa kecil, bunga api itu dikira gah. Dewasa sedikit kami mula bermain mercun. Saya tidak pernah mencuba bermain meriam buluh atau meriam tanah. Tapi tangan pernah kebas apabila mercun papan meletup di jari. Baju arwah kakak juga pernah terbakar kerana terkena percikan bunga api saya. Perang mercun satu taman menjadikan kami anak-anak remaja rapat. Kami akan ketawa besar mengenangkan lintang pukang dikejar polis yang masuk ke taman selepas mendapat aduan sebilangan penduduk. Kini, hampir tidak kedengaran kemeriahan anak muda menikmati mercun dan kisah remaja hilang jari. Kadangkala tidak berbaloi melihat adanya tangkapan dibuat oleh kastam dan polis hanya kerana adanya ‘usaha’ pihak tertentu menyeludup masuk mercun dan bunga api. Anehnya semasa kecil, saya pernah diajak bermain bunga api dan mercun oleh anak polis yang mendakwa bekalan bunga api dan mercun tersebut adalah dari rampasan polis yang dibawa balik ayahnya!</p>
<p><strong>Tarawikh</strong></p>
<p>Ketika orang ramai bertarawikh, kami anak-anak muda juga turut sama. Dulu di surau kampung, saya dan rakan-rakan selalu berebut untuk mengalunkan azan. Tapi ada masanya kami akan berhenti tarawikh separuh jalan kerana telah berpakat untuk bermain mercun atau <em>‘police sentry’</em>. Saya tidak tahu sama ada anak muda dan remaja sekarang masih menikmati malam-malam Ramadhan dengan kegiatan sosial yang bersifat nakal seperti kami. Mungkin lebih ramai yang hanya menghabiskan masa bermain mercun dan permainan yang mirip <em>‘police sentry’</em> di peti kaca televisyen atau komputer. Di kampung, tarawikh biasanya akan diselang setiap empat rakaat dengan satu tazkirah ringkas.</p>
<p><strong>Perhiasan Diri dan Rumah</strong></p>
<p>Menjelang ‘Eidul Fitri, rumah biasanya akan dipastikan cantik dan kemas kerana ramai tetamu yang akan berkunjung semasa Hari Raya. Sebahagian keluarga akan membeli-belah menukar perhiasan rumah yang baru. Dari langsir, permaidani, sofa dan balang kuih, juga pakaian raya yang baru dari songkok sampai ke kasut. Untuk menghidupkan suasana Raya, pelita dan lampu berkelip dipasang di sekitar rumah. Indahnya. ‘Eidul Fitri menjadi medan manusia berbelanja. Gedung membeli belah pula sibuk dengan tawaran harga diskaun untuk pelbagai barangan. Bagi mereka yang tidak menghayati semangat Ramadhan untuk ‘mengawal nafsu’, mereka akan terjebak dengan pelbagai tawaran harga ini. Bukanlah salah untuk berbelanja, namun tentu saja wang berlebihan boleh diterjemah menjadi sebahagian amal di bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>Ucap Selamat Hari Raya</strong></p>
<p>Dulu, di awal Ramadhan, ramai yang bergegas menyiapkan kad raya yang mesti dihantar selewat-lewatnya dua minggu pertama. Dalam berita sering dimaklumkan bahawa sebahagian kad raya hanya akan tiba selepas raya kerana kuantitinya yang banyak dan dihantar lewat. Kini, ucapan Selamat Hari Raya biasa dihantar melalui e-mel, pesanan ringkas (sms) atau laman sosial yang semakin bercambah. Ia mudah namun seakan tidak punya jiwa lagi. Ucapan maaf zahir batin juga telah menjadi budaya tanpa pengertian.</p>
<p><strong>Perantau</strong></p>
<p>Saya dan adik dulu sangat suka menatap gambar-gambar mahasiswa Malaysia di luar negara melalui ruangan Salam Perantauan di dalam akhbar tempatan. Selain daripada itu, kami tidak melepaskan peluang menonton kejayaan anak bangsa Malaysia melanjutkan pelajaran ke luar negara. Semasa tahun 80-an dan awal 90-an, bilangan mahasiswa ke luar negara tidaklah seramai hari ini, justeru saya sangat terasa bagaimana perasaan seorang mahasiswa yang berjauhan daripada keluarga tatkala sanak saudara akan berkumpul. Tatkala pulang ke Perlis berhari-raya, saya berasa sangat gembira kerana sepanjang perjalanan, saya berpeluang menikmati suasana kampung dengan sawah padi dan rumah papan terutama di Kedah dan di Perlis. Pernah saya sampai ke kampung di pagi raya kerana tiket bas telah habis ditempah sebulan lebih awal!</p>
<p><strong>Lagu Raya</strong></p>
<p>Saya fikir lagu Sudirman “Dari Jauh Ku Pohon Maaf”, P. Ramlee dengan “Dendang Perantau”,  M. Nasir melalui “Satu Hari di Hari Raya” serta duet Anuar Zain dan Elina “Suasana Hari Raya” (sekadar menamakan sebahagian) akan kekal menjadi lagu yang menghimbau nostalgia Hari Raya. Banyak lagu raya baru dicipta namun tidak banyak yang benar-benar mengusik perasaan. Tidak lengkap rasanya menikmati Raya tanpa lagu-lagu ini selain takbir Hari Raya.</p>
<p><strong>Malam Raya</strong></p>
<p>Ketika Mohor Besar Raja-Raja Melayu mengumumkan tarikh Hari Raya, ramai yang menyambutnya dengan bunyi mercun dan malam sebelum Raya akan disambut dengan takbir. Ada yang bertungkus-lumus menghidupkan api bagi membakar lemang dan ada yang mula menyiapkan ketupat. Cukup mudah menemukan wajah berseri-seri saat menyambut malam Raya. Kini, jangan terkejut jika ada anak muda menghabiskan waktu bermain futsal pada malam Raya!</p>
<p><strong>Hiburan Ramadhan</strong></p>
<p>Sejak pertengahan 1990-an, ada satu keghairahan baru untuk masyarakat menonton iklan raya yang berkualiti sebagai mesej Hari Raya. Sudah tentu sukar untuk mencari pengganti arwah Yasmin Ahmad di dalam bidang ini. Ramai juga yang menikmati sitkom Rumah Kedai, dokumentari Jejak Rasul dan drama Diari Ramadhan Rafique (sekadar menamakan sebahagian). Kualiti hiburan boleh ditonton sepanjang Ramadhan dan pada Hari Raya.</p>
<p><strong>Solat Raya, Ziarah Kubur serta Kunjung dan Maaf</strong></p>
<p>Di awal pagi raya, semua segak berhias untuk solat ‘Aidul Fitri. Selepas menjamah ketupat dan rendang, ahli keluarga akan berkumpul dan saling bermaafan. Ayah selalu mahu lekas ke masjid untuk sama-sama bertakbir. Usai solat, umat Islam bermaafan dan kemudian menziarahi kubur bagi menghadiahkan sepotong doa kepada mereka yang telah kembali ke rahmatullah. Selepas itu bermulalah perhimpunan atau ziarah saudara mara terdekat. Dulu semasa saya kecil, ziarah dari rumah ke rumah selain menikmati aneka juadah, kami mendapat duit raya sekitar 20 sen dan jumlah RM1 itu dikira besar. Emak dan ayah akan menyediakan RM10-RM30 kepada kami sebagai ‘ganjaran’ berpuasa, bergantung kepada berapa hari kami berpuasa.</p>
<p>Saya masih ingat ketika darjah 3, jumlah kutipan duit raya saya sekitar RM100! Entah berapa ratus rumah yang saya kunjungi bersama rakan-rakan. Namun, amat menyedihkan dewasa ini apabila kanak-kanak datang berkunjung ke rumah hanya mahu berada di pintu rumah dan meminta duit raya tanpa mahu masuk menjamah juadah dan berkenalan dengan tuan rumah.</p>
<p>Selain daripada rumah saudara-mara, rumah bekas-bekas guru dan rakan-rakan juga menjadi agenda dalam jadual untuk dikunjungi. Jika cuti singkat, ada rumah-rumah yang terpaksa dikecualikan. Ada juga yang menggunakan kesempatan raya untuk memperkenalkan calon menantu kepada keluarga!</p>
<p>Tatkala ramai yang sibuk berkunjung antara satu sama lain, ada pula anak muda yang selesa duduk di depan televisyen menikmati tayangan filem, drama dan hiburan sempena ‘Eidul Fitri. Juga tidak dilupa, ada yang tidak mendapat cuti di pagi 1 Syawal!</p>
<p>Puasa dan Hari Raya pada penganut agama Islam, macam-macam pengertian ‘fitrah’ selain apa yang dikhutbahkan khatib.</p>
<p>Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan Selamat Berpuasa, Selamat Hari Raya dan Maaf Zahir Batin kepada semua. Selamat memandu ketika berhari-raya!</p>
<p><em><strong>Amin Ahmad</strong>, 27, akan pulang berhari raya di Perlis selama satu minggu untuk Raya tahun ini.</em></p>
<p><strong> </strong><strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/09/demokrasi-tragedi-dan-badut/" rel="bookmark" title="28 September, 2010">Demokrasi, Tragedi dan Badut</a></b> Eekmal Ahmad</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/09/daging/" rel="bookmark" title="3 September, 2010">Daging</a></b> Goenawan Mohamad</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/12/search-bukan-munafik-macam-sesetengah-orang/" rel="bookmark" title="20 Disember, 2011">Search Bukan Munafik Macam Sesetengah Orang</a></b> Hasmi bin Hashim</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/10/pilihan-raya-dan-maknanya/" rel="bookmark" title="9 Oktober, 2009">Pilihan Raya dan Maknanya</a></b> Amin Ahmad</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/08/politik-kampus/" rel="bookmark" title="13 Ogos, 2010">Politik Kampus</a></b> Amin Ahmad</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/01/balak/" rel="bookmark" title="26 Januari, 2011">Balak</a></b> Hasmi bin Hashim</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 45.865 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2009/09/macam-macam-puasa-dan-%e2%80%98aidul-fitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

