

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JalanTelawi [Beta] &#187; Wawancara</title>
	<atom:link href="http://jalantelawi.com/category/wawancara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jalantelawi.com</link>
	<description>Mata Air Pencerahan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 12:26:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
<meta xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex,follow" />
		<item>
		<title>Rarindra Prakarsa: fotografi adalah jalan-pintas memiliki dunia</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2011/12/rarindra-prakarsa-fotografi-adalah-jalan-pintas-memiliki-dunia/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2011/12/rarindra-prakarsa-fotografi-adalah-jalan-pintas-memiliki-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 11:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aqil Fithri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Aqil Fithri]]></category>
		<category><![CDATA[Canon]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Nikon]]></category>
		<category><![CDATA[Rarindra Prakarsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=3397</guid>
		<description><![CDATA[Rarindra Prakarsa, adalah nama besar dalam dunia fotografi. Gambar-gambar dan teknik penggambarannya dibincangkan meluas di forum seluruh dunia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3465" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-3465" title="lumbalembu_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//lumbalembu_major.jpg" alt="" width="600" height="371" /><p class="wp-caption-text">Pacu Jawi, acara tradisi di Sumatera Barat setelah musim menuai. © Rarindra Prakarsa</p></div>
<p>RARINDRA PRAKARSA, adalah nama besar dalam dunia fotografi. <a href="http://photo.net/photos/rarindra">Gambar-gambarnya</a> sudah cukup untuk berbicara. Tak perlu kata lagi. Mungkin benar tafsirannya, bahawa kita lebih mudah memandang berbanding membaca. Maka, gambar adalah jawapannya. Namun, meski memiliki nama besar, jurugambar dari Indonesia ini tak lokek untuk berbagi pengetahuan. Sangat ramah. Juga baik. AQIL FITHRI, yang kebetulan bersamanya dalam tempoh penggambaran di Bromo tanggal 20-22 September 2011, telah mengambil kesempatan untuk mewawancaranya. Tapi, wawancara ini hanya saja terjadi dan lengkap lewat mel-e. Dari wawancara ini, kita dapat menyaksikan betapa dunia fotografi ini sebenarnya tak kalah menariknya. Sebuah dunia yang sangat lapang untuk kita bereksperimen. Sebuah dunia yang sangat indah untuk kita menikmatinya. Kerana itu, lewat fotografi kita dapat saja mengecilkan dunia, dengan memuatkannya hanya dalam imaginasi kita. Mungkin itulah yang dikatakan, bahawa fotografi adalah antara jalan-pintas untuk kita memiliki dunia, setidaknya dunia kita sendiri.</p>
<p><strong>Bagaimana anda mula-mula berkenalan dengan fotografi?</strong></p>
<p>Saya mula-mula berkenalan masa kuliah di Politeknik Universitas Indonesia, di Fakultas Seni dan Grafik. Rasa-rasa masa itu saya senang sekali ambil gambar dan <em>develop in dark room</em>.</p>
<p><strong>Benarkah bidang fotografi ini sangat mahal. Anda tentunya bukan punya wang yang banyak saat memulakan minat fotografi ini, bukan?</strong></p>
<p>Tidak juga. Masa awal saya meminjam kamera daripada dosen saya. Masih ingat kamera itu adalah Fujica SLR. Saya bekerja dulu selama satu tahun, baru kemudian dapat beli SLR. SLR pertama saya adalah Nikon FM2. Itu kamera yang cukup OK juga masa itu. Saya rasa yang terpenting dalam memulai fotografi adalah dengan alat yang sederhana dapat gambar yang cantik. Jika itu sudah dapat, maka terus akan berkembangan alat kita sampai kita sudah mulai pro.<strong> </strong>Jangan kita bermula dari suatu yang besar dengan hasil yang kecil.</p>
<div id="attachment_3466" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-3466" title="8997192-lg" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//8997192-lg.jpg" alt="" width="500" height="333" /><p class="wp-caption-text">Portret seekor ayam jantan dan seorang tua. © Rarindra Prakarsa</p></div>
<p><strong>Kamera pertama anda adalah Nikon. Justeru, sejak kapan anda menukarnya kepada Canon? Dan, mengapa anda menukarnya kepada Canon? Apa yang istimewanya Canon?</strong></p>
<p>Nikon atau Canon adalah dua <em>brand</em> terkenal. Tidak ada yang berbeda banyak dari hasil kedua jenama ini. Yang berbeda hanya feature dan bagaimana mengoperasikannya. Saya bermula ke Canon sejak digital. Dan sudah terbiasa dengan <em>operational</em>nya. Jika ada jenama lain yang bagi saya lebih menyelesakan…. maka saya tidak keberatan untuk menukarnya! Sebab yang terpenting bukan jenama. Tapi, <em>your imagination</em>.</p>
<p><strong>Mengapa terus menggunakan tali Nikon hingga sekarang, meskipun kamera anda adalah Canon?</strong></p>
<p>Tali Nikon adalah tali dari kamera pertama saya: Nikon FM2… sekadar memorabilia.</p>
<p><strong>Apakah makna gambar pada anda?</strong></p>
<p>Pada saya, makna pertama untuk gambar itu adalah dokumentasi. Itu nilai terpenting. Saya beli kamera dulu karena itu setelah lihat-lihat gambar lama keluarga besar saya. Nilai lain adalah ekspresi seni. Dan nilai lebih jauh lagi adalah fotografi komersial.</p>
<div id="attachment_3467" class="wp-caption aligncenter" style="width: 565px"><img class="size-full wp-image-3467" title="14413736-lg" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//14413736-lg.jpg" alt="" width="555" height="370" /><p class="wp-caption-text">Menampi beras © Rarindra Prakarsa</p></div>
<p><strong>Bagaimana untuk kita menghasilkan gambar yang menarik? Apakah anda punya cara-cara yang boleh berbagi dengan kami?</strong></p>
<p>Jika bertanya bagaimana gambar menarik? Tentu sekali gambar sebagai alat seni. Apapun seni yang terpenting adalah imaginasi, naluri seni itu sendiri. Lepas itu: asas fotografi ialah sehingga orang lain dapat menerima, dan bersetuju bahawa gambar kita sudah memenuhi kaidah umum sebagai gambar yang cantik.</p>
<p><strong>Salah satu kesulitan fotografer yang baru ialah untuk mendapatkan dedahan yang tepat (<em>correct exposure</em>)? Bagaimana anda melakukannya?</strong></p>
<p>Pelajari buku panduan. Lepas itu ambil gambar, ambil gambar dan ambil gambar.</p>
<p><strong>Kamera biasanya punya sama ada A (<em>aperture priority</em>) atau S (<em>shutter priority</em>)? Bagaimana anda menggunakannya? Atau, anda menggunakan M (manual) sepenuhnya?</strong></p>
<p>A, tentu saja saat ketika <em>depth of field</em>(DOF). Dan, S berkaitan dengan gerakan, dan pada saat kondisi cahaya merata/normal. Saat kondisi kontras cahaya pula, kita pakai M.</p>
<div id="attachment_3468" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img class="size-full wp-image-3468" title="14435493-lg" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//14435493-lg.jpg" alt="" width="550" height="367" /><p class="wp-caption-text">Salah simbah © Rarindra Prakarsa</p></div>
<p><strong>Di waktu siang hari yang terang, sebetulnya bagaimana caranya untuk kita <em>killing background</em> (supaya latarnya jadi gelap), tapi objeknya tetap cerah?</strong></p>
<p>Kalau subjek di daerah yang terang, boleh kita pakai <em>reflector</em>, atau boleh juga guna <em>flash</em>.</p>
<p><strong>Gambar-gambar anda banyak mengenai kanak-kanak dan pendesaan, dengan seni melukis cahaya yang menarik sekali? Tapi mengapa anda meminati kanak-kanak sebagai subjek anda?</strong></p>
<p>Saya seolah kembali kepada zaman kanak-kanak. Saya bahagia masa kanak-kanak. Dan, saya sangat yakin dan mengimbau kepada orang tua: bahawa Masa kanak-kanak adalah masa bermain, bukan dipaksa untuk terus belajar. Tentu saja, ini dengan pengawasan orang tua yang bijak.  Saya sendiri adalah orang kota. Saya lahir dan besar di Jakarta. Tapi pedesaan adalah tempat yang natural, yang akan membuat kanak-kanak terlihat senang pada lingkungannya.</p>
<p><strong>Mungkin gaya fotografi anda kini telah mula ditiru. Apakah anda akan terus dengan gaya yang telah identik dengan anda ini? </strong></p>
<p>Tidak masalah dengan ditiru sebab itu artinya gambar saya dihargai. Tapi yang terburuk adalah jika ada yang klaim bahawa itu adalah gaya seseorang. Pernah terjadi dan sangat menyebalkan.</p>
<p><strong>Apa pandangan anda tentang <em>flash</em>?</strong></p>
<p><em>Flash</em> adalah satu hal yang dapat menolong kita lebih banyak menghasilkan gambar pada situasi apapun.</p>
<p><strong>Mengapa waktu fajar dan senja begitu bermakna untuk anda sebagai fotographer?</strong></p>
<p>Ya tentu, gambar yang terhasil takkan rata (flat)!</p>
<p><strong>Apakah gambar yang anda paling suka dan kenangi? Di mana anda mengambilnya? Dan mengapa gambar itu istimewa pada anda?</strong></p>
<p>Saya tidak ada gambar yang benar-benar suka dan tidak suka. Yang saya hasilkan adalah yang membuat saya senang. Semua bermakna.</p>
<p><strong>Kini banyak yang menggunakan suntingan untuk menghasilkan gambar yang lebih baik. Tapi, dalam hal ini, sejauh mana Adobe Photoshop membantu anda?</strong></p>
<p>Suntingan adalah tindakan terakhir, dan ‘sunnah’. Photoshop tidak hasilkan gambar yang cantik hanya dari gambar yang biasa-biasa saja. Tapi gambar cantik akan jadi gambar yang ‘sangat cantik’ dengan Photoshop.</p>
<p><strong>Apa pandangan anda mengenai HDR, dll lain-lain kaedah suntingan dalam fotografi? Apakah anda berminat dengan HDR?</strong></p>
<p>Tidak terlalu suka dengan HDR. Tapi mungkin hal-hal tertentu itu berguna sebagai sebuah solusi.</p>
<p><strong>Mengapakah proses mengambil gambar yang berkualiti itu lebih penting dari faktor suntingan? Atau kedua-duanya penting?</strong></p>
<p>Ya, gambar adalah dokumentasi, komunikasi visual, seni. Suntingan? Hanyalah alat, untuk mengemasnya belaka.</p>
<div id="attachment_3469" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-3469" title="kuda_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//kuda_major.jpg" alt="" width="600" height="400" /><p class="wp-caption-text">Tuan dan kudanya. © Rarindra Prakarsa</p></div>
<p><strong>Bilakah pertama kali anda ke Malaysia? Dan, sebagai fotografer, bagaimana anda melihat Malaysia? Apakah ada sesuatu subjek yang menggoda di Malaysia dari perspektif anda sebagai fotografer?</strong></p>
<p>Kali pertama saya datang justru untuk menjadi peserta bengkel. Tapi bukan bengkel fotografi. Kedua kali saya menjadi pembicara bengkel di Kuala Lumpur pada tahun 2008. Malaysiaadalah negara serumpun, dengan bahasa yang 60% sama dengan Indonesia. Maka karena itu saya sering berbagi di Malaysia. Undangan untuk berbagi ini datang dari mana-mana negara. Tapi, bicara English saya benar-benar lemah. Pada saya, Malaysia tentu juga punya beberapa tempat menarik. Tapi, Indonesia dengan tempat yang lebih luas dan beragam budaya, bagi saya adalah tempat yang paling menarik di dunia.</p>
<p><strong>Apakah ada beda antara permandangan untuk fotografi antara Malaysia dengan Indonesia? Sepertinya Indonesia lebih natural ketimbang Malaysia?</strong></p>
<p>Tidak ada…sama saja di negara-negara manapun. Dengan peralihan analog ke digital, semuanya bisa dicoba-coba.</p>
<p><strong>Menurut anda, apakah permandangan atau objek fotografi di Indonesia yang terindah? </strong></p>
<p>Banyak sekali. Semua pulau berbeda. Unik dengan budaya dan alamnya.</p>
<p><strong>Bagi kalangan fotografer, nama anda cukup terkenal. Bukan saja di Indonesia, tapi juga di Malaysia dan seluruh dunia. Apa pandangan anda pula mengenai perkembangan dunia fotografi di Indonesia? Di Malaysia pula, kalau anda punya pandangan tertentu?</strong></p>
<p>Fotografi Indonesiasudah maju pesat. Orang yang baru saja pegang kamera satu tahun sudah jadi pro, dua tahun sudah jadi guru. Kalau tiga tahun sudah jadi maestro (ketawa).</p>
<p><strong>Apakah pandangan anda secara khusus mengenai Bromo? Sudah berapa kali anda ke sana?</strong></p>
<p>Bromo satu tempat tercantik di dunia. Di sana, lengkap dari semua perspektif fotografi yang dapat diambil, dan sangat unik.</p>
<p><strong>Apa tujuan anda mengadakan acara fotografi Bromo-Bali ini? Walhal anda boleh saja untuk mengambil foto sendirian? Mungkinkah ada istimewanya mengambil gambar secara berkumpulan?</strong></p>
<p>Saya senang sekali perkenalkan rakan-rakan fotografer dari seluruh dunia untuk berkunjung ke Indonesia. Saya menikmati hal ini.</p>
<div id="attachment_3470" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-3470" title="rarindra_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//rarindra_major.jpg" alt="" width="250" height="250" /><p class="wp-caption-text">Rarindra Prakarsa</p></div>
<p><strong>Apa anda punya projek fotografi tersendiri, untuk Indonesia barangkali? Mungkin anda mahu mengumpul wajah-wajah Indonesia dan dijadikan koleksi? Atau juga, mungkin anda mahu bikin buku fotografi anda sendiri?</strong></p>
<p>Masa ini, belum befikir ke situ dulu. Menurut saya, internet sangat bagus dalam mendukung fotografi. Semua yang kuasai lewat internet akan menguasai dunia juga, termasuk untuk fotografi.</p>
<p><strong>Ke mana tempat yang ingin sekali anda pergi, selain dari di Indonesia?</strong></p>
<p>Asia, tentu sekali. Saya tidak ada minat ke luar Asia. Pada saya, India, China, Vietnam, Tibet adalah tempat-tempat eksotik.</p>
<p><strong>Apakah yang selalu menjadi kepuasan anda dalam fotografi?</strong></p>
<p>Saya senang… orang lain juga senang. Itu saja.</p>
<p><strong>Siapa tokoh fotografi yang menarik minat anda, serta menjadi teladan pada anda dalam dunia fotografi ini?</strong></p>
<p>Tidak ada. Saya cuma suka fotonya. Tapi bukan fotografernya. Tak ada photographer kegemaran.</p>
<p><strong>Apakah pengalaman fotografi anda yang paling buruk? </strong></p>
<p>Paling buruk adalah bila saya terlewat detik penting ketika membidik gambar. Juga persaingan dunia fotografi membuat dunia fotografi itu tidak nyaman lagi.</p>
<p><strong>Apakah boleh fotografi menyumbang sesuatu untuk pemberdayaan, dan pembangunan masharakat dan negara?</strong></p>
<p>Ya. Dunia pelancongan misalnya, dan masih banyak hal-hal yang lain lagi. Karena umumnya, orang senang melihat gambar daripada tulisan. Saya selalu berusaha untuk itu, untuk membuat orang ingin datang ke Indonesia.</p>
<p><strong>Tidakkah anda mahu jadi fotografer sepenuh masa? Mungkin dengan sepenuh masa, anda lebih bebas?</strong></p>
<p>Ya… tentu saja… <em>slowly but surely</em> saya harus menuju ke situ. Tapi persaingan sudah kian teruknya. Jadi, bayangan masa depannya tidak terlalu baik.</p>
<p><strong>Apa pesan anda kepada mereka yang ingin menjadi fotografer?</strong></p>
<p>Pesan saya: Tidak usah menjadi fotografer jika ingin kaya!</p>
<p>&nbsp;<strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2008/10/auschwitz-dan-warga-palestin/" rel="bookmark" title="11 Oktober, 2008">Dari Auschwitz ke Palestina</a></b> admin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/05/wittgenstein-dan-bahasa/" rel="bookmark" title="18 Mei, 2010">Wittgenstein dan Bahasa</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/10/idealis-revolusioner-antara-shariati-dan-motahhari/" rel="bookmark" title="15 Oktober, 2010">Idealis Revolusioner: Antara Shari&#8217;ati dan Motahhari</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/12/tiga-puisi-roslan-jomel/" rel="bookmark" title="5 Disember, 2010">Tiga Puisi Roslan Jomel</a></b> Roslan Jomel</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2007/04/umat-muslim-harus-turut-melumpuhkan-ideologi-al-qaeda/" rel="bookmark" title="14 April, 2007">Umat Muslim Harus Turut Melumpuhkan Ideologi Al-Qaeda</a></b> admin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/04/mazhab-frankfurt/" rel="bookmark" title="22 April, 2010">Mazhab Frankfurt</a></b> Aqil Fithri</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 33.996 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2011/12/rarindra-prakarsa-fotografi-adalah-jalan-pintas-memiliki-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Martin Suryajaya: Alain Badiou dan Ontologi Politik</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2011/10/martin-suryajaya-alain-badiou-dan-ontologi-politik/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2011/10/martin-suryajaya-alain-badiou-dan-ontologi-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 08:45:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aqil Fithri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Alain Badiou]]></category>
		<category><![CDATA[Aqil Fithri]]></category>
		<category><![CDATA[Louis Althusser]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Heidegger]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Suryajaya]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pierre Bourdieu]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=3158</guid>
		<description><![CDATA[Anak muda yang bernama Martin Suryajaya ini telah menulis dua buah buku <i>Imanensi dan Transendensi</i>dan <i>Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme.</i> Aqil Fithri berkesempatan menemubual beliau seputar Alain Badiou dan ontologi politik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3161" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//badiou_major.jpg"><img class="size-full wp-image-3161" title="badiou_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//badiou_major.jpg" alt="" width="600" height="406" /></a><p class="wp-caption-text">Alain Badiou © Eric Fougere/VIP Images/Corbis</p></div>
<p>Politik tak hadhir dengan begitu saja. Politik itu sentiasa menuntut representasi. Politik yang terputus dengan representasi &#8211;kalau dalam bahasa Juergen Habermas&#8211; adalah adalah politik yang kehilangan legitimasi. Tapi, yang kita mahu membicarakan di sini bukannya Habermas. Tapi lawannya, Alain Badiou. Filsuf kontemporer Perancis ini terkenal dengan wacana ontologi politik, dan cuba mempermasalahkan kembali hubungan antara premis-premis politik dewasa ini. Ini yang secara serius diungkapkan Badiou menerusi bukunya, <em>Being and Events</em>, sebuah buku tebal yang disusuli lagi dengan sekualnya, <em>The Logic of Worlds</em>. Soalnya, siapa yang mahu melihat pentingnya soal ontologi politik ini? Politikus mana yang berminat? Sulit untuk berharap, tatkala sebuah kekuasaan di tangan yang cuba melarikan diri (atau, memanipulasi) dari representasi. Maka, berharap pada kolektivisme itu barangkali mampu menyelamatkan kembali apa yang sesungguhnya menjadi cita-cita murni politik. Justeru, Maois selalu disalah ertikan. Justeru, MARTIN SURYAJAYA, yang merupakan didikan STF Driyarkara cuba menjernehkan kembali persoalan &#8220;ontologi politik&#8221; ini. Tentunya, ia banyak berkaca pada Badiou. Di sini, AQIL FITHRI telah berkesempatan menyorot buah-buah pemikirannya. Wawancara ini dijalankan secara lisan, ditranskripsi, dan disunting kembali oleh anak muda ini, yang dalam usianya secara menakjubkan telah menulis dua buah buku &#8220;Imanensi dan Transendensi,&#8221; dan &#8220;Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme.&#8221;</p>
<p><strong>Ontologi politik, adalah wacana yang sering terlupakan. Sebetulnya, apa yang dimaksudkan dengan ontologi politik?</strong></p>
<p>Sejauh yang saya baca dari filsafat Perancis kontemporer —sepertimana yang dikembangkan oleh mereka— teori ontologi mereka berimplikasi secara langsung kepada pandangan politik mereka. Implikasi ini sehinggakan mereka mahu menggariskan suatu kritik terhadap representasi—yang mulanya merupakan konsep ontologis dari falsafah modern. Mithalnya mereka yang membicarakan soal ontologi politik ini sudah memaparkan dasar-dasar dari kritik atas logik demokrasi parlimenter. Menurut kalangan ini, sistem parlimenter itu sebetulnya didukung oleh klaim-klaim representasi dalam ontologi. Jadi ontologi dan politik itu bukanlah dua ranah yang berbeza. Kedua-duanya mesti diandaikan sebagai suatu kesatuan. Adanya sesuatu selalu bererti ada bersama yang lain dalam pengelompokan yang tertentu, dalam organisasi yang tertentu. Ertinya, &#8220;ada&#8221; bererti &#8220;ada-dalam-politik.&#8221;</p>
<p>Saya fikir, intuisi &#8220;ada&#8221; ini memang diungkapkan oleh Alain Badiou. Dalam beberapa karyanya, Badiou memunculkan kembali teori Marx tentang kesatuan antara teori dan praktik. Ini bererti antara tindakan dan fikiran itu tak ada beza sama sekali. Memang, ini juga adalah diskusi klasik, iaitu dari satu sisi, ada fikiran yang mengetahui, dan di satu sisi yang lain, ada materi yang diketahui. Tapi, Badiou sendiri pernah menyatakan bahawa tesis dasar filsafat adalah tesis dasar Parmenides. Ertinya bahawa antara Ada dan fikiran itu satu dan sama. Sebab itu, tak ada jarak antara keduanya itu. Nah, di situ juga Badiou memaksudkan kesatuan itu sebagai konsistensi dalam politik. Badiou di sini menyentuh mengenai pentingnya sikap dasar. Politik mestilah mempunyai sikap. Setiap politik yang emansipatoris sejati mestilah bermula dari aksiom atau postulat. Justru, ranah politik inilah yang berfungsi sebagai sikap dasar itu. Maka, orientasi yang mempunyai sikaplah yang selayaknya tampil berdebat tentang makna emansipasi.</p>
<p><strong>Bagaimana untuk meletakkan Badiou dalam konteks dewasa ini?</strong></p>
<p>Jadi, jelas bahawa politik mesti mengandaikan suatu sikap dasar itu. Ini sikap Badiou. Lalu, setiap kritik Badiou ini ternyata cocok dan kontekstual sekali dengan waktu sekarang. Sebab, dewasa ini kita lihat politik sepertinya kehilangan, atau persis tak mempunyai sikap dasar. Yang dimaksud sikap dasar ini adalah soal kerangka analisis atas situasi. Jadi politik yang bersikap dasar bererti politik yang berasaskan pada pemikiran. Dan sikap dasar ini, bagi Badiou, harus ilmiyah, tidak sekadar normatif. Dewasa ini, sebaleknya, politik jatuh pada moral dan itulah yang sebabkan kenapa dewasa ini banyak sekali tindakan politik yang mengatas-namakan moral: entah agama, entah ideologi etnik maupun entah “etika” kapitalisme (semangat pengejaran laba secara individu). Posisi Badiou berlawanan dengan reduksi politik pada moral macam itu. Baginya, politik mesti berdasar pada asumsi yang boleh diuji secara ilmiyah. Dengan cara itu, kita dapat memerangi fundamentalisme dalam berbagai bentuknya dewasa ini dan sungguh berfikir tentang emansipasi nyata.</p>
<p><strong>Di mana secara tepat Badiou mengungkapkan hal ini?</strong></p>
<p>Kalau tentang kritikan terhadap represantasi, itu Badiou tulis dalam bukunya <em>Metapolitics</em>. Juga ada tercatat dalam karya monumentalnya, <em>Being and Event</em>, itu. Kalau dalam <em>Being and Event</em>, aksiom atau sikap dasar itu dirumuskan secara ontologis-matematis, sementara dalam <em>Metapolitics </em>aksiom dirumuskan secara politis.</p>
<p><strong>Apakah ada sisi ontologi politik yang lain, selain soal representasi yang dikritik Badiou?</strong></p>
<p>Selain representasi? Badiou juga mengkritik logika mediasi, <em>logic of mediation</em>. Ini kerana representasi itu, bagi Badiou, adalah sama dengan mediasi. Ertinya, kritik Badiou ini mahu menunjukkan bahawa politik emansipatoris sejati tampak dalam penolakkannya pada mediasi. Ini maksudnya, kita kembali pada sumber inspirasi Marx mithalnya “masharakat tanpa kelas” di mana masharakat hadhir langsung tanpa representasi atau mediasi. Sebaleknya, dalam perspektif penguasa, masharakat yang kehadhiran elemennya tak “dihadhirkan kembali” atau distruktur-ulang ini tak bermakna. Dengan kata lain, dalam perspektif penguasa, representasi adalah perlu dan nescaya. Emansipasi atas situasi, kerana itu, bererti pengakhiran atas representasi. Kerana itu juga, sisi ontologi politik yang lain adalah pemikiran tentang presentasi yang terbebas dari representasi/mediasi. Hanya dalam erti itulah kita boleh bicara tentang demokrasi dalam erti yang paling utuh.</p>
<p><strong>Tapi, bukankah &#8220;masharakat tanpa kelas&#8221; itu memang mashrakat yang jelas-jelas sudah tak punya representasi?</strong></p>
<p>Tentu saja. Ertinya, mengapa saya menyebut Marx, itu kerana sikap dasar atau aksiom Marx adalah ide tentang presentasi murni, iaitu masharakat tanpa kelas. Jadi memang tak ada representasi di sana. Memang betul bahawa dalam sejarahnya ide “masharakat tanpa kelas” justeru terjebak dalam representasi. Tentu kita ingat tentang persoalan birokratisme Soviet Union dahulu. Dan, itu sebenarnya adalah kebalekan dari orientasi dasar Marx berkenaan dengan presentasi murni. Tetapi, kalau kita bicara <em>Realpolitik</em>, terkadang representasi tak boleh dihindari. Tentu kita tak pernah lihat masyarakat yang tertata tanpa birokrasi. Persoalannya adalah apakah struktur representasi itu tunduk pada presentasi dasarnya atau tidak: kalau ya, maka kita bicara tentang “masharakat tanpa kelas”. Tapi kalau tidak, maka kita bicara masharakat berkelas.</p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_3165" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"></strong><strong><a href="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//suryajaya_major.jpg"><img class="size-full wp-image-3165" title="suryajaya_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//suryajaya_major.jpg" alt="" width="250" height="243" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Martin Suryajaya © Aqil Fithri</p></div>
<p>Bagaimana sikap Heidegger dalam soal ontologi politik ini? Bahkan ada buku yang ditulis Pierre Bourdieu, The Political Ontology of Martin Heidegger.</p>
<p>Memang, ontologi politik boleh juga dilacak dari Heidegger, kerana sumber pemikiran falsafah Perancis kontemporer itu datangnya dari Heidegger. Salah satu mithalnya, komentar Heidegger di Perancis yang banyak berbicara soal ontologi politik, yang Jean-Luc Nancy secara tersirat membicarakan mengenai ontologi politik. Ia dengan Philippe Lacoue-Labarthe itu adalah berteman dan murid kepada Derrida, dan mereka sebenarnya turut terinspirasi dari Heidegger. Tapi, kemudiannya mereka merumuskan suatu ontologi politik sendiri.</p>
<p>Sikap Heidegger sendiri soal ontologi politik dapat kita lihat, mithalnya, dalam <em>Introduction to Metaphysics</em>.  Di bahagian awal buku itu Heidegger menulis bagaimana situasi filsafat kontemporer adalah tersepit di antara liberalisme Amerika dan komunisme Soviet Union. Lalu dia berbicara soal Takdir Bangsa Jerman yang akan membebaskan dunia dari dua bahaya itu melalui pemahaman yang baru atas Ada. Ertinya, di situ Heidegger melihat kesatuan antara ontologi (pemahaman atas Ada) dan politik (bangsa Jerman). Tapi pengertian Heidegger tentang ontologi politik ini bermasalah kerana pandangan ontologinya—bahawa manusia mesti bersikap pasif dengan membiarkan Ada memperlihatkan-dirinya tanpa campur tangan manusia—akan berimplikasi pada penghancuran politik itu sendiri: politik direduksi pada kepasifan, dengan kata lain, pada non-politik. Ertinya, dalam Heidegger ontologi justeru membatalkan politik, sejauh kita mengerti politik sebagai perkara emansipasi.</p>
<p><strong>Bagaimana hubungan antara budaya dengan ontologi politik? Apakah bila adanya perubahan budaya, juga bermakna adanya perubahan ontologi politik?</strong></p>
<p>Budaya adalah bagian dari apa yang ada. Oleh kerana itu, ontologi dalam erti yang luas juga merupakan teori tentang budaya, sepertimana ontologi juga merupakan teori tentang politik.  Hubungan antara budaya dan ontologi politik selalu disifatkan oleh kontinjensi (<em>contingency</em>), iaitu dalam kondisi yang selalu boleh berubah. Seperti pernah dikatakan oleh Louis Althusser, hubungan antara basis ontologis dan suprastruktur budaya adalah hubungan “overdeterminasi” (<em>overdeterminacy</em>). Pada dasarnya, situasi yang ada menentukan budaya (ontologi menentukan budaya), tetapi begitu budaya terbentuk maka budaya akan memiliki <em>its own internal coherence</em>. Dengan demikian, budaya bekerja dengan logikanya sendiri yang pada akhirnya juga menentukan situasi sebagai salah satu bahagian darinya. Tak ada hubungan sebab-akibat yang linear antara ontologi dan budaya, antara ontologi dan politik. Dan, justeru kerana itu kita boleh bicara tentang kesatuan ontologi-politik dan bukan dikotomi antara sebab dan akibat.</p>
<p><strong>Selain representasi, apakah ada unsur lain yang membuktikan adanya ontologi dalam politik?</strong></p>
<p>Selain representasi dan presentasi, hadhirnya pandangan ontologis dalam politik juga boleh kita lihat dalam setiap <em>assessment </em>terhadap situasi politik apapun. Dalam setiap <em>assessment </em>itu, kita selalu dapat melihat adanya asumsi tentang hakikat situasi. Dalam asumsi politik itu, dengan kata lain, terletak ontologi. Kerana dalam ertinya yang luas, ontologi—sebagai ilmu tentang apa yang ada—dapat juga bererti ekonomi yang menjadi basis dari sebuah situasi. Tak ada <em>social phenomenon </em>apapun tanpa produksi material yang membuat <em>phenomenon</em> itu ada. Di situ, ekonomi memiliki status ontologis dalam politik masharakat kita. Begitulah saya fikir.</p>
<p><strong>Jadi, apakah Badiou memberikan alternatif?</strong></p>
<p>Badiou memang memberikan alternatif. Itu berupa semacam seruan kembali untuk memikirkan “hipotesis komunis” (<em>communist hypothesis</em>). Badiou mendefinisikan “hipotesis komunis” sebagai hipotesis egalitarian dasar bahawa semua orang adalah setara dan mampu berfikir. Alternatif ini adalah soal presentasi murni yang inheren dalam ide tentang &#8220;masharakat tanpa kelas&#8221;. Ini, menurut Badiou lagi, tetap merupakan misi emansipotoris yang dibilangnya dalam buku &#8220;The Meaning of Sarkozky&#8221; (2008). Baginya, hanya ada satu hipotesis yang benar-benar nyata, iaitu &#8220;hipotesis komunis&#8221;. Ini kerana setiap hipotesis yang beranjak keluar dari hipotesis ini pastinya akan terjatuh ke dalam ekonomi liberal. Ini ertinya akan melupakan erti yang mendasari terhadap apa yang ingin kita capai, iaitu presentasi yang setara dalam masharakat. Ini dalam bahasa Marx, adalah &#8220;masharakat tanpa kelas&#8221; itu. Dan Badiou dengan baik menunjukkan bahawa persoalan kita sekarang bukan lagi persoalan untuk mempraktikkan hipotesis tersebut. Bukan itu. Juga bukan untuk memperjuangkan komunisme seperti abad ke-20. Bukan itu. Tapi, ini yang penting, adalah usaha untuk menunjukkan bahawa hipotesis itu sendiri ada dan membuktikan kebenarannya sehingga dapat berdepan dengan konteks ekonomi liberal yang begitu menghegemoni seperti sekarang ini.</p>
<p><strong>Tapi, apakah itu kembali lagi sebagai sebuah utopia?</strong></p>
<p>Tidak. Kerana utopia adalah citra khayalan, sementara hipotesis adalah aksioma yang rasional. Utopia bererti harapan yang tak boleh tercapai, seperti ufuk langit yang terus menjauh ketika didekati. Utopia bererti tujuan. Hipotesis komunis bukan tujuan. Melainkan titik berangkat analisis. Mithalnya, dengan menjadikan hipotesis bahawa semua orang setara dan dapat berfikir sebagai sebuah perspektif, maka kita dapat menunjukkan bahawa demokrasi parlimenter bukanlah bentuk politik yang setara sebab demokrasi parlimenter mengasumsikan bahawa tidak setiap orang dapat berfikir sendiri sehingga harus diwakili oleh parlimen. Di sini kita dapat tengok bahawa “komunis” atau “komunisme” yang tersirat dalam “hipotesis komunis” bukanlah suatu tujuan di ufuk tertentu melainkan sifat dari sebuah perspektif yang dijalankan dalam menganalisis persoalan politik.</p>
<p><strong>Tapi, bagaimana proses untuk melaksanakan projek ini?</strong></p>
<p>Proses itu diterangkan Badiou dalam buku <em>Being and Event</em>. Singkatnya, emansipasi yang berbasis pada hipotesis komunis akan terjadi melalui perubahan paradigma berfikir dalam sebuah situasi. Institusionalisasi dari paradigma yang baru akan mengubah situasi itu secara menyeluruh sehingga tercipta tatanan yang baru, yang lebih emansipatoris dari sebelumnya. Bentuk nyata dari proses emansipasi ini adalah pembentukan “dewan-dewan rakyat” (<em>communes</em>). Badiou banyak terilhami oleh peristiwa Komune Paris pada tahun 1871. Ini boleh kita lihat dalam buku barunya, <em>The Communist Hypothesis</em>. Ia nyatakan di sana bahawa dalam format dewan rakyat itulah politik presentasi murni (atau politik komunis) terwujud. Akan tetapi, strategi yang ditawarkan Badiou untuk sampai ke sana hampir boleh dikatakan bukan strategi sama sekali kerana ia menolak sama sekali regim kepartaian dan perjuangan elektoral atau bentuk gerakan apapun yang bersentuhan dengan negara. Dalam konteks strategi, Badiou sungguh tak punya tawaran tentang itu. Ini memang kelemahannya.</p>
<p><strong>Adakah Badiou turut melihat politik dewasa ini sudah dimanipulasi oleh faktor-faktor yang bukan pada dirinya lagi. Maksudnya, politik kini telah kehilangan identiti murninya?</strong></p>
<p>Badiou melihat bahawa politik dewasa ini adalah politik yang dilakukan tanpa ide apa-apa pun. Yang ada hanya ide tentang keselamatan dan tentang kesuksesan, dll. Bagi Badiou, itu sama sekali tidak berhubung dengan politik. Kerana politik bagi Badiou adalah tentang kesetaraan. Politik, bagi Badiou, adalah tentang pembebasan masharakat dalam kesetaraan. Di luar itu hanya ada kepentingan ekonomi dalam baju moral.</p>
<p><strong>Namun, apakah &#8220;masharakat tanpa kelas&#8221; seperti yang kembali dicita-citakan oleh Badiou tetap berakhirnya pada hubungan subjek-objek?</strong></p>
<p>Kritik Heideggerian atas hubungan subjek-objek sebetulnya sejalan dengan kritik Badiou atas representasi. Sebabnya kerana hubungan subjek-objek yang dikritik Heidegger sebetulnya adalah hubungan representasi (iaitu soal bagaimana subjek merepresentasikan objek dalam kesedaran). Dalam erti ini, “masharakat tanpa kelas” adalah tatanan sosial yang melampaui hubungan subjek-objek. Inilah juga yang dikatakan oleh Marx dalam <em>Economic and Philosophical Manuscripts of 1844</em>. Ia nyatakan di sana bahawa dalam tatanan kapitalis, hubungan antara manusia tampak menjadi hubungan antara komoditi. Dalam konteks itu, manusia direduksi menjadi “pekerja-upahan” (<em>wage labourer</em>) yang merupakan instrumen produksi, ibarat barang atau objek di hadapan kapitalis sebagai subjek. Maka itu, pelampauan atas kapitalisme secara logis bererti pelampauan atas hubungan subjek-objek. Saya fikir, Badiou juga memahami hal yang sama dengan model “dewan rakyat”-nya.</p>
<p><strong>Persoalan yang Badiou kemukakan ternyata banyak berkisar mengenai politik. Hal yang penting dalam politik adalah juga persoalan negara. Maka, apakah Badiou sampai mengkritik sistem negara itu?</strong></p>
<p>Sudah tentu! Badiou mengkritik sistem negara dengan cukup keras, dan tunjukkan landasan ontologi dari konsep negara. Di sana, Badiou jelaskan bahawa representasi selalu berfungsi untuk menghapuskan suatu “kelebihan” (<em>excess</em>). Yang dimaksud dengan “kelebihan” ini adalah segala pehak yang tidak diperhitungkan dalam sistem politik yang ada tetapi sekaligus menjadi dasar dari adanya sistem itu sendiri. Yang tak terhitung inilah yang cuba direpresentasikan melalui kategori “rakyat”, mithalnya. Dengan berbicara melalui kategori “rakyat” seolah-olah kita boleh menghitung semua yang ada dalam situasi politik nasional. Demokrasi parlimenter dibangun dengan representasi serupa itu. Masalahnya: “rakyat” adalah kategori yang mengabstraksikan segala kekhasan dari orang-orang yang ditempatkan dalam kategori itu. Dengan kata lain, “rakyat” hanyalah nama bagi sesuatu yang sejatinya tak bernama. Mereka yang tak terhitung inilah yang direpresentasikan melalui para wakil dalam demokrasi parlimenter. Tetapi bagaimana mungkin merepresentasikan sesuatu yang tak terhitung? Demokrasi parlimenter, kerana itu, adalah sistem representasi yang berdiri di atas kekosongan.</p>
<p><strong>Jadi, ternyata, sistem demokrasi itu bermasalah?</strong></p>
<p>Ya, sejauh demokrasi dimengerti sebagai sistem politik yang bergantung pada representasi atau perwakilan. Akan tetapi, bukan berarti Badiou menolak demokrasi sama sekali. Dengan model “dewan rakyat” <em>a la </em>Komune Paris, sebetulnya Badiou sedang berbicara tentang demokrasi. Tapi dalam bentuknya yang paling mendasar, iaitu demokrasi partisipatoris. Memang bahawa dalam Komune Paris juga ada perwakilan. Akan tetapi, sepertimana dilaporkan Marx dalam <em>Civil War in France</em>, rakyat memiliki hak <em>recall </em>yang boleh digunakan bila saja untuk mengganti wakil mereka. Jadi, kalaupun ada representasi, representasi itu tunduk pada presentasi dasarnya. Dengan begitu, Badiou masih seorang yang percaya pada ide dasar demokrasi, yakni “pemerintahan rakyat” (<em>demos-kratein</em>).<em> </em>Di sini terlihat bahawa Badiou tetaplah seorang Maois dan bukan anarkis.</p>
<p><strong>Apakah bedanya antara Anarkis dengan Maois?</strong></p>
<p>Anarkis adalah orang yang menolak segala bentuk pemerintahan kolektif/bersama. Orang-orang anarkis hanya percaya pada pemerintahan oleh diri mereka sendiri secara individu. Bagi mereka, seorang hanya boleh diperintah oleh dirinya sendiri. Sementara Maois adalah orang yang percaya pada pemerintahan kolektif. Seorang Maois akan memperjuangkan pemerintahan masharakat yang berada di bawah kendali masharakat itu sendiri—bukan para wakil. Inilah yang mahu dilakukan oleh Mao dalam Revolusi Kebudayaan di sekitar tahun 1966-1968: membangun kembali komune sebagai kekuatan masharakat yang independen terhadap partai.</p>
<p><strong>Terakhir, Anda menulis buku terbaru anda, &#8220;Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme.&#8221; Boleh Anda jelaskan tentang apa tujuan buku ini dihasilkan lebih-lebih lagi dalam susanana dunia yang berharap dengan demokrasi?</strong></p>
<p>Buku ini adalah pengantar menuju falsafah Badiou dalam hubungannya dengan Marxisme. Di dalamnya akan ditunjukkan bahawa Marxisme bukanlah totalitarianisme seperti yang banyak dikumandangkan dewasa ini, bahawa dalam Marxisme kita justeru dapat menemukan tesis dasar tentang emansipasi, iaitu ide tentang pemerintahan demokratis-partisipatoris. Pengertian tentang Marxisme sebagai ide tentang demokrasi non-parlimenter inilah yang dikemukakan lagi oleh Badiou dalam bentuknya yang baru. Dalam suasana dunia yang berharap dengan demokrasi, saya fikir buku ini akan memberikan sumbangannya tersendiri, iaitu dengan menunjukkan bahawa adalah keliru memandang Marxisme sebagai teori yang menolak demokrasi sama sekali, bahawa Marxisme yang direkonstruksi Badiou justeru memperdalam pengertian kita tentang demokrasi. Kepada para pembaca, saya harapkan buku ini dapat memberikan bahan pemikiran baru tentang hubungan antara falsafah dan emansipasi sosial-politik, iaitu bahawa emansipasi sosial-politik mensharatkan suatu <em>philosophical emancipation </em>yang akan menjadi dasarnya.<strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2012/01/negara-dan-representasi-politik/" rel="bookmark" title="17 Januari, 2012">Negara dan Representasi Politik</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2008/01/seni-bahasa-universal-agama/" rel="bookmark" title="19 Januari, 2008">Seni, Bahasa Universal Agama</a></b> admin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/08/rumpun/" rel="bookmark" title="25 Ogos, 2010">Rumpun</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/12/kritik-atas-libertarianisme/" rel="bookmark" title="20 Disember, 2011">Kritik atas Libertarianisme</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2007/02/menyingkap-jubah-ekstremisme-agama/" rel="bookmark" title="14 Februari, 2007">Menyingkap &#8220;Jubah&#8221; Ekstremisme Agama</a></b> admin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/05/legitimasi-gaji-minima/" rel="bookmark" title="18 Mei, 2010">Legitimasi “Gaji Minima”</a></b> Aqil Fithri</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 36.203 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2011/10/martin-suryajaya-alain-badiou-dan-ontologi-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sore di Kuala Lumpur</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2011/08/sore-di-kuala-lumpur/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2011/08/sore-di-kuala-lumpur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 10:39:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafiz Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Ade Paloh]]></category>
		<category><![CDATA[Atilia Haron]]></category>
		<category><![CDATA[Awan Garnida]]></category>
		<category><![CDATA[Belle & Sebastian]]></category>
		<category><![CDATA[Bembi Gusti Pramudya]]></category>
		<category><![CDATA[Black Sabbath]]></category>
		<category><![CDATA[Centralismo]]></category>
		<category><![CDATA[Couple]]></category>
		<category><![CDATA[Genesis]]></category>
		<category><![CDATA[Goenawan Mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[Guruh Soekarnoputra]]></category>
		<category><![CDATA[Hang Dimas]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ismail Marzuki]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Maliq & D'essentials]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Noh Hujan]]></category>
		<category><![CDATA[Ports of Lima]]></category>
		<category><![CDATA[Ramondo Gascaro]]></category>
		<category><![CDATA[Reza Dwiputranto]]></category>
		<category><![CDATA[Sore]]></category>
		<category><![CDATA[Sore di Kuala Lumpur]]></category>
		<category><![CDATA[The Beatles]]></category>
		<category><![CDATA[Tilu]]></category>
		<category><![CDATA[Wisma Bentley]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=3073</guid>
		<description><![CDATA[Sore adalah sebuah band yang unik dari Indonesia. Kesempatan mereka di Kuala Lumpur digunakan untuk menggali lebih dalam tentang musik yang mereka bawa. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3077" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-3077" title="sore_major2" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//sore_major2.jpg" alt="" width="600" height="286" /><p class="wp-caption-text">Sore ketika mempersembahkan lagu-lagu dari dua buah album mereka di Kuala Lumpur.  © Hafiz Hamzah</p></div>
<p>I.</p>
<p><span style="font-size: 48px; float: left; margin: -2px 2px -2px 0; line-height: 52px;">M</span>alam itu, lantai empat Wisma Bentley Mutiara Damansara di pinggir Kuala Lumpur perlahan-lahan mula dipenuhi. Dari pintu auditorium yang separuh terbuka, ruang dalam dibiar malap. Pentas yang tinggi dari lantai juga gelap. Di bahagian belakang dewan, beberapa orang bersiap di depan konsol audio, menunggu sebelum persembahan malam itu dimulakan.</p>
<p>Sebuah malam yang berbeza, ada rasa intimasi walaupun ketika itu alunan muzik belum satu pun dimainkan. Tetapi ambiennya terlebih dahulu menghantar rasa yang erat kepada audiens dan pelaku muziknya. Ruang sederhana besar, berpendingin hawa, tata cahaya ringkas tetapi aktif dan memikat serta penataan bunyi yang lebih terkawal adalah perkara-perkara yang melengkapi persembahan tiga band yang berkongsi pentas malam itu – Couple, Tilu dan yang diraikan, Sore dari Indonesia.</p>
<p>Atilia Haron dan Hang Dimas, selaku penggerak utama perjalanan acara malam itu membuka tirai dengan dengan celoteh ringkas sebelum memperkenalkan Couple. ”Ramai yang tak tahu, band ini sudah berusia 16 tahun,” jelas Dimas di dalam pengenalan ringkas tentang Couple. Selebihnya, band asal Malaysia yang menggelar genre muziknya sebagai ’power-pop’ itu memberikan suntikan tenaga pertama dari atas pentas melalui muzik mereka untuk terus menggerakkan momentum dan gegak-gempita instrumen yang ada dan merancakkan tempo.</p>
<div id="attachment_3275" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-3275" title="awan_re_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//awan_re_major.jpg" alt="" width="200" height="301" /><p class="wp-caption-text">Awan Garnida © Hafiz Hamzah</p></div>
<p>Di sisi sebelah kiri pentas, Awan Garnida tersenyum, ”Awesome,” katanya, dengan mata masih saja terpaku di pentas melihat aksi-aksi Couple yang sedang larut di dalam muzik mereka. Dewan itu juga, saya pasti, tetap merasakan hal yang sama, kalau pun selera muzik yang disimpan dalam diri malam itu lebih terarah untuk menikmati alun-alun melodi yang lebih tenang. Tetapi, Couple tidak mengecewakan – seperti mementaskan persembahan untuk teman-teman. Kurang lebih setengah jam mereka menghidangkan muzik cara Couple untuk dewan yang semakin dipenuhi.</p>
<p>Tilu kemudiannya naik memenuhi ruang pentas dengan barisan ahli-ahli dan instrumen yang membangun muziknya. Kali kedua menonton persembahan band ini, di dalam suasana yang lebih terkawal dan tertutup,  muziknya tetap sama; teratur, sedap didengar dan meriah dengan komposisi ulangan serta barisan instrumen yang pelbagai, mewarnai muzik ringkas mereka.</p>
<p>Sebelum dewan dan pentas gelap. Sebelum Hang Dimas memperkenal dan merasmikan jenama denim terbarunya – Easton Denim – dan sebelum Sore menggamit semua yang hadir dengan muzik segar yang melonjak nama mereka beberapa tahun ini di dalam lingkar penggemar muzik baru rantau ini.</p>
<p>Ketika <em>Vrijeman</em> membuka set, untuk seketika (atau mungkin saja berkepanjangan), suasana tak lagi sama malam itu. Bunyi-bunyian yang keluar dari setiap corong suara dan instrumen, walaupun tak sempurna, seperti bertukar menjadi cahaya dan warna-warni yang menyenangkan untuk kedua-dua mata dan telinga.</p>
<p>Sore tampil malam itu tidak sekadar menyanyi. Mereka bercerita, bermuzik dan menghiburkan hadirin yang ketika set mereka dimulakan, sudah memenuhi ruang dewan itu; baik yang duduk mahupun yang berdiri berhimpit-himpit di belakang. Yang bermain gitar dan bass, ketiga-tiganya kidal, dan hampir semua mereka bergilir untuk sama-sama menyanyi lagu-lagu Sore yang kebanyakannya <em>anthemic</em>. Terima kasih kepada Awan yang membuat persembahan Sore itu seringkali tak kering gusi, dengan jenaka-jenaka yang entah dapat ditangkap atau tidak oleh yang hadir.</p>
<p>Untuk sekitar dua jam berikutnya, yang ada untuk dihadapkan kepada semua adalah sebuah perjalanan muzik yang luar biasa. Emosi yang bersanding dengan energi sederhana pada setiap komposisi muzik Sore bersilih ganti untuk dinikmati. Tak banyak kata-kata yang mudah dipakai untuk mengungkap muzik yang dihasilkan Sore.</p>
<p>Barisan lagu-lagu seperti <em><a href="http://youtu.be/6h-ZM47_l-s">Mata Berdebu</a>, <a href="http://youtu.be/FslUbkRgVf4">Somos Libres</a>, Bogor Biru, <a href="http://youtu.be/jfotCM3579w">Merintih Perih</a>, <a href="http://youtu.be/as_66Hq3qIY">Setengah Lima</a></em> (sekadar menyebut beberapa nama), tak pernah gagal untuk menusuk dan meninggalkan kesan untuk diingati setiap yang hadir malam itu. Dan, ia boleh difahami mengapa persembahan malam itu begitu tekun disampaikan; Itu kali pertama selepas hampir setahun Sore tidak membuat persembahan <em>live</em>, terakhir ketika membuka pentas ketika persembahan Belle &amp; Sebastian tahun lalu di Jakarta.</p>
<p>Dan malam itu tentunya sebuah malam untuk diingati oleh semua yang menonton.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_3277" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-3277" title="sore_re_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//sore_re_major.jpg" alt="" width="600" height="284" /><p class="wp-caption-text">Dari kiri Ade Paloh, Ramondo Gascaro, Reza Dwiputranto, Awan Garnida dan Bambi Gusti Pramudya. © Hafiz Hamzah</p></div>
<p><strong>II.</strong></p>
<p>Dua album yang mengesankan. Untuk apa pun alasan, <em>Centralismo</em> (2005) dan <em>Ports of Lima</em> (2008) merupakan penawaran produk muzik yang ketika ia muncul, segera meniupkan udara baru. Sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh lima anggota tetap band Sore; Ade Paloh (AP), Ramondo Gascaro (RG), Bembi Gusti Pramudya (GP), Reza Dwiputranto (RD) dan Awan Garnida (AG) berhasil untuk mengunjurkan lanskap muzik rantau ini ke sisi baru yang sebelum ini belum lagi dihuni, agaknya.</p>
<p>Dengan dua album ini, muzik Sore segera diangkat; <em>Centralismo</em> termasuk senarai lima album paling berbaloi dibeli oleh majalah Time Asia. Rolling Stone Indonesia juga menobatkan kedua-duanya; tangga ke-40 bagi &#8217;150 Album Terbaik Indonesia Sepanjang Zaman&#8217; (<em>Centralismo</em>) dan Album Terbaik 2008 (<em>Ports of Lima</em>).</p>
<p>Petang sebelum persembahan, saya duduk di ruang penonton, melihat dari dekat sesi <em>soundcheck</em> mereka. Semuanya bersahaja, ringkas. Mungkin, sesi begini tidak terlalu merunsingkan kepala. Mungkin juga Kuala Lumpur sendiri tidak terlalu asing buat Sore. 2006, mereka muncul pertama kali bermain live di Little Havana, Changkat Bukit Bintang.</p>
<div id="attachment_3079" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-3079" title="reza_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//reza_major.jpg" alt="" width="600" height="399" /><p class="wp-caption-text">Reza Dwiputranto, gitaris dan vokalis Sore.                                                                                                                © Hafiz Hamzah</p></div>
<p>Itu belum dikira kunjungan-kunjungan kecil ketika promosi-promosi filem yang mana Sore ikut melengkapkan filem-filem berkenaan dengan muzik dan single mereka, antaranya filem Berbagi Suami – melalui <em>remake</em> lagu <em><a href="http://youtu.be/2JZjBnh-DZ4">Pergi Tanpa Pesan</a></em>. Persembahan terbaru ini boleh saja dianggap <em>showcase</em> terbesar pernah diadakan di Malaysia untuk khalayak, setelah malam sebelumnya Sore meraikan persandingan Noh dan Nina di dalam satu majlis tertutup.</p>
<p>Dari bilik persalinan belakang pentas, dibawa ke bahagian veranda luar auditorium di tingkat empat itu dalam tempoh waktu yang tersisa, saya mewawancara ringkas kelima-lima anggota Sore, yang berselang-seli menyatakan pandangan sendiri-sendiri, berbicara antaranya tentang muzik dan hal-hal seputarnya. Selebihnya adalah gelak ketawa yang menyenangkan.</p>
<p>Beberapa batang rokok berganti di bibir. Sebuah perakam suara, kamera DSLR, suasana petang yang tenang, habuk-habuk Mutiara Damansara yang terbang naik setinggi itu dan menemani sesi seterusnya. Transkrip wawancara ini sedaya upaya dibiarkan di dalam aturan seadanya perbualan itu, tentunya dengan sedikit-sebanyak perubahan dilakukan untuk memudahkan pemahaman latar yang ada.</p>
<p><strong>Bagaimana kamu melihat perjalanan Sore sebagai sebuah band?</strong></p>
<div id="attachment_3276" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-3276" title="ade_re_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//ade_re_major.jpg" alt="" width="200" height="301" /><p class="wp-caption-text">Ade Paloh © Hafiz Hamzah</p></div>
<p>AG: Sejak perkenalan kami sebagai teman-teman sekolah, muzik adalah sarana kami untuk berseronok. Kemudian, bermula tahun 2000 sekitarnya, kami mula menulis lagu. Ketika itu, kami hanya menghasilan lagu, merakam mungkin, tetapi tak pernah dimainkan kepada orang. Sehingga satu waktu, ketika Aksara Record ingin menjayakan satu projek kompilasi muzik. Maka Sore sebagai sebuah band bermula dari situ.</p>
<p><strong>Perkembangannya sehingga kini?</strong></p>
<p>AG: Sore sudah punya dua album, <em>Centralismo</em> dan <em>Ports of Lima</em>. Perbezaan antara keduanya mungkin album <em>Ports of Lima</em> itu menurut saya lebih kelam. Nama Sore itu sendiri menjelaskan hal ini; kami amat senang dengan suasana petang (sore). Tak terlalu panas, tapi masih terang. Sibuk, akhir dari keletihan.</p>
<p><strong>Kamu menyebut album kedua itu lebih &#8216;kelam&#8217;?</strong></p>
<p>AG: Misalkan saja untuk <em>Centralismo</em> itu petang sekitar jam tiga atau empat, dengan <em>Ports of Lima</em> pula &#8216;sore&#8217; semakin larut, mungkin tiba ke waktu senja, Maghrib. Boleh kamu bayangkan waktu Maghrib? Keluar rumah dan suasananya berlainan sekali.</p>
<p><strong>Waktu ini Sore bergerak sendiri, tidak ada lagi Aksara Records?</strong></p>
<p>AG: Ya Aksara sudah ditutup. Sekarang kami akan menerbit sendiri. Album ketiga juga masih di dalam perancangan, belum ada apa-apa yang bisa ditetapkan. Sekadar judul awal, <em>Los Skut Leboys. </em>Tetapi itu belum pasti. Kerana ramai yang bertanya, ”Kira-kira album ketiga namanya apa?” maka kami akan mengatakan; ”Kami memanggilnya <em>Los Skut Leboys</em>!” Itukan memudahkan kami juga (Ketawa&#8230;) .</p>
<p><strong>Apa maksudnya <em>Los Skut Leboys</em>?</strong></p>
<p>AG: Tak ada setepatnya. Itu saya kira sedikit Spanish, sedikit bahasa slanga Indonesia. Jadi kami menggabungkannya, mungkin kerana bunyinya lunak. Sama seperti Sore ketika menulis lagu-lagu kami.</p>
<p><strong>Bagaimana proses Sore menyusun/komposisi lagu, ada yang menjadi <em>mastermind</em>nya?</strong></p>
<p>AG: Jika ada satu materi lagu misalnya, kami tak pernah meletakkan apa-apa konsep kepadanya. Terus, sendiri-sendiri atau di studio, kami akan cuba mengisi antara satu sama lain.</p>
<p>RD: Jika di studio, Sore adalah sebuah usaha kolektif. Bertolak dari idea-idea komposisi yang longgar itu, Mondo yang biasanya akan bertindak selaku penyambungnya dan melengkapkan penghasilan sesebuah muzik itu.</p>
<p>AG: Dia chef, kami semua ini <em>ingredients</em>.</p>
<p>RD: Tapi semuanya tetap melalui proses <em>brainstorming</em> bersama. Masing-masing punya peran dan sumbangan antara kami.</p>
<p><strong>Berjalan sebagai sebuah band indipenden di Jakarta, adakah itu mudah? </strong></p>
<p>RP: Sebelum ini, kami bersama Aksara. Tetapi, untuk album ketiga yang akan datang, kami sebenarnya belum ada langkah yang pasti setakat ini.</p>
<p>AG: Dari album pertama, Sore mengambil masa yang agak lama untuk menyiapkan satu-satu album itu. Misalnya, jurang album pertama dan kedua saja sekitar tiga tahun.</p>
<p>RP: Kerana Sore sebenarnya bergantung mood, ketika menghasilkan muzik. Untuk itu, belum ada kepastian apa-apa setakat ini untuk album ketiga.</p>
<p>AG: Kalau dibilang senang (bergerak secara sendirian), itu bergantung kepada matlamatnya. Setakat ini kami semua menikmati muzik dan berseronok dengannya, mempersembahkan lagu-lagu yang ditulis dan album yang dirakamkan. Kemudian, membuat kesan yang sebaik mungkin kepada orang yang mengikuti album itu. Setakat ini juga, kita selalu saja ada jalannya untuk bergerak (dan mengembangkan muzik Sore). Jadi kalau dibilang mudah pun tidak, dan kalau nak dibilang terlalu sulit pun tidak. Terutama kami banyak juga terlibat dengan <em>soundtrack</em> filem misalnya. Jadi jalan itu selalu ada.</p>
<p><strong>Usaha terbaru Sore dengan produksi filem khabarnya bekerja bersama Joko Anwar kini?</strong></p>
<p>AG: Dia baru-baru ini ada mengumumkan di Twitter, dia ada menulis sebuah skrip yang diinspirasikan oleh muzik Sore, terutama lagu <em>Bogor Biru</em> dan lagu itu nanti bakal termuat dalam filem itu.</p>
<p><strong>Sore akan membuat penampilan di dalam filem itu juga?</strong></p>
<p>AG: Belum tahu. Ketika berbual-bual dengan dia, kemungkinan itu memang sudah bermain di fikirannya. Tetapi masih belum ada apa-apa kepastian tentang itu.</p>
<div id="attachment_3278" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-3278" title="bembi_re_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//bembi_re_major.jpg" alt="" width="200" height="301" /><p class="wp-caption-text">Bembi Gusti Pramudya © Hafiz Hamzah</p></div>
<p>BP: Tetapi, sebenarnya sebelum ini, di dalam setiap filem Joko, individu Sore ada membuat penampilan di dalamnya. Bermula dari <em>Janji Joni, Kala</em> dan <em>Pintu Terlarang. </em></p>
<p><strong>Bagaimana dengan lirik Sore?</strong></p>
<p>BP: Untuk lirik, hampir 70 peratus di tulis oleh Ade (Paloh).</p>
<p>AP: Lirik kebanyakannya yang dituliskan adalah tentang keadaan manusia. Hidup mereka, emosi dan sebagainya. Tapi kami bikinnya tidak secara literal. Mungkin lebih ke metaforik.</p>
<p><strong>Tentu ada inspirasi dari penulis-penulis lain?</strong></p>
<p>AP: Kita lebih banyak mengambil semangat penulisan Indonesia tahun 1970an. Indonesia tahun 70an itukan ambigu dan banyak tentang metaforik-metaforik alam yang dimasukkan ke dalam jiwa manusia. Begitu juga dengan lirik Sore. Kita banyak mengambil alam untuk lirik. Matahari misalnya pasti ada, persekitaran dan sebagainya. Tapi itu menjadi seperti perangkat komunikasi bagi lirik kami.</p>
<p><strong>Sore terdiri daripada pemuzik sepenuh masa?</strong></p>
<p>BP: Reza – pereka dalaman. Ade berniaga. Mondo dan saya komposer. Awan – mesin pencetak wang (ketawa). Saya dan Mondo memang membuat produksi muzik, biasanya untuk iklan tv, filem-filem dan komposisi untuk persembahan muzikal. Sebetulnya saya dan Mondo baru selesai menyiapkan muzik untuk <em>Onrop! The Muzikal</em>, hasil tangan Joko Anwar.</p>
<p><strong>Joko Anwar ini besar juga namanya untuk Indonesia dan Sore sendiri?</strong></p>
<p>BP: Ya, untuk lingkungan pembikin filem independen. Kerja-kerjanya <em>cutting-edge</em> jika dibanding kebanyakan pengarah filem lain.</p>
<p>AP: Harus diingat, kebanyakan filem-filem Indonesia waktu ini membuat filem-filem yang teruk sekali. Jelek sekali. Banyaknya tentang hantu, pocong dan sebagainya. Tetapi untuk Joko Anwar itu tidak. Filem-filem suspense, thriller, slasher, noir. Dia tergolong dilingkungan pembikin filem yang <em>edgy</em>.</p>
<p><strong>Sore sendiri menyanyikan lagu-lagu di dalam bahasa Indonesia dan Inggeris. Ada masalah untuk lagu-lagu bahasa Inggeris diterima di sana, berbanding yang berbahasa Indonesia? Kerana di Malaysia, penerimaan muzik dengan bahasa Melayu itu lebih meluas berbanding yang berbahasa Inggeris.</strong></p>
<p>AP: Di Malaysia kan orang bercakap juga dalam bahasa Inggeris? Itu menjadi penghalang (kepada penyampaian muzik)?</p>
<p><strong>Untuk saya, sepatutnya tidak menjadi masalah. Tetapi, penyerapan muzik untuk khalayak pendengar, adalah lebih mudah diterima jika disampaikan dengan bahasa Melayu.</strong></p>
<p>AP: Saya kira di Indonesia juga sama, tetapi tidak sampai menjadi masalah besar. Cumanya di Indonesia, bahasa nasional adalah bahasa Indonesia. Semua harus bisa bertutur di dalam satu bahasa itu. Bahasa Inggeris juga banyak digunakan. Itu tak jadi masalah.</p>
<div id="attachment_3279" class="wp-caption alignleft" style="width: 303px"><img class="size-full wp-image-3279" title="atilia_re_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//atilia_re_major.jpg" alt="" width="293" height="526" /><p class="wp-caption-text">Atilia Haron ketika mengacara majlis sebelum menyampaiakan sebuah lagu duet dengan Sore. © Hafiz Hamzah</p></div>
<p>III.</p>
<p>Atilia Haron, penyanyi jazz tempatan duduk menyertai Sore di pertengahan  perbualan ini. Beliau sempat merakam sebuah lagu bersama Sore tak lama dulu. Malam itu adalah pertama kali mereka mempersembahkan lagu berkenaan secara live bersama. Juga, sebuah video muzik untuk judul itu turut dipertontonkan. ”Saya sendiri belum menonton hasil akhir video berkenaan.” Di dalam perkembangan terbaru, penyanyi ini akan melancarkan albumnya, <em>Indah</em> untuk pasaran Indonesia, direncanakan  selepas Aidilfitri nanti.</p>
<p>Atilia mengulas ringkas tentang muziknya dan Sore&#8230;</p>
<p><strong>Atilia ada merakam lagu dengan Sore. Sudah dimainkan di Malaysia?</strong></p>
<p>AH: Ya. Sudah dimainkan di Malaysia. Video muzik pun baru saja kami disiapkan. Lagunya <em><a href="http://youtu.be/gq_jxcatNN8">Silly Little Things</a></em>, yang dimuatkan dalam album saya, <em>Indah</em> yang dilancarkan Jun tahun lepas. Tapi tak pernah dipertengahkan. Waktu itu <em>airplay</em> ada, tetapi kurang. Cuma sekarang sudah mula kerap dimainkan. Di Indonesia pun, dari maklum balas di laman Twitter, dah ramai orang yang dengar lagu ini. Malam ini adalah kali pertama video berkenaan dilancarkan dan dipertontonkan kepada umum.</p>
<p><strong>Kenapa Atilia tertarik dengan Sore untuk berduet?</strong></p>
<p>A: Sebab saya rasa mereka lain daripada band-band yang ada. Ini pemuzik kedua dari Indonesia yang saya pernah bekerjasama. Pertama, Maliq &amp; D&#8217;essentials. Menarik tentang Sore pada saya kerana mereka tak sekadar membuat lagu. Sore membawa pendengar untuk menjelajah jiwa, terutama  sebagai pemuzik. Susah nak jelaskan depan Sore sendiri, nanti mereka &#8216;kembang&#8217;&#8230; (Pertanyaan ini tersangkut di sini saja, dan disambut hanya dengan gelak ketawa semua yang ada.)</p>
<p><strong>Atilia kenal Sore sebagai sebuah band dahulu atau kenal muziknya terlebih dulu?</strong></p>
<p>AH: Saya kenal muzik mereka dulu. Saya dekati Sore pertama sekali melalui Facebook. Saya ke fanpage mereka, saya tulis saya berminat berduet dengan Sore, ini laman web saya. Kemudian mereka tengok laman web saya dan kata &#8216;Ok&#8217;. Lepas itu baru saya ke Jakarta, berjumpa pertama kali dengan Sore hanya untuk berbincang lanjut tentang duet ini. Lepas itu sekejap saja. Lagu tulisan Sore, saya dengar dan jatuh hati, kemudian ke Jakarta semula untuk rakaman, dalam tempoh dua hari siap dan balik rumah (KL). Dalam seminggu kemudian, Sore hantar <em>mix</em> lagu berkenaan. Semuanya sangat cepat. Itu saja. Selebihnya, siaplah lagu duet kami.</p>
<p><strong>Lagu berkenaan bukan sebagai <em>single </em>(untuk radio) dari album <em>Indah</em>?</strong></p>
<p>AH: Akan dijadikan <em>single</em> selepas <em>showcase </em>ini. Jadi, macam itulah. Macam mimpi kami akhirnya di sini untuk mempersembahkannya malam nanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>IV.</strong></p>
<p>Jumaat malam, 22 Julai 2011. Jam di tangan menjelang 11 malam. Saya berjalan menelusuri Jalan Thamrin, Jakarta seorangan, menuju simpang empat besar di hujung sebelah sana. Saya berencana untuk bertemu Ramondo Gascaro, selepas beliau tamat sesi latihan muzik malam itu. Oleh kerana orang-orang Jakarta gemar makan di larut malam dan kedai-kedai F&amp;B sekitar itu penuh, kami beralih ke kompleks Sarinah, berseberangan jalan.</p>
<p>Di situ lebih senyap, dan lebih tenang untuk berbual-bual. Wawancara ringkas ini mengambil tempat di Dunkin&#8217; Donuts. Saya bertanyakan kepada Mondo beberapa lagi perkara tentang Sore, sementara menunggu menjelangnya tengah malam yang sepi di tengah kota Batavia.</p>
<div id="attachment_3281" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-3281" title="mondo_re_major2" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//mondo_re_major2.jpg" alt="" width="200" height="301" /><p class="wp-caption-text">Ramondo Gascoro © Hafiz Hamza</p></div>
<p><strong>Album-album Sore kini semuanya habis terjual? Tak ada lagi dalam simpanan kalian?</strong></p>
<p>RG: Ya. Di dalam simpanan saya sendiri sudah tidak ada.Mungkin ada barangkali di toko-toko muzik yang masih menyimpan. Saya tak pasti.</p>
<p><strong>Semuanya berapa jumlah salinan yang terjual untuk album kedua?</strong></p>
<p>RG: Untuk album itu, cetakan pertama dikeluarkan 5,000 salinan. Kemudian, ia terus dicetak-semula beberapa kali. Saya tak punya jumlah akhir berapa yang terjual sebetulnya, disebabkan label itu (Aksara) sudah ditutup. Kalau mengikut perancangan, akan ada <em>re-issue</em> untuk album-album Sore tahun depan.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan progres lagu-lagu terbaru?</strong></p>
<p>RG: Belum ada apa-apa. Masih di dalam peringkat demo. Belum ada caranya lagi untuk dikembangkan ketika ini.</p>
<p><strong>Bagaimana proses Sore menulis lagu? </strong></p>
<p>RG: Biasanya <em>personil</em> punyai metari mentah. Untuk membangunkan sesebuah lagu, biasanya dikerjakan berdua atau bersendirian antara kami. Misalnya, jika Ade punya lagu, dah tak tahu bagaimana untuk dikembangkan, terus dibawa kepada saya. Kemudian ditulis liriknya. Kemudian diperdengarkan kepada yang lain untuk diberi pandangan. Begitulah selalunya.</p>
<p><strong>Kalau begitu, Sore sebagai sebuah band kerap berlatih bersama?</strong></p>
<p>RG: Untuk rakaman? Sebetulnya kami jarang berlatih bersama. Lebih kepada <em>brainstorming</em> untuk menentukan perjalanan sesebuah lagu itu. Jamming sekali sebagai sebuah band memang kurang. Kami bertumpu lebih kepada kerja rakaman (ketika di studio). Kalau<em> jamming</em> paling-paling berdua, atau bertiga. Dengan gitar akustik saja, untuk mencari bentuknya. Kalau proses menulis lagu, ya begini saja. Juga, bertukar idea untuk memperkemaskan lagi bentuknya. Setelah pasti dengan semuanya, baru kita rakam.</p>
<p><strong>Tempoh rakamannya juga saya kira mengambil masa yang lama?</strong></p>
<p>RG: Ya, memang lama. Melihat kepada dua album Sore yang ada, tempoh rakaman saja – dari materi mentah hingga di bawa ke studio – itu memakan masa hampir setahun. Sebenarnya setahun lebih. Cumanya banyak <em>break</em>. Satu lagu selesai, kemudian kosong. Jadi kerjanya banyak di studio. Ada juga beberapa lagu yang saya siapkan layoutnya dulu menggunakan MIDI atau program perisian muzik yang lain. Ini memudahkan kami untuk melihat dinamik sesebuah lagu. Selepas itu baru kita rakam <em>guide</em>, <em>track-by-track</em> dengan biasanya dram yang menjadi tunjangnya.</p>
<p><strong>Untuk menghabiskan waktu yang lama di studio rakaman itu tentunya melibatkan banyak wang. Jadi, untuk peringkat demo, Sore membuatnya sendiri di rumah atau bagaimana?</strong></p>
<p>RG: Untuk demo, ada yang dibuat sendiri tetapi kualitinya tidak kemas. Cuma, kebetulan waktu itu Sore bersama Aksara Records, pemiliknya mempunyai studio sendiri. Jadi, untuk dua album itu sesi rakaman Sore cukup lumayan dan bebas.</p>
<p><strong>Menurut kamu, apa yang membuatkan muzik Sore begitu menjadi? Lanskap muzik bagaimana yang Sore lihat banyak memberi inspirasi untuk band ini tampil dengan muzik yang lain dan segar? </strong></p>
<p>RG: Kalau dikira pengaruhnya, luas ya. Apa saja kami dengar, sejak zaman dahulu sampai sekarang. Tapi paling asas yang kita dengar itu The Beatles.</p>
<p>Tetapi, muzik kami tidak terarah kepada The Beatles, cuma semangat dan komposisi muziknya yang bebas itu dijadi acuan. <em>Songwriting</em> mereka juga bagus.</p>
<p><strong>Dalam konteks persekitaran di Indonesia, ada apa-apa momen yang memberi impak khusus kepada muzik Sore?</strong></p>
<p>RG: Mungkin kalau untuk budaya muziknya, yang menjadi titik penting di Indonesia itu pada tahun-tahun 1950an. Tempoh itu unik untuk sejarah Indonesia. Itu zaman setelah revolusi. Kemudian Merdeka pada Ogos 1945. Maka tahun 1950an itu amat menarik; berlangsungnya nasionalisme baru yang membuka Indonesia kepada budaya dari luar. Itu juga bagi saya <em>the first Golden Age of Indonesian music. </em>Yang bermunculan ketika itu antaranya seperti Ismail Marzuki, dan banyak lagi bintang-bintang radio zaman dulu. Muzik Melayu juga melonjak di zaman itu. Terus, period penting yang kedua ialah tahun 1970an. Muziknya Guruh Soekarnoputra, anak lelaki Soekarno misalnya, dia punyai band dengan muzik yang progresif sekali. Kemudian ketika 1980an, ketika pemerintahan Orde Baru. Di dalam tempoh inilah di mana semua kami membesar – 1980an. Semua kami lahir sekitar tahun 1975-76 dan membesar di tahun 80an. Dan ketika tempoh itu juga lagu-lagu di Indonesia ditulis dengan baik sekali.</p>
<p><strong>Kamu belajar muzik secara formal?</strong></p>
<p>RG: Saya pernah belajar muzik di Los Angeles. Tapi cuma bertahan dua semester, di Los Angeles City College – untuk Ijazah Sarjana Muda. Saya sebetulnya bersekolah SMA di sana, sejak 1990 hingga 1995, saya menetap di sana bersama sanak saudara. Ade (Paloh) juga di sana, mengaji jurusan perniagaan. Tetapi dia menetap di sana lebih lama, hampir 10 tahun. Jadi, untuk saya, LA juga kuat pengaruhnya terhadap diri dan perkembangan muzik peribadi saya. Ketika itu masih zaman <em>heavy metal</em>, yang sedang beralih kepada muzik alternatif. Dan yang sempat saya tonton di sana antaranya malah band lama; Genesis dan Black Sabbath (dengan ahli asal). Saya berusia sekitar 15 tahun ketika mula menetap di sana. Ketika akhirnya saya disuruh balik oleh orang tua saya, itu sebelum krisis ekonomi menjadi lebih runcing.</p>
<div id="attachment_3280" class="wp-caption aligncenter" style="width: 542px"><img class="size-full wp-image-3280" title="mondo_re_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//mondo_re_major.jpg" alt="" width="532" height="742" /><p class="wp-caption-text">Mondo, keyboardist dan vokalis Sore ketika di atas pentas. © Hafiz Hamzah</p></div>
<p><strong>Tentang pengaruh kata-kata Spanish dan Latin di dalam lirik Sore. Ada apa-apa yang membuatkan kalian senang menggunakan bahasa itu?</strong></p>
<p>RG: Oh, itu tidak ada apa-apa yang aneh. Cuma menurut kami bahasa Latin/Spanish itu <em>phonetic</em>, cara sebutannya juga tak susah dan mudah diingat; seperti <em>Centralismo, Essensimo</em> dan sebagainya. Terutama untuk lidah dari rantau ini. Itu saja, tidak ada apa-apa signifikan lain. Kalau Ernestito itu kebetulan nama anaknya Ade (Paloh).</p>
<p><strong>Penjelasan kamu ini sedikit-sebanyak menjawab pertanyaan saya tentang bagaimana pandangan muzik band ini dikembangkan dan membentuk acuan muzik tersendiri. Seperkara lagi, mungkin soalan yang terakhir; Di dalam album kedua, ada sebuah lagu berjudul <em>In 1997 The Bullet Was Shy</em>. Adakah lagu itu menyentuh tentang reformasi 1998 di Indonesia?</strong></p>
<p>RG: Oh, bukan,bukan. Itu Ade, yang menulis lagunya Ade. Lagu itu bercerita tentang masa kelamnya dia sewaktu di LA. Soal peribadi, tak ada apa-apa tentang period reformasi Indonesia.</p>
<p>Perbualan kami untuk sejam yang terakhir itu bercampur-campur. Ada menyentuh tentang kos sara hidup di Jakarta, ada menyebut tentang Goenawan Mohamad dan Komunitas Saliharanya serta tidak ketinggalan, isu berbangkit lagu <em>Terang Bulan</em> dan <em>Negaraku</em>, yang ketika di bilik hotel, saya dengan tak sengaja menonton sebuah berita dokumentari tentang sekelompok pengkaji Indonesia yang pergi menelusuri semula penghasilan lagu itu, mencari semula rakaman asal dan serba-serbi bukti lain tentang lagu katanya diciplak untuk dijadikan lagu kebangsaan Malaysia. Dan, diakhir rancangan tv itu, mereka khabarkan akan segera  membawa semua bukti dan rakaman yang diperolehi itu ke kedutaan Malaysia di Jakarta untuk diminta penjelasan. Di dalam muzik yang universal ini juga tetap ada kesempitan yang begitu.</p>
<p>&nbsp;<strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/06/sore-ports-of-lima/" rel="bookmark" title="18 Jun, 2009">Sore: Ports of Lima</a></b> Hafiz Hamzah</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/06/nada-segar-kuala-lumpur/" rel="bookmark" title="9 Jun, 2011">Nada Segar Kuala Lumpur</a></b> Hafiz Hamzah</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/01/butterfingers-kembali/" rel="bookmark" title="31 Januari, 2009">Butterfingers: Kembali</a></b> Hafiz Hamzah</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/03/kesan-efek-rumah-kaca-di-malaysia/" rel="bookmark" title="23 Mac, 2010">Kesan Efek Rumah Kaca di Malaysia</a></b> Hafiz Hamzah</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/02/nuansa-pop-sinikal/" rel="bookmark" title="10 Februari, 2010">Nuansa Pop Sinikal</a></b> Hafiz Hamzah</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/08/sore-satu-upaya-apresiasi/" rel="bookmark" title="14 Ogos, 2011">Sore: Satu Upaya Apresiasi</a></b> Ammar Gazali</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 36.930 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2011/08/sore-di-kuala-lumpur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opera Hidup II</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2011/05/opera-hidup-2/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2011/05/opera-hidup-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 06:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abror Rivai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Akira Kurosawa]]></category>
		<category><![CDATA[Ang Lee]]></category>
		<category><![CDATA[Angel and Demons]]></category>
		<category><![CDATA[Brian De Palma]]></category>
		<category><![CDATA[Francis Ford Coppola]]></category>
		<category><![CDATA[George Lucas]]></category>
		<category><![CDATA[M.Nasir]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Scorsese]]></category>
		<category><![CDATA[Nasir Jani]]></category>
		<category><![CDATA[Orson Welles]]></category>
		<category><![CDATA[Pyanhabib]]></category>
		<category><![CDATA[Roman Polanski]]></category>
		<category><![CDATA[Ron Howard]]></category>
		<category><![CDATA[Satyajit Ray]]></category>
		<category><![CDATA[Steven Speilberg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=2681</guid>
		<description><![CDATA[Bahagian kedua wawancara santai Abror Rivai dan Nasir Jani, pengarah filem Kembara Seniman Jalanan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bahagian terakhir wawancara bersama Nasir Jani tentang teater, musik dan filem. Sambungan dari <a href="http://jalantelawi.com/2011/03/opera-hidup/">bahagian pertama</a>.</em></p>
<p>Kuala Lumpur atau KL pada tahun seribu sembilan ratus lapan puluh lima bukanlah seperti hari ini. KL hanya sebuah ibu kota lesu yang tidak punya semangat zaman, yang nil inspirasi. Tidak keterlaluan jika ditelah, KL tidak lebih dari sebuah kota persinggahan anak muda mengejar mimpi-mimpi yang hebat. Tetapi isinya kosong.</p>
<p>Dalam tahun-tahun yang membosankan itulah, Nasir Jani baru pulang dari kota London. Selama tiga bulan sebelumnya, dia mengikuti kursus jangka pendek berkenaan pengarahan filem, yang dibiayai oleh Perbadanan Kemajuan Filem Nasional (Finas) berdasarkan potensi dan bakatnya untuk menjadi pengarah filem yang berjaya, satu hari nanti.</p>
<p>Pemergiannya bukanlah kerja sia-sia kerana tatkala di sana dia bukan hanya pergi belajar. Kesempatan berada di negara orang, lebih-lebih lagi kota besar seperti di London, dia memerhatikan gelagat hidup dan pertumbuhan sebuah kota seni yang membiak hingga ke isi perutnya. “Adegan busking dalam filem Kembara Seniman Jalanan merupakan ekspansion dari kenyataan (realiti). Masa itu, di KL belum ada penyanyi jalanan atau buskers yang menyanyi, melukis ataupun bersajak secara bebas di kaki lima. Abang mendapat inspirasi semasa berada di London kerana dapat melihat kejadian seperti itu (busking), yang juga merupakan aktiviti masharakat kota, yang lumrah terjadi di kota-kota seni yang hebat seperti di London ini, mahupun di kota lain seperti Paris dan New York.”</p>
<p>“Kalau diperhatikan dalam Kembara (Seniman Jalanan), semasa Bujang alias Jebat (M. Nasir) dan Osman Tikus (Pyanhabib) busking di jalan bawah tanah, ia seperti terjadi di London apabila abang melihat mereka busking di mana sahaja termasuk dekat subway. Masa itu, KL pun belum ada LRT lagi. Tapi abang fikir, hendak wujudkan sesuatu yang baharu di dalam filem abang sebab dengan cara itu kita dapat membawa pemikiran orang kita untuk lekas matang dan maju.” Cerita abang Nasir panjang lebar pada aku ketika menerangkan bahawa filem merupakan wadah terbaik untuk memajukan pemikiran manusia.</p>
<p>Oleh itu, Kuala Lumpur yang kita lihat di dalam Kembara Seniman Jalanan, yakni filem pertama arahan Nasir Jani, yang mana skrip ditulis oleh M. Nasir (sekarang Datuk) merupakan sebahagian daripada dunia impian orang muda, yang sifatnya mahu melakar sebuah sejarah hidup yang besar dan hebat. Orang muda yang menentang sebarang bentuk penindasan, pemerasan dan rampokan harta intelek yang tidak boleh diganti dengan u-wang. Bagi mereka, orang muda yang berjiwa seni, karya seni mereka adalah pegangan hidup dan dengan itulah mereka akan terus hidup!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>ABROR RIVAI: Dari susur galur sejarah filem Melayu, yang telah dihuraikan oleh abang sebelum ini, mahupun berdasarkan pembacaan saya dalam beberapa buah makalah, buku dan penulisan rencana dan kritikan filem, jelas menunjukkan <em>Kembara Seniman Jalanan</em> telah membawa perubahan setapak ke hadapan lagi, iaitu terhadap kelangsungan tema perjuangan orang-orang Melayu dalam menyatakan letak duduknya pandangan hidup mereka terhadap sesuatu isu. Kemudian, disusuli dengan filem kedua abang, <em>Rozana Cinta 87</em>, yang mana di dalamnya tersirat suatu hal yang belum pernah dibincangkan lagi secara terbuka iaitu lesbianisme, yang sedikit sebanyak merupakan dilema orang Melayu, yang pada masa itu menganggapnya sebagai tabu atau haram untuk disentuh (apalagi dibincangkan secara terbuka di dalam filem). Sebenarnya, di manakah peralihan filem-filem abang bergerak dari zaman sebelumnya &#8211; apakah dari sudut terbukanya abang menyatakan pandangan atau dari segi kenyataan-kenyataan yang tegas, yang abang zahirkan lewat filem-filem tadi? Apa yang abang hendak katakan dan mengapa?</strong></p>
<p>NASIR JANI: Sebab abang tak banyak direct filem. Abang boleh cerita setakat abang ini hanya sebagai pengarah filem yang hendak mengarah filem ketiga. Dia pada masa itu, dari segi attitude, musik adalah attitude kami pada masa itu. <em>Kembara Seniman Jalanan</em> sebuah filem, yang mana filem ini ada benda yang tak boleh tak disebut iaitu Kembara Seniman Jalanan (KSJ) ialah sebuah filem yang berkait dengan musik. KSJ tak boleh sama sekali berdiri sendiri sebagai sebuah filem sahaja. KSJ adalah sebuah musika dan visual, sekaligus. Untuk merumuskan KSJ dalam satu ayat, abang mengatakan; ia adalah video klip sepanjang dua jam! Itu sahaja. Sebab masa abang buat itu abang sebenarnya tidak sedar. Ia adalah pengalaman bawah sedar abang, yang ada pernyataan tapi pernyataannya apa? Itu abang tak tahu. Mulanya, KSJ bukanlah filem tentang cetak rompak. Asalnya, KSJ adalah tentang orang yang hendak cari benda yang positif, yang bermula dari bawah dan naik ke atas untuk mendaki kejayaan. Biasalah, filem pertama, jadi ikutlah semua teori semacam mana yang dipelajari seperti plot point twist dalam mencantikkan lagi naratif kita dan banyak lagilah. Kerana itu terhasillah cerita yang sebegitu mudah dan nampaklah pemahaman kita tentang apa yang telah dipelajari. Persoalannya, filem mesti ada energy dan ia bukan lahir kerana umur kita tapi bedasarkan berapa banyak input kreatif yang kita ada. Jadi, abang himpunkan semua sekali dan yang maseh belum cerna ialah masalah cetak rompak dan musik. Lepas itu, baharulah fikir hendak kembangkan skrip yang ditulis sebab mengapa tidak bukan? Skrip itu sendiri tumbuh mengikut pemikiran kita yang membesar. Baharulah tercetus idea untuk memasukkan isu cetak rompak dan menjadikan musik sebagai teras atau perkara pokok yang akan dikembangkan di dalam filem ini apabila ianya mula digambarkan. Sikit lebih kurang, dalam peringkat ini KSJ menjadi sebuah kerja sepasukan yang mantap. Semua yang korang tengok adalah apa yang sebenarnya terjadi dalam musik scene. Musik rock itu bermula dari <em>Blues Gang</em> dan <em>Sweet Charity</em>. Selepas itu baharulah lahir <em>Search</em>. Pernyataan itu semuanya terucap pada bahagian terakhir filem ini kerana kemudian dari itu, naskah ini berubah menjadi naskhah rakyatlah kira senang cerita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Boleh tak diceritakan bagaimanakah abang menjalani proses kreatif sebagai seorang pengarah filem. Sebab perjalanan hidup abang itu sendiri amat menarik dan berliku-liku. Dari seorang penggiat teater kepada seorang pengarah filem dan juga seorang penulis lirik. Dan dalam masa yang sama sebagai seorang karyawan yang menjadi jurubicara kepada orang-orang filem dan seni untuk menyampaikan perasaan dan isi hati secara terang, jujur begitu. Akhirnya, abang dipinggirkan. Apakah perasaan abang sebenarnya? Kalau saya membandingkan dengan perjalanan hidup pengarah filem yang besar dari negara luar seperti Orson Welles, misalnya.</strong></p>
<p>Begini, kita tengok dari sudut yang kecil ini dahululah. Nak mengesahkan abang akan mengarah filem ketiga pun abang tak berani. Macam yang Abror cakap itu beginilah. Hidup abang sendiri dan apa yang abang lalui itu sendiri adalah sebah filem – ia bagaikan skrip itu sendiri. Terpulanglah, Abror nak tuliskan ataupun tidak, apa yang abang cakap ini. Kalau katalah, ditakdirkan abang pergi (meninggal dunia) selepas ini, siapa yang nak direct abang punya cerita kena studylah, bacalah balik abang punya perjalanan hidup. Jadi, macam mana nak ceritakan perjalanan hidup abang sebagai pengarah filem sebab hidup abang ini sendiri boleh dijadikan filem. Di sini kita telah melihat banyak perkara terjadi. Dalam dunia ini abang boleh direct filem dan orang lain pun boleh direct filem. Jadi macam mana abang nak jawab macam mana abang punya pegangan hidup sebagai seorang pengarah filem? Itu pasal kalau dari segi karya, abang rasa kalau nak bandingkan dengan pengarah besar abang pun tak mahu sebab hal itu sangat klise. Pasal kita kena ingat, yang kita ini bukanlah Hollywood. Tapi kalau kita hendak dilihat atau hendak jadi macam Hollywood hanya ada satu cara: bajet! Eh kalau lu boleh bagi gua bajet sama macam Ron Howard buat itu <em>Angel and Demons</em> baharulah boleh cerita. Samalah juga macam Ang Lee yang boleh buat macam itu Hollywood bila dia ditawarkan bekerja di sana. Perkaranya di sini, apa yang lebih penting, bukanlah abang melihatnya sebagai negatif tapi jujurnya, tidaklah pernah abang ditawarkan sebegitu dan abang sendiri tidak pernah menawarkan diri untuk menjadi seperti itu. Abang rasa cukup selesa dengan apa yang abang kerjakan sekarang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jadi, filem-filem apa dan bagaimana yang pengaruhi abang pada peringkat awal sebagai pengarah filem. Berikan contoh-contoh?</strong></p>
<p>Hah, cantik! Pasal part ini memang abang suka. Abang sukakan karya-karya yang dihasilkan oleh Roman Polanski, Martin Scorsese, Francis Ford Coppola. Abang rasa, abang lebih kepada pengarah-pengarah filem cult kelahiran UCLA seperti George Lucas, Steven Speilberg dan teman seangkatan mereka. Abang membesar dengan filem-filem sebegitu. Hendak pula, umur juga tak jauh beda. Mereka senior lima ke sepuluh tahun sahaja. Masa itu, kita rasa bahawa inilah yang baharu. Angkatan generasi abang yang tengok filem mereka merasakan dan nampak bahawa benarlah pembaharuan yang ada dalam filem mereka boleh dicontohi. Kemudiannya, ia termasuklah Akira Kurosawa dan Satyajit Ray yang, yang di sini perlu disebut sebab mereka ini adalah susuk yang wajib kita pelajari jika kita masuk ke sekolah filem. Merekalah yang kita gelar The Godfathers. Ada juga yang lain, yang belum sampai ke tahap godfathers tapi sangat mempengaruhi dan sealiran dengan kemampuan kita untuk membacanya seperti Brian De Palma. Berbanding dengan filem-filem dari benua Eropah pula abang gemarkan karya dari Perancis seperti yang pernah abang tengok bertajuk Diva. Banyak juga karya lain yang abang lihat sebab mungkin terpengaruh dengan stail. Sebab filem ini berbagai-bagai tarikan. Ada filem yang isinya hancur tapi stail mengkagumkan. Sebaliknya, ada juga yang kita suka sebab isinya yang mendalam meskipun stailnya hancur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Okay. Tentang filem ketiga abang, macam mana, apa sudah punya skrip?</strong></p>
<p>Skrip ada! Memang selama ini pun abang layan menulis (skrip), sejak lima belas tahun dahulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hebat itu abang. Rasa saya, bagi siapa yang meminati abang, pasti menunggu sentuhan abang untuk filem yang akan datang. Baik, kita rumuskan sejak dari awal lagi dan tentunya kita harus berbalik kepada <em>Menunggu Kata Dari Tuhan</em>. Saya melihat teater ini satu pernyataan dan apakah yang penting bagi abang sebagai sutradara membuat sebuah teater rakyat. Sebab, sebenarnya ia akan dipentaskan kepada penonton yang bukan sahaja di kalangan peminat atau penggemarnya tetapi rakyat, yang mana ia lebih luas dari biasa dan pastilah lebih cabaran. Di sinilah kita dapat tengok karyawan turun kepada rakyat, baharulah real. Apakah jelas soalan saya?</strong></p>
<p>Jelas. Pasal macam abang cakap, ini benda memang tak dirancang – tapi dapat peluang. Tak terfikirlah abang selama ini nak buat sebab macam yang Abror cakapkan tadi, inilah peluang abang berdepan dengan penonton yang tak biasa tengok teater – jadi itulah cabarannya kan? Lagi satu, ini bukan sangat nak menjadi sukses sebab mencabarnya adalah pada cara kerjanya. Ini bukan nak hasilkan untuk dapatkan benda-benda yang tak nampak macam glamour ke apa ke&#8230; tak! Ianya satu cabaran tentang bagaimana aku nak kerjakannya untuk menjadi sebuah teater rakyat. Bayangkan kalau banyak orang minta (untuk dipentaskan lagi). Itulah peliknya naskhah ini sebab ia membesar dengan caranya sendiri. Kali terakhir abang mengarah teater pada tahun 1980-an, masa itu belum ada peralatan macam hari ini. Kalau menyentuh pengarahan filem pula, yang abang lupa nak ceritakan tadi ialah macam mana payahnya pengarah yang pernah mengarah sebelum adanya video assist sebagai panduannya untuk mengarah. Lain!!!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dari sisi kreativiti yang macam mana, pengarah dulu gunakan bagi mendapatkan shot sebaik pengarah yang dapat panduan video assist, seperti sekarang?</strong></p>
<p>Kenalah halus. Sebab pengarah akan kerja serapat mungkin dengan jurukamera kesayangannya atau director photography-nya untuk jalinkan kesefahaman. Caranya begini, pengarah akan lihat dahulu shot menerusi viewfinder, kemudian baharu serahkan pada jurukamera untuk mengendalikan pergerakannya. Katakanlah berlaku kesilapan, maka rakaman tersebut akan diulang sehingga betul (reshoot). Kalau di Hollywood mereka akan dapat melihat rushes (keratan filem yang telah dirakam) dalam tempoh yang singkat, misalnya shoot pagi boleh tengok rushes petang hari yang sama. Di sini, dahulu, setelah seminggu kita shoot baharu boleh tengok rushes sebab lab belum ada. Tengok, berapa banyak mencabar? Jadi, perbedaannya dahulu dan sekarang adalah terletak pada kepercayaan. Sekarang, macam manakah pula letaknya kepercayaan itu? Pada abang, dahulu kita tak ada video assist jadi kita kena berikan sepenuh kepercayaan pada kita punya jurukamera atau director of photography, hilang trust kita pada mereka hilanglah apa yang kita sebagai pengarah hendakkan. Kita hendakkan shot yang terbaik! Tapi, sekarang kita sudah ada video assist jadi apa yang perlu dipercayai lagi? Adalah diri kita sendirilah!</p>
<p>&nbsp;<strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/03/opera-hidup/" rel="bookmark" title="17 Mac, 2011">Opera Hidup</a></b> Abror Rivai</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/07/bagus-dalam-erti-apa/" rel="bookmark" title="20 Julai, 2011">Bagus dalam Erti Apa?</a></b> Abror Rivai</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/10/footage-dalam-filem/" rel="bookmark" title="23 Oktober, 2010">&#8216;Footage&#8217; dalam Filem</a></b> A. Sabri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/10/burung-hitam-dan-andy-warhol/" rel="bookmark" title="12 Oktober, 2010">Burung Hitam dan Andy Warhol</a></b> Abror Rivai</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/05/filem-sebagai-media-baru/" rel="bookmark" title="3 Mei, 2010">Filem Sebagai Media Baru</a></b> Abror Rivai</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/02/lalang-di-hujung-kaki/" rel="bookmark" title="23 Februari, 2011">Lalang di Hujung Kaki</a></b> Abror Rivai</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 42.079 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2011/05/opera-hidup-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opera Hidup</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2011/03/opera-hidup/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2011/03/opera-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 03:37:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abror Rivai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Abror Rivai]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar Juah]]></category>
		<category><![CDATA[Aziz M.Osman]]></category>
		<category><![CDATA[Aziz Sattar]]></category>
		<category><![CDATA[Dinsman]]></category>
		<category><![CDATA[Filem]]></category>
		<category><![CDATA[Hatta Azad Khan]]></category>
		<category><![CDATA[Jins Shamsuddin]]></category>
		<category><![CDATA[Mikio Mishima]]></category>
		<category><![CDATA[Mior Hashim Manaf]]></category>
		<category><![CDATA[Mustapha Noor]]></category>
		<category><![CDATA[Nasir Jani]]></category>
		<category><![CDATA[Normah Nordin]]></category>
		<category><![CDATA[Othman Hafsham]]></category>
		<category><![CDATA[Patrick Teoh]]></category>
		<category><![CDATA[Rahim Razali]]></category>
		<category><![CDATA[Shahrom Mat Dom]]></category>
		<category><![CDATA[Shuhaimi Baba]]></category>
		<category><![CDATA[Sudirman Haji Arshad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=2568</guid>
		<description><![CDATA[Tidak pernah dia berhenti. Namun, saat dia datang, ada yang mengatakan dia mahu buat <i>comeback</i>. Selalu dia membetulkan salah baca begini. Selama lima belas tahun, dia bukan menghilang. Ikuti wawancara dengan Nasir Jani, seorang pengarah filem.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//jani_major.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2570" title="jani_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//jani_major.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p><em>Wawancara santai dengan Nasir Jani tentang teater, filem dan musik</em></p>
<p><strong><em>Bahagian Pertama</em></strong></p>
<p>Pada tanggal tiga belas Mei, tahun duaribu sembilan, di pinggir ibukota dekat sebuah daerah lara yang maseh berbekas kesah dan luka. Lama tersimpan.</p>
<p>Dia tidak pernah berhenti. Namun, saat dia datang, ada yang mengatakan dia mahu <em>comeback</em> menyambung perjuangannya. Selalu dia membetulkan salah baca begini. Selama lima belas tahun, dia bukan menghilang. Dia meneruskan kegiatan seninya dengan menulis skrip dan menghasilkan karya dengan cara yang tersendiri. Seperti sekarang…</p>
<p>Di sebuah gudang (studio Pendita Pictures yang diusahakan oleh pelakon dan karyawan filem, Shoffi Jikan) yang jauh dari kesibukan kota, yang terhindar dari pencemaran akibat kurangnya oksigen di tengah kota batu yang sempit, kita dapat dengar suara dari percikan kata-kata ruhaninya yang sedang mengendalikan latihan pementasan teater “Menunggu Kata Dari Tuhan.” Padanya, malam adalah satu anugerah dan inspirasi. Ini, dunianya yang digaulinya cukup masak sejak berjinak dengan teater, filem dan musik lebih dua dekad yang lalu. Masih belum jauh suaranya hilang. Dan dia yang  dimaksudkan itu bernama <strong>Nasir Jani</strong>.</p>
<p>Di sela kesibukan latihan itulah, aku mewawancaranya dan kami berdiskusi sampai ke tengah malam buta sehinggalah ke waktu subuh, yang dinginnya sampai menggigit tulang dan mengecutkan hujung jari. Sesi yang turut disertai jurukamera video bernama Wadud, kami berbincang tentang seni dan hiburan yang berat-berat dalam suasana yang sangat bersahaja dan santai habis.</p>
<p>Pada mulanya, tujuan wawancara ini adalah untuk dihabisi menjadi sebuah filem dokumentari yang meskipun tidak epikologi, tetapi memadai untuk sebuah koleksi atau pun rakaman (dokumentasi) tentang zaman dan semangatnya yang maseh kuat. Disebabkan masalah pembuatan yang dikekang oleh kekurangan modal dan peralatan, setelah berbincang sekali lagi, aku mendapat persetujuan dia untuk menerbitkan diskusi kami dengan gaya penulisan wawancara sebegini. Jadi, santai-santai sahaja-lah membacanya, dan beginilah terciptanya sebuah cerita!</p>
<p><strong>ABROR RIVAI: Lama saya menunggu saat macam ini. Seingat saya, inilah pertama kali kita dapat bertemu dalam ruang dan kadar waktu yang selesa untuk memulakan diskusi kita tentang banyak perkara yang maseh terbuku, atau yang maseh tersimpan. Pertamanya, saya berterima kaseh kepada abang sebab setuju bersama kami, yang membolehkan kita adakan sesi seperti ini bagi mencari kebaikan. Jadi, mulanya saya hendak tanya, mengapa abang mengambil masa begitu lama untuk mengarah balik dan kenapa karya ini (<em>Menunggu Kata Dari Tuhan</em>) dipilih. Macam hujan, yang turun, yang misteri tentang bilakah akan berhenti, atau apa sebenarnya yang berlaku?</strong></p>
<p>NASIR JANI: Naskhah <em>Menunggu Kata Dari Tuhan</em> ini hasil tulisan Dinsman. Abang rasa kalau hendak cakap tentang niat karya ini, seharusnya Dinsman-lah yang lebih layak cakap. Dia menulis dan pernah mengarahkan drama ini, mula-mula di Kota Bharu. Masa itu dia ada audiens yang tertutup – untuk  kerabat Sultan – dan di Dewan Bahasa dan Pustaka Pantai Timur. Selepas itu yang betul-betul ada audiens, dari 29 April sampai 3 Mei yang lalu. Ia diadakan di Auditorium Negeri Selangor Shah Alam yang dilakonkan oleh Sabri Yunus dan musik oleh Sani Sudin. Ia sebuah pementasan selama lima  malam dengan penonton yang berbayar. Kali ini, ia berbeza dari pementasan terdahulu. Ia sebuah pementasan teater dari naskhah tulisan Dinsman dan dia juga bertindak sebagai penerbit tapi diarahkan oleh abang. Karya ini dilakonkan oleh Shoffi Jikan dan seorang bekas pemusik yang pernah terlibat dengan agensi kerajaan yang sudah pencen, yang sudah bebas, bernama Mah Bob akan menggantikan tempat Sani Sudin sebagai pemusik. Jadi saya ambil tenaga-tenaga ini kerana saya juga sudah lama tidak mengarah – baik teater, drama mahu pun filem.</p>
<p><strong>ABROR RIVAI: Jadi lebih kurangnya seperti abang sudah dapat <em>signal</em>, macam judul naskhah ini jugalah kot. Cuma, saya hanya tahu abang seorang Pengarah Filem. Ini teater pertama yang diarahkan, dan mengapa (buat teater)?</strong></p>
<p>NASIR JANI: Yang sebenarnya, abang bermula dengan teater. Masa itu di Institut Teknologi Mara (ITM, sekarang Universiti Teknologi MARA) dalam tahun 1975. Saya terlibat dengan produksi Kelab Teater KL (KL Theatre Club) dengan pementasan yang bertajuk Tun Kudu. Fatimah Abu Bakar berlakon sebagai Tun Kudu. Tenaga penggerak kelab teater ini&#8211;penggerak maknanya bukan dalam konteks dia jadi pengarah sahaja tapi adalah orang-orang yang bergabung tidak kira sama ada menjadi pelakon, petukang atau apa sahaja&#8211;terdiri daripada arwah Mustapha Noor, Shuhaimi Baba, Normah Nordin, Abu Bakar Juah, Mior Hashim Manaf dan ramai lagi. Berdasarkan pengalaman sendiri pula, tahun 1977 abang tamat di ITM dan keluar, terus terlibat dengan pementasan. Abang mula mengarah teater adalah pada tahun 1978 dengan mengarah teater pendek. Naskhah pertama yang diarahkan adalah bertajuk <em>Mayat</em> hasil tulisan Hatta Azad Khan. Masa itu naskhah <em>Mayat</em> ini memang terkenal dan sudah banyak orang buat. Tapi abang membuatnya dengan cara yang lain iaitu menjadikan mayat itu<em> zombi</em>e. Abang bermain dengan kostum dan entah macam mana mungkin ada elemen budaya pop (<em>pop culture</em>). Pasal itu semua (<em>pop culture</em>) abang masih belum tahu, segalanya adalah pengalaman bawah sedar abang sendiri sebagai pengkarya. Kemudian, ada satu lagi naskhah yang abang arahkan bertajuk<em> Puan Oi</em> yang ditulis oleh Mikio Mishima yang mencabar pengarahan kita. Cabarannya sehingga berfikir bagaimana hendak mencipta tasik dan rakit dalam sebuah ruang terhad yang dikelilingi penonton. Berdasarkan naskhahnya, dalam satu babak ulang tayang, dengan cabaran tersebut, kami dapat menjayakan pementasan itu dengan hasil yang dikira baik!</p>
<p><strong>ABROR RIVAI: Berbalik kita kepada naskhah ini iaitu <em>Menunggu Kata Dari Tuhan</em>. Saya hendak selidik fasal apa istimewanya pementasan kali ini kerana seperti yang abang jelaskan pada awal perbualan kita, Dinsman sendiri yang mengarahkan teater ini sebelumnya dengan Sabri Yunus dan Sani Sudin sebagai pelakon dan pemusik. Mengapa terdapat perubahan dalam pementasan yang ini dan bagaimana peranan abang sebagai pengarah dengan mengambil Shoffi Jikan sebagai pelakon bermula?</strong></p>
<p>NASIR JANI: Benda ini terjadi tanpa dirancang. Apa yang abang sendiri tahu memang Dinsman buat naskhah ini. Macam yang abang cakap tadi, abang mengetahui tentang naskhah ini dan ada dibuat pementasannya di Kelantan. Tapi kali ini jadi begini kerana abang ditawar untuk mengarahkan naskhah ini dari Dinsman. Ia bermula apabila Dinsman menyuruh abang berlakon dengan membawa watak Kaab iaitu peranan utama dalam<em> Menunggu Kata Dari Tuhan</em>. Tentang ceritanya abang belum tengok lagi sebab setiap masa abang berada di kampong. Jadi abang kata pada Dinsman, “nanti aku naik, aku tengok skrip dulu.” Sudah lihat baru boleh bagi keputusan! Minggu lepas kami jumpa dan abang baca skripnya. Lepas baca abang fikir dan rasa abang tidak akan berlaku adil kalau abang bertindak sebagai pelakon. Sebab abang melihat skrip ini mesti dimainkan oleh pelakon (iaitu orang yang memang mencari rezekinya dengan berlakon) – sedangkan abang pengarah! Sebab itu abang teringatkan Shoffi dan kebetulan dia ada masa senggang dan bila abang tawar pada dia sesuailah sebab dia pelakon! Jadi macam itulah dia bermula.</p>
<p><strong>ABROR RIVAI: Di sini, saya dapat baca yang adanya satu sikap di mana ia merupakan sikap seorang pengarah (sutradara). Bercakap pasal sikap seorang pengarah pula, di sini kita maksudkan seorang pengarah filem yang ada pembawaan tersendiri seperti abang. Macam saya selalu dengar bila seorang pengarah filem itu menyebut, aku pengarah! Jadi kerana itu dia tidak mahu menjadi pelakon. Berdasarkan pengalaman abang, siapakah pengarah dan orang macam manakah dia?</strong></p>
<p>NASIR JANI: Sebetulnya, kalau hendak dikira bila seseorang itu dipanggil sebagai pengarah ialah apabila dia mula mendapat upah kerana kerja pengarahannya. Jadi di situ akan lahir sikap dia sebagai seorang pengarah. Abang sendiri bermula sebagai pengarah semasa bekerja di Pro Film, buat iklan. Di sini abang dibayar dan kerana itulah kerjaya pengarahan abang bermula. Tak banyak karya pengarahan yang abang dapat buat semasa di Pro Film ini tapi adalah dalam lima buah iklan yang abang buat sendiri – yakni abang bertindak sebagai seorang pengarah atau yang kita sebut sutradara itu. Ia pengalaman pada tahun 1978 dan 1979 dan pada abang di sinilah permulaan kerjaya abang sebagai seorang pengarah yang ada prinsipal, dan sebab kerana dibayar. Bercakap pasal sikap sebagai seorang pengarah filem pula, kita bertanya balik bilakah mulanya karya yang kita buat dengan menggunakan kamera, kerana di situlah bermulanya seorang pengarah filem! Tapi dalam hal ini kita tidak semestinya mendapat bayaran dari kerja tersebut kerana kita bercakap tentang sikap atau <em>attitude</em> seorang pengarah filem. Pengarah Filem adalah orang yang komited dengan kerjanya (karya) – tidak kira sama ada dia mendapat upah atau sebaliknya. Kalau dari sudut ini, kerjaya abang sebagai seorang pengarah filem yang punya sikap bermula masa abang seorang mahasiswa dan masa itu abang sedang buat praktikal di Pro Film. Di situlah kita mencurahkan perasaan kita dan keluarlah (lahir) sikap yang juga didorong dari minat, atau banyaknya menonton filem!</p>
<p><strong>ABROR RIVAI: Diskusi kita sudah berganjak kepada persoalan baharu iaitu filem, apa kata kita beralih dari teater dan teruskan bercakap tentang filem. Di sini saya hendak meneroka tentang pembuatan filem di tanahair kita pada tahun-tahun 1980an, sebab abang sendiri terlibat secara aktif pada dekad tersebut! Apa yang hendak saya teroka dahulu adalah berkenaan dengan sejarah yang membawa kepada bermulanya zaman baharu filem melayu apabila terjadinya peralihan tema, yang disebabkan oleh faktor apa sebenarnya, adakah kerana kemunculan angkatan pembikin filem baharu, yang rata-rata berpendidikan filem?</strong></p>
<p>NASIR JANI: Kalau hendak jawab soalan ini, kita lihat dari nama-nama filem dan tahun. Kita mula dari zaman filem warna. Filem Melayu dari zaman filem warna bermula dengan <em>Keluarga Si Comat</em> yang dilakonkan oleh AR Badul. Kalau tak salah abang pengarah filem ini ialah Pak Aziz Sattar (sekarang Dato’), yang dihasilkan pada tahun 1975. Ia adalah kesinambungan dari filem melayu yang telah benar-benar lumpuh di Singapura, maka tradisi pembuatan filem yang bercorak komedi itu nampaknya berterusan! Kemudian, antara tahun 1975 ke tahun 1980 adalah bermulanya pengarahan filem bagi Jins Shamsuddin (sekarang Tan Sri) yang mengarah cerita-cerita melodrama dalam beberapa siri. Selepas itu, pada tahun 1980-an baharulah masuk Rahim Razali (sekarang Dato’) yang bermula dengan filem <em>Abang</em>. Masuk pula yang baharu, mungkin ini pengarah yang hanya sekali sahaja mengarah, tapi jadi petanda baharu sebab filem dia ada buat <em>statement </em>(pernyataan sikap) iaitu <em>Kami</em> yang dilakonkan oleh Sudirman Haji Arshad dan diarahkan oleh Patrick Teoh. Kemudian, ada pengarah filem bernama Yassin Salleh dengan filemnya yang bertajuk <em>Potret Maria</em>. Filem bercorak drama ini pertama kali kombinasi pelakon Indonesia dan Malaysia iaitu di antara Dicky Dzulkarnain dan Sarimah. Jadi, inilah antara contoh-contoh filem Melayu di mana sudah ada tanda-tanda peralihan tema dari persoalan tradisional kepada moden. Filem seperti <em>Abang, Pemburu, Potret Maria</em> dan <em>Dia Ibuku</em> merupakan nafas baharu filem melayu pada era tersebut. Tapi, secara keseluruhan filem Melayu masih belum keluar sepenuhnya dari nostalgia filem di zaman Jalan Ampas!</p>
<p><strong>ABROR RIVAI: Filem-filem Melayu yang macam mana pula yang dapat buat anjakan yang lebih mendalam, yang keluar dari nostalgia filem di zaman Jalan Ampas dan bawa penonton kita kepada satu daerah yang lain, iaitu dengan masuknya pemikiran dan persoalan baharu seperti falsafah dan sebagainya?</strong></p>
<p>NASIR JANI: Ia bolehkan dikatakan bermula pada awal tahun 1980. Ia bermula pada tahun 1984 iaitu selepas filem <em>Abang, Pemburu, Matinya Seorang Patriot, Mekanik</em>. Selepas itu kita ada filem <em>Langit Petang</em> yang diarahkan oleh Shahrom Mat Dom yang merupakan graduan dari Universiti Malaya. Othman Hafsham merupakan seorang pengarah filem yang pergi belajar di institusi pendidikan filem (<em>film school</em>), di mana dia (Hafsham) terkenal dengan komedinya. Tapi filem komedinya bukan seperti gaya filem-filem komedi yang dibuat sebelum tahun 1980-an. Dia bawa satu budaya baru dalam filem komedi di mana menunjukkan persoalan baharu seperti masyarakat majmuk yang merupakan realiti kehidupan sosial pada masa itu. Hafsham bermula dengan <em>Adik Manja</em> dan bila filem ini diterbitkan maka bermulalah era komedi baharu selepas beberapa tahun sejak bermulanya filem melayu di Jalan Ampas. Manakala Rahim Razali membuat filem bercorak drama di mana pada masa itu ia merupakan satu pembawaan baharu dengan cerita yang mendedahkan kenyataan dalam dunia korporat orang Melayu. Selanjutnya, antara tahun 1984 dengan terbitnya <em>Mekanik, Kami, Langit Petang</em>, kita juga jangan lupa tentang Pak Jamil (Jamil Sulong) yang mengarah <em>Ranjau Sepanjang Jalan</em>, yang mana filem ini diterbitkan oleh Tan Sri Kamarul Ariffin. Ada subjek yang besar yang dibawa oleh kebanyakan filem kita pada masa itu meskipun dari segi jumlah (<em>volume</em>), ia tidak sebanyak filem yang diterbitkan pada hari ini. Bayangkan, pada masa itu dalam masa sebulan belum tentu ada satu filem yang hendak ditayangkan. Di sinilah yang hendak saya tekankan sebab masuknya tahun 1985 ke tahun 1986, lahir-nya<em> Kembara Seniman Jalanan</em>! Sekali lagi terjadi pusingan baharu dalam sejarah filem di tanahair ini, sehinggalah terbitnya <em>Rozanna Cinta 87</em> sebelum masuk pula pengarah baharu yang maseh muda pada masa itu iaitu Aziz M.Osman dengan filem pertamanya, <em>Fenomena</em>.</p>
<p>(bersambung ke Bahagian Kedua)<strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/05/opera-hidup-2/" rel="bookmark" title="18 Mei, 2011">Opera Hidup II</a></b> Abror Rivai</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/05/filem-sebagai-media-baru/" rel="bookmark" title="3 Mei, 2010">Filem Sebagai Media Baru</a></b> Abror Rivai</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/07/bagus-dalam-erti-apa/" rel="bookmark" title="20 Julai, 2011">Bagus dalam Erti Apa?</a></b> Abror Rivai</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/10/idealis-revolusioner-antara-shariati-dan-motahhari/" rel="bookmark" title="15 Oktober, 2010">Idealis Revolusioner: Antara Shari&#8217;ati dan Motahhari</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/05/satira-jangan-gelap-hati/" rel="bookmark" title="6 Mei, 2009">Satira Jangan Gelap Hati</a></b> Hasmi bin Hashim</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/06/hyapatia-dan-agora/" rel="bookmark" title="8 Jun, 2010">Hyapatia dan Agora</a></b> Afif Bahardin</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 34.245 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2011/03/opera-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revolusi Ini Akan Diteruskan</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2011/02/revolusi-ini-akan-diteruskan/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2011/02/revolusi-ini-akan-diteruskan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 10:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SPIEGEL Online</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=2477</guid>
		<description><![CDATA[Kami tidak mahu revolusi ini digambarkan sebagai revolusi Ikhwanul Muslimin, sebagai revolusi Islam. Ini adalah kebangkitan seluruh rakyat Mesir.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barat bimbang bahawa gerakan Islamis, Ikhwanul Muslimin akan mendapat peranan utama dalam pemerintahan Mesir pasca-Mubarak. SPIEGEL bercakap dengan timbalan ketuanya, Rashad al-Bayoumi tentang apa yang dimahukan oleh Ikhwanul Muslimin, keenganan Barat untuk mendengar dan tindak non-keganasan.<br />
<strong><br />
SPIEGEL: Adakah kita melihat satu pemulaan kepada era yang baru di Mesir?</strong></p>
<p>Bayoumi: Selepas 30 tahun penindasan, korupsi dan kediktatoran, kita sebenarnya berada di persimpangan jalan. Persoalannya adakah kita mahu untuk membuka jalan kepada demokrasi dan hak asasi manusia atau kita masih mahu pemerintahan diktator? Revolusi akan diteruskan selagi permintaan kami tidak dilaksanakan.</p>
<p><strong>SPIEGEL: Apakah permintaan itu?</strong></p>
<p>Bayoumi: Pertama sekali, kami memerlukan perubahan rejim. Kami mahukan kerajaan yang baru. Kedua, kami mahukan pilihanraya baru. Parlimen sekarang ini tidak mempunyai legitimasi dan hanya terbentuk setelah pilihanraya yang penuh dengan penyelewengan yang teruk. Ketiganya, semua tahanan politik di penjara hendaklah dibebaskan segera. Kami mahukan keadilan. Dan, akhirnya, kami mahukan kerajaan transisi yang terdiri daripada wakil-wakil semua kumpulan oposisi.</p>
<p><strong>SPIEGEL: Adakah kerajaan transisi ini juga terdiri daripada figur oposisi, Mohamad ElBaradei? Adakah anda menerima beliau sebagai seorang calon?</strong></p>
<p>Bayoumi: Permintaan kami selari dengan permintaan semua kumpulan oposisi termasuklah perminataan orang muda—dan bukan hanya daripada parti-parti politik. Adalah terlalu awal untuk bercakap tentang kepimpinan yang baru. Sekarang ini rakyat yang harus tentukan—biarkan mereka bersuara.<strong></strong></p>
<p><strong>SPIEGEL: Ikhwanul Muslimin dianggap sebagai gerakan oposisi yang terbesar di Mesir. Kenapa kamu tidak hadir ke demonstrasi-demonstrasi?</strong></p>
<p>Bayoumi: Kenyataan itu mengarut! Sudah tentu kami hadir. Tetapi kami mengekalkan untuk tidak menonjol dari aspek organisasi. Kami tidak berdemonstrasi dengan slogan-slogan kami. Kami tidak mahu revolusi ini digambarkan sebagai revolusi Ikhwanul Muslimin, sebagai revolusi Islam. Ini adalah kebangkitan seluruh rakyat Mesir.</p>
<p><strong>SPIEGEL: Di Barat terdapat ketakutan bahawa Ikhwanul Muslimin sudah bersiap-siap untuk mendapatkan kuasa—bahawa mereka mahu untuk menukar Mesir kepada sebuah negara Islam.</strong></p>
<p>Bayoumi: Barat enggan untuk mendengar pandangan kami. Kami bukan makhluk jahat. Kami mahukan keamanan bukan kezaliman. Agama kami bukan agama syaitan. Agama kami menghormati penganut agama-agama lain. Tetapi rejim ini telah dengan sengaja menuduh kami begitu dan memanipulasi pandangan awam.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>SPIEGEL: Berapa ramaikah ahli gerakan anda?</strong></p>
<p>Bayoumi: Saya tidak tahu—kami tidak mengiranya. Kerajaan mengatakan bahawa kami mempunyai tiga juta ahli. Apa yang saya tahu ialah ahli kami di mana-mana sahaja, di setiap bandar, kampung dan kawasan kejiranan. Kami adalah bahagian penting di dalam masyarakat.</p>
<p><strong>SPIEGEL: Berapa ramai rakyat Mesir akan mengundi kamu jika pilihanraya bebas diadakan nanti?</strong></p>
<p>Bayoumi: Lebih baik kita tunggu rakyat yang menentukan. Sekarang ini adalah saat pergolakan dan transisi politik. Inilah yang kami mahu untuk dipercakapkan bukan soal keputusan pilihanraya.</p>
<p><strong>SPIEGEL: Adakah Mesir akan kembali aman?</strong></p>
<p>Bayoumi: Kerajaan yang bertanggungjawab terhadap kekacauan ini. Saya berjanji kepada anda bahawa Ikhwanul Muslimin tidak pernah menyeru kepada keganasan, dan tidak akan melakukannya di masa hadapan.</p>
<p><em>Wawancara ini terbit pada 07/02/2011 di Spiegel English Online</em></p>
<p><em>Diwawancara oleh Daniel Steinvorth dan Volkhard Windfuhr</em><strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/02/persamaan-antara-revolusi-di-mesir-dan-iran/" rel="bookmark" title="11 Februari, 2011">Persamaan antara Revolusi di Mesir dan Iran</a></b> Fareed Zakaria</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/07/shiah-di-indonesia/" rel="bookmark" title="21 Julai, 2010">Shi’ah (di) Indonesia</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/02/menyaksikan-kebangkitan-rakyat-mesir/" rel="bookmark" title="7 Februari, 2011">Menyaksikan Kebangkitan Rakyat Mesir</a></b> admin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/02/phyrric-victory-di-perak/" rel="bookmark" title="7 Februari, 2009">&#8216;Phyrric victory&#8217; di Perak</a></b> Khalid Jaafar</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2008/01/kebebasan-berekspresi-itu-suci/" rel="bookmark" title="8 Januari, 2008">Kebebasan Berekspresi Itu Suci</a></b> admin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2006/06/puisi1/" rel="bookmark" title="10 Jun, 2006">Pari-pari</a></b> admin</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 57.794 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2011/02/revolusi-ini-akan-diteruskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyaksikan Kebangkitan Rakyat Mesir</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2011/02/menyaksikan-kebangkitan-rakyat-mesir/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2011/02/menyaksikan-kebangkitan-rakyat-mesir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 03:58:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Jazeera]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Gomaa]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika]]></category>
		<category><![CDATA[BBC]]></category>
		<category><![CDATA[CNN]]></category>
		<category><![CDATA[Dato' Profesor Madya Dr. Hassan Basri bin Awang Mat Dahan]]></category>
		<category><![CDATA[El-Baradei]]></category>
		<category><![CDATA[Hosni Munarak]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhwanul Muslimin]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Kifayah]]></category>
		<category><![CDATA[Mesir]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad ‘Imarah]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tunisia]]></category>
		<category><![CDATA[Universiti Al-Azhar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=2466</guid>
		<description><![CDATA[Wawancara dengan Dato' Profesor Madya Dr. Hassan Basri bin Awang Mat Dahan yang menceritakan pengalamannya menyaksikan kebangkitan rakyat Mesir.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkembangan politik di Mesir memberikan impak yang besar kepada politik Timur Tengah dan juga Dunia Islam. Pada Jumaat, 4 Januari 2011, editor JalanTelawi, <strong>Ammar Gazali </strong>mewawancara <strong>Dato&#8217; Profesor Madya Dr. Hassan Basri bin Awang Mat Dahan</strong>, Pengarah Jabatan Pengajian Malaysia di Universiti Kaherah, Mesir. Beliau yang baru pulang daripada Mesir baru-baru ini menceritakan pengalamannya menyaksikan kebangkitan rakyat Mesir.</p>
<p><strong>Boleh Profesor ceritakan sedikit tentang latar belakang tugas Profesor di Mesir?</strong></p>
<p><a href="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//basri_major.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2467" title="basri_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//basri_major.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>Saya ditugaskan di Jabatan Pengajian Malaysia di Universiti Kaherah, untuk memperkenalkan Malaysia kepada masyarakat Arab dan Afrika Utara dan juga negara-negara Teluk. Kita menawarkan kursus tentang Malaysia yang berkaitan dengan politik, sejarah, pentadbiran Malaysia, ekonomi, pendidikan, kemasyarakatan dan itulah secara ringkasnya, enam ke tujuh tajuk besar yang mencangkupi hubungan kaum—ini antara tajuk yang menarik bagi mereka. Selain itu sistem pendidikan Malaysia—bagaimana kita dapat membasmi buta huruf. Juga tentang perancangan ekonomi—pengalaman Malaysia terutamanya DEB memang menjadi fokus kepada masyarakat Arab dan juga Wawasan 2020 yang diilhamkan oleh Dr. Mahathir menjadi perhatian kepada mereka. Kita ajar kepada pelajar sana dan mereka adalah pelajar universiti, ada yang peringkat ijazah, sarjana. Selain itu, saya dan rakan-rakan di Universiti Kaherah juga membuat penyelidikan dengan memilih tajuk-tajuk tertentu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tentang politik di Mesir, bagaimana dengan perkembangannya dalam tahun-tahun mutakhir ini?</strong></p>
<p>Perkembangan politik di Mesir sentiasa menjadi perhatian banyak pihak kerana kedudukan strategik di Timur Tengah. Ia seolah-olah menjadi <em>anchor </em> yang mempengaruhi perkembangan serantau. Tetapi perkembangan politik dalamannya memang sentiasa bergolak. Saya rasa apa yang berlaku di Tunisia itu merupakan salah satu pencetus sahaja. Penentangan terhadap Hosni Mubarak ini sudah lama. Misalnya penentangan itu semakin kuat pada Pilihanraya 2010 yang lalu. Ketidakpuasan hati ini wujud di kalangan pembangkang dan aktivis kerana penyelewengan yang teruk dalam pilihanraya. Pembangkang yang majoritinya Ikhwanul Muslimin memang mengisytiharkan perang terbuka kepada kerajaan selepas pilihanraya itu. Pertamanya mereka menolak keputusan pilihanraya dan yang keduanya mereka hendak membawa perkara itu ke mahkamah. Sebab apa 70 orang ahli parlimennya tidak ada seorang pun yang menang di dalam pilihanraya yang lepas. Sampai baru-baru ini persidangan parlimen Mesir, dibuat dua kumpulan. Satu kumpulan Kerajaan dan satu lagi Pembangkang. Macam sebuah orkestra, mereka buat lakonan. Dalam Kerajaan itu ada pembangkang. Kalau tidak semua mutlak pada pemerintah kerana semua cadangan akan disokong penuh. Jadi untuk mengelak perkara itu, maka ada pembangkang yang dicipta. Jadi kelakar dan ditertawakan.</p>
<p>Perkara ini kalau kita berada di Mesir, kita boleh ikuti. Tapi kena baca suratkhabar-suratkhabar yang pelbagai. Di Mesir ini satu yang bagusnya ialah dibenarkan suratkhabar-suratkhabar pembangkang. Ada <em>Mishr al-Yaum </em> dan <em>As-Syuruk</em> misalnya. <em>As-Syuruk</em> ini sebenarnya sangat sederhana, tentang Kerajaan pun ditulis. Sebab itu dia agak ke depan sebab rakyat suka. Kalau <em>Mishr al-Yaum</em> itu pembangkang, Al-Wahd memang dah tahu pembangkang. Jadi ada akhbar-akhbar begitu, macam kita ada Harakah dan Suara Keadilan. Tapi di sana lagi banyak akhbar pembangkang kerana pemerintah Mesir tidak takut. Kalau ada apa-apa pun ditangkapnya dengan menggunakan Akta Darurat yang berkuat kuasa sejak awal pemerintahan Mubarak lagi. Tetapi dengan perkembangan teknologi hari ini, dengan adanya YouTube, internet, maklumat itu memang tersebar dan rakyat tahu apa yang sebenarnya berlaku. Jadi rakyat tidak lagi merujuk kepada satu sumber sahaja. Dan pilihanraya yang penuh penyelewengan rakyat dapat dedahkan, macam dalam satu artikel yang saya baca dalam akhbar <em>As-Syuruk</em>, katakanlah saya sebagai calon di suatu kawan mengundi, saya buang undi dalam peti undi, bila dikira undi itu kosong. Jadi undi saya sendiri sebagai calon pun tak ada. Jadi lupakanlah undi-undi yang lain, saya sebagai yang mengundi untuk diri saya pun tiba-tiba kosong juga. Dan di sini duit ditabur di depan-depan. Tak ada sembunyi-sembunyi. Dan yang menabur itu antaranya speaker parlimen sendiri. Kalau dah ketua speaker menabur wang di kawasan dia bertanding, apa lagi yang nak diharapkan pada yang lain. Jadi sampai pada tahap klimaks. Rakyat menunggu masa saja untuk mencetuskan penentangan. Bila Tunisia berlaku begitu, <em>timing bomb</em> di Mesir pun meletup juga. Jadi di tahun ini juga, pertama kali saya rasa kerajaan Mesir mengisytiharkan Hari Polis sebagai cuti umum pada 25 Januari. Selalunya hari polis hanya untuk polis saja. Jadi mereka kata, dia isytihar cuti umum, kita isytiharkan hari kemarahan (<em>Yaum al-Ghazhab</em>). Maka berlakulah demonstrasi itu.</p>
<p><strong>Apakah yang Profesor lihat pada hari Selasa, 25 Januari itu?</strong></p>
<p>Pada hari tersebut saya berada di Kaherah. Demonstrasi pada hari itu memang dahsyat. Tetapi pada 25 haribulan hari Selasa dan esoknya 26 haribulan kita masih berkerja lagi. Demonstrasi hanya di Tahrir Square. Cuma apa yang berlaku pada 25 haribulan itu, pertembungan dengan polis rusuhan yang menembak gas pemedih mata dan sebagainya. Pada 26 haribulan pimpinan Ikhwan ditangkap seramai 136 orang. Ini memang menimbulkan ketidakpuasan hati. Pada hari Khamis pula, mereka isytiharkan hari Jumaat akan dibuat apa yang dipanggil sebagai <em>Jumaat Ghazhab</em>. Ada dua nama, <em>Jumaat Ghazab</em> atau pun <em>Jumaat Syuhada’</em>. Dan akhbar-akhbar, berita TV mewar-warkannya, Al-Jazeera, CNN dan sebagainya. Mereka berhasrat akan berkumpul secara besar-besaran pada hari Jumaat untuk menyatakan kemarahan rakyat. Hari 25 Jan itu mereka panggil hari kemarahan, jadi Jumaat ini sebagai <em>Jumaat Ghazhab</em> dan Jumaat ini perhimpunan secara besar-besaran dan meletus juga di tempat-tempat lain iaitu Suez, Alexandria, Mansoura, Tanta dan semua tempat ini telah menyatakan pendirian bahawa mereka juga akan berdemo. Maka jadi <em>nationwide</em>. Hari Isnin hanya di Tahrir Square pada mulanya.</p>
<p>Pada 25 haribulan itu, kita pun mengambil tindakan berjaga-jaga. Kebetulan bekas duta ada di Mesir ketika itu, saya beritahunya dia perlu balik esok, penerbangan pukul 4 petang, pukul 10 pagi dia perlu ke lapangan terbang. Saya yang hantar dia. Kalau tidak kita takut semasa kita balik bertembung dengan mereka yang berdemo. Saya mungkin sembahyang Jumaat tengah jalan. Sebab Jumaat di sana pukul 12. Dia bersetuju. Semasa kita sampai airport, orang penuh sesak. Ramai sudah hendak keluar dari Mesir. Kemudian saya balik ke rumah, lepas sembahyang Jumaat mula-mula itu nampak sikit kemudian semakin besar dan besar mereka yang hadir. Sampai ke kemuncak pada waktu Asar itu bertemu kelompok-kelompok itu. Di Suez pun menjadi begitu gawat dan malam itu tentera ambil alih. Lepas Maghrib tentera masuk. Ini berlaku pada Jumaat malam Sabtu, 28 haribulan. Bila tentera masuk,mereka pun isytiharkan perintah berkurung. Maghrib di sana pukul lima. Pukul enam perintah berkurung mula. Jadi Maghrib itu sempat lagi sembahyang di luar. Pukul enam sudah tidak boleh keluar.</p>
<p>Rupa-rupanya bila tentera ambil alih dan isytihar <em>curfew</em>, dalam masa sekejap itu juga polis pun terus hilang dari semua tempat. Di Mesir ini, di setiap sudut ada polis bertugas. Di setiap bank ada polis, di setiap ATM akan ada polis. Polis memang benar-benar mengawal keselamatan. Itu yang menyebabkan keadaan terkawal bila ada polis. Polis 24 jam di ATM misalnya. Kita pergi sembahyang subuh pukul 5 pagi pun boleh nampak polis jaga dan dia tidak tidur. Dan ada patrolnya. Anggota polis yang bertugas ini makanannya dibekalkan oleh polis. Mereka tak perlu pergi cari makan. Akan datang lori yang menghantar makanan. Itulah keadaan di Mesir. Jadi selepas tentera ambil alih itu terus hilang dan tak muncul. Malam itu pun balai polis bergelap dan berlaku banyak kebakaran. Jadi banyak pecah masuk di kedai-kedai di jalan-jalan utama. Esok pagi itu iaitu hari Sabtu, <em>curfew</em> habis pukul 8 pagi, selepas solat Zohor pada pukul 12 saya keluar jalan dan tengok keadaan yang dahsyat.</p>
<p><strong>Di Kaherah Profesor tinggal di mana?</strong></p>
<p>Saya tinggal di Mohandessin. Tidak jauh daripada Tahrir Square. Kita dapat tahu selepas itu di dalam akhbar, rupa-rupanya Menteri Dalam Negeri Mesir, bila berlakunya demonstrasi pada hari Selasa dia memberi jaminan kepada Presiden Mubarak bahawa demonstrasi itu dapat dilumpuhkan pada hari Jumaat. Maknanya Rabu, Khamis dan Jumaat, dalam tiga hari  dia beri jaminan akan menyelesaikan perkara itu. Sebab itu bila tangkapan dilakukan pada hari Rabu, hari Khamis ada pengumuman untuk buat demonstrasi besar-besaran pada hari Jumaat. Menteri itu kata hari Jumaat dia akan selesaikan. Di situlah sebenarnya keluar arahan, kalau ikutkan akhbar itu, bahawa dia arahkan polis tembak peluru hidup bukan lagi peluru getah. Sebab dia nak takutkan penunjuk perasaan dan ramai yang mati di Iskandariah, bukan setakat itu ada kenderaan yang langgar penunjuk perasaan dan yang ditembak air sebagainya di Suez dan merata tempat.</p>
<p>Itu janji menteri tersebut, tapi apa yang berlaku apabila dia buat semua itu tidak meredakan tunjuk perasaan malah meledakkan lagi sebab itulah bila dia masih berkeras, tentera Mesir pun ambil alih, polis diarahkan berundur dan tukar uniform. Dan berlakulah sabotaj kepada negara di mana apabila polis tiada, kononnya balai polis dibakar dan banduan terlepas. Banduan pun malam itu terlepas. Hari Sabtu itu sebenarnya banduan sudah berkeliaran. Ada yang percaya bahawa ini semua peracangan pemerintah sebenarnya. Dengan menghilangkan polis itu supaya dapat melemahkan demonstrasi. Supaya mereka terpaksa menjaga kediaman masing-masing kerana banduan pun dah terlepas daripada penjara.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Maksudnya banduan dilepaskan secara terancang?</strong></p>
<p>Dipercayai secara terancang dikeluarkan daripada penjara sehinggakan  menurut pemberita TV, mereka yang dijatuhkan hukuman mati, yang berada di sel terakhir pun terlepas. Bagaimana boleh lepas? Tidak ada orang yang bersetuju mengatakan bahawa ini dilakukan oleh orang luar ataupun banduan merusuh. Taktik yang dilakukan misalnya terdengar tembakan dalam penjara, mungkin ditembak dua tiga banduan lepas tu mereka kata banduan merusuh. Di Kaherah saja ada 6 ribu banduan. Di seluruh Mesir ada 34 ribu banduan. Ini yang pelajar kita takut. Memang menimbulkan kekecohan yang sangat-sangat. Jadi malam itu juga sebuah Carrefour dan pasaraya Hyper One habis dirompak. Barang-barang habis licin dan tidak ada apa-apa lagi.</p>
<p>Tapi yang ironinya ialah TV Mesir ini tidak menunjukkan perkara ini. Apa yang dilaporkan adalah keadaan tenang dan terkawal. Misalnya disiarkan gabenor-gabenor di setiap daerah mengatakan keadaan bagus dan terkawal. Gabenor-gabenor di Mesir ini semuanya tentera. Sebenarnya yang berlaku adalah sebaliknya. Jadi memang kita dapat tengok kontradiksi dengan Al-Jazeera dan stesyen TV di Mesir. Kemudian mereka menyekat Al-Jazeera pada hari Sabtu. Jadi Al-Jazeera English tidak puas hati, ia tunjuk bagaimana liputannya maka ditayang dua gambar bersebelahan: satu gambar TV Mesir satu lagi gambar siaran Al-Jazeera. Memang kita akan tengok dua gambar yang berbeza. Satu gambar yang sangat tenang, gambar air Sungai Nil dan jambatan. Di gambar satu lagi orang penuh di Tahrir Square, jadi dua keadaan yang berbeza. Tetapi akhirnya TV Mesir pun terpaksa menerima hakikat dan kena ubah.</p>
<p><strong>Berkenaan dengan protes atau tunjuk perasaan. Dalam media dilaporkan bahawa tidak ada kumpulan atau organisasi tertentu yang mengatur demonstrasi tersebut. Menurut Prof siapakah yang sebenarnya berada di belakang perkara ini?</strong></p>
<p>Secara spesifiknya saya tidak tahu. Sebab kita hanya melihat daripada luar. Tetapi daripada maklumat yang dibekalkan oleh televisyen dan sebagainya dan juga daripada cara demonstrasi yang kita tengok, saya rasa <em>mastermind </em>yang paling utama adalah Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul Muslimin memainkan peranan yang penting dalam perkara ini dan ia memang satu gerakan yang cukup tersusun dan ahli-ahlinya terlatih dan taat. Sebab itu saya tengok demonstrasi ini berjalan. Dan ini sebenarnya menimbulkan ketakutan yang amat sangat kepada pihak Amerika dan Israel yang selalu membincangkan perkara ini. Kalau kita tengok CNN dan BBC, memang terang-terangan mengatakan bahawa apa yang kita bimbangkan kalau jatuhnya kerajaan Mubarak ialah Muslim Brotherhood ini akan mendapat kuasa. Apabila ditanya <em>what’s wrong with the Muslim Brotherhood? They are extremists, they are like al-Qaeda. You know what will be happening when they govern</em>.</p>
<p>Tetapi saya tengok hebatnya bila ada Al-Jazeera yang boleh <em>counter</em> balik. Jadi ada <em>cross-check</em> berbanding CNN ini. Dia kata, <em>on the contrary, </em>orang ini mengatakan begini-begini, akhirnya dia <em>interview </em>El-Baradei yang pulang ke Mesir pada hari Khamis (27/1) daripada Vienna. <em>That is another shocking</em> kepada Mesir. Begitu ramai orang sambut beliau di lapangan terbang. Ini satu lagi impak kepada orang yang akan demo pada hari Jumaatnya bahawa mereka ada kekuatan. Memang sesak lapangan terbang tersebut. Masa itu perintah berkurung masih belum ada. Masa El-Baradei diwawancara, dia kata <em>this is a bogus</em>. Awak memburuk-burukkan Ikhwanul Muslimin, mereka bukan teroris. Kalau Muhammad Badi’e, Mursyid Ikhwanul Muslimin itu yang menafikan, siapa pun tak nak percaya. Tetapi apabila Muhammad El-Baradei, seorang yang begitu <em>moderate</em>, dihormati di peringkat antarabangsa, seorang yang berpengetahuan luas dan bukanlah kecenderungan Islamnya itu macam seorang Ikhwan. Dia memang moden. Dia mengatakan <em>no, they are very good people, very good movement, they are not extremist, they even against Al-Qaeda. They never recognise Al-Qaeda. You find me any statement that they recognise Al-Qaeda.</em> Bila saya tengok tu, saya kata <em>this is a very good statement. </em>Katanya,<em> they are only 20 percent, they are part of Egyptian society. They are very systematic movement. Why are you exaggerate thing. When we form a new government, I don’t think they will govern the whole country</em>. Jadi pengacara tu jadi terpinga-pinga. Kenyataan itu sebenarnya memberikan impak yang cukup besar dan itu dibuat dalam BBC. CNN pun saya tengok mengambil juga wawancara itu.</p>
<p>Jadi semuanya selama ini adalah salah faham. Kita pun sedih, di Jordan, Mesir sendiri, bahkan PLO pun memburuk-burukkan Ikhwanul Muslimin. PLO sudah tentu, sebab Hamas itu musuhnya. Dan Hamas ini ada hubungan dengan Ikhwanul Muslimin. Terdedah sebelum ini, ada satu tulisan tentang penyelewengan perunding-perunding PLO yang mengkhianati rakyat Palestin, Saeb Erekat dan konco-konconya. Saya lihat demonstrasi ini, walaupun ia melalui suatu proses yang cukup getir tetapi ia memberi kredit besar kepada Ikhwan, kepada masyarakat supaya dapat mendedahkan perkara sebenar. Sebab dalam keadaan orang tidak gawat, orang hanya dengar-dengar dan tidak ambil endah. Kemudian dimanipulasikan, dan kalau dia nak kata apa pun orang tak kisah. Bila dalam keadaan getir orang mendengar dengan penuh perhatian. Dan orang hendak mencari penyelesaian. <em>What is the solution? </em>Sebab itu kita tengok di hujung-hujung itu nampak Amerika pun dah mula kendur. Sekarang senario sudah berubah. Bagi saya ini satu perkembangan yang baik.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tentang El-Baradei. Bagaimana kedudukan beliau sebagai seorang yang boleh dikatakan sebagai pemimpin gerakan ini. Adakah beliau secara politiknya mempunyai kedudukan yang kuat?</strong></p>
<p>Dari pemerhatian saya, El-Baradei ini semasa pulang dari luar negara, beliau banyak menekankan tentang pemilihan presiden pada 2011 di mana beliau menekankan supaya pertamanya perlembagaan Mesir perlu diubah. Untuk melahirkan masyarakat madani, perlu perubahan dalam perlembagaan Mesir kerana perlembagan itulah mengecilkan skop untuk perlantikan presiden di mana  kaedah pemilihan itu mesti melalui beberapa proses yang mana orang seperti beliau umpamanya atau orang Ikhwan tidak layak untuk bertanding. Dan inilah satu cara yang menyebabkan Mubarak dapat bertahan lama dan undang-undang darurat mesti dihapuskan. Itu perjuangannya. Jadi beliau ini bagi saya lebih kepada seorang <em>lawmaker</em> ataupun kita panggil <em>legislator</em>.</p>
<p>Banyak orang cakap El-Baradei ini tidak terjun ke dalam masyarakat. Ini pandangan-pandangan yang mengatakan dia itu belum bertakhta di hati rakyat. Tapi dia berperanan bagi saya sebagai seorang <em>big figure</em>, jauh ke depan kerana dia boleh memainkan peranan sebagai seorang perunding cara yang berkesan selain daripada <em>international contact</em> yang dia ada. Yang bagusnya ialah dia tidak suka Amerika. Dan Amerika pun tak suka dia. Dan tamatnya tempoh tugasan beliau [di Agensi Atom Antarabangsa] supaya tidak disambung kontraknya adalah kerana lobi Amerika. Beliau kata begini, kami tidak mahu lagi terikat dengan dunia lain, negara lain. Biarlah orang Mesir menguruskan sendiri negaranya. Cukuplah Mesir yang selama ini dibantu oleh Amerika yang sudah tentulah ada timbal baliknya. El-Baradei ini seorang yang cerdik. Bantuan yang diberikan biasanya akan disusuli dengan berapa banyak lagi kepentingan di belakang. Contohnya, kepentingan perniagaan dan pelaburan juga. El-Baradei jelas dalam bab itu. Dan dia mengatakan secara terang bahawa kita tidak mahu terikat dengan perkara sebegini. Jadi ini memberikan impak yang besar dan sebelum ini orang tidak tahu ke mana dia nak pergi.</p>
<p>Gerakannya dipanggil gerakan Kifayah, <em>Enough is Enough</em> itu. Biasalah di Mesir ini gerakan politik bercakaran sesama sendiri. Tetapi bila demonstrasi baru-baru ini semuanya sepakat melantik beliau sebagai jurucakap pembangkang. Dan dia mengatakan dia bersedia untuk menjadi ketua bagi <em>interim government</em> bukan memerintah. Saya tak nak jadi presiden, katanya. Apa yang saya nak ialah biarlah Mesir menjadi negara yang demokratik yang menjunjung prinsip-prinsip demokrasi yang tidak ada undang-undang darurat dan sebagainya. Jadi dia bersedia. Cuma mereka sepakat bila tahu ini permainan pemerintah mereka tidak mahu runding sehingga Hosni Mubarak turun. Sebab memang bahaya.</p>
<p>Saya tanya beberapa orang kenapa begitu, dia kata senang sahaja, apabila pembangkang bersetuju berunding dengan kerajaan, kandungan perbincangan itu tidak semestinya benar. Kerana kerajaan kawal media, kerajaan boleh mengatakan umpamanya pembangkang bersetuju untuk menamatkan demonstrasi. Jadi mereka cerdik dan tidak mahu dimanipulasi lagi. Omar Sulaiman pun pernah tawarkan untuk berbincang, begitu juga Perdana Menteri yang baru dan akhir sekali Hosni Mubarak, itupun beliau tidak mahu. El-Baradei kata <em>resign</em> dulu baru kita adakan perbincangan. Maknanya bila dia <em>resign</em> terpaksa lantik <em>interim government</em>. Pada masa itu perbincangannya siapa yang akan <em>lead.</em></p>
<p><strong> Jadi menurut Profesor apakah peristiwa selanjutnya selepas ini, adakah akhirnya  Hosni Mubarak akan meletakkan jawatan?</strong></p>
<p>Mahu atau tidak mahu saya rasa perkara itu mesti diselesaikan kerana sekarang pun sudah melumpuhkan ekonomi Mesir. Dan apa yang berlaku sekarang menjatuhkan imej Mesir yang begitu buruk di mata dunia dengan kematian pendemo yang meningkat. Dan yang terbaru semalam ada kononnya yang pro-Mubarak sedangkan itu adalah—walaupun kita tidak dapat bukti—polis. Sebab yang naik unta dan kuda itu tidak ada orang lain. Di Mesir memang diketahui bahawa yang memiliki unta dan kuda terlatih ini adalah polis sahaja. Unta itu perlu dilatih kalau tidak ia tidak boleh masuk dalam kelompok ramai seperti itu. Tujuannya memang digunakan untuk menyerang pendemo. Saya nampak akan ada penyelesaian sebab mahu tidak mahu kerajaan kena buat sebab ekonomi akan semakin teruk. Bursa saham telah digantung dan tidak diniagakan. Kalau diniagakan orang akan jual habis dan boleh bangkrap. Jadi mereka terpaksa gantung dahulu.  Wallahu&#8217;alam, kita tidak tahulah apa yang akan berlaku ke depan ini.</p>
<p><strong>Di sini di manakah peranan tentera? Maksudnya adakah tentera akan memberi tekanan kepada Hosni Mubarak supaya meletakkan jawatan ataupun mereka sendiri yang akan berkuasa?</strong></p>
<p>Satu perkara tentang tentera Mesir ini ialah mereka sangat unik. Walaupun sebelum ini kita dengar sahaja tentang Mesir, tetapi dalam dua tiga hari ini saya melihat  tentera Mesir, saya amat kagum. Namun pendirian pimpinannya kita belum tahu. Tetapi integriti tentera Mesir ini rupanya boleh dipuji. Jadi bila kita sorot sejarah,mereka menang dalam peperangan dengan Israel pada 1973 dan peperangan sebelum itu 1948, 1949 sampailah Revolusi 1952. Pada 1948, Jamal Abdul Naser pada masa itu terlibat dengan peperangan di Sinai, peperangan dengan Israel. Memang tentera yang berjuang. Jadi tepatlah Nabi S.A.W bersabda, sebaik-baik tentera di atas muka bumi ini adalah tentera Mesir. Ada hadis tentang itu, (<em>Khairu al-ajnad al-ardh junud Mishr</em>).</p>
<p>Jadi Sheikh Azhar sebelum ini, apabila dia mengendurkan ketegangan antara mereka yang berdemo dengan kerajaan, dia bagi wasiat kepada tentera supaya jangan gunakan kekerasan. Katanya, ingatlah saudara-saudara semua akan apa yang telah disifatkan oleh Nabi 14 kurun yang dulu. Jadi selepas dia buat kenyataan itu esoknya terus wakil tentera memberi ucapan mengatakan tentera tidak akan sekali-kali menggunakan kekerasan kepada rakyat. Bagi saya itu satu integriti yang cukup tinggi. Syeikh al-Qaradhawi pun memberikan satu wasiat yang sama kepada tentera. Jangan gunakan kekerasan kepada rakyat, jangan sesekali keluar satu peluru pun daripada kamu menembak rakyat. Dan itu menjadi kesepakatan.</p>
<p>Saya tengok dengan mata saya sendiri mereka ini sabar betul. Kereta kebal mereka, penuh orang naik, mereka tidak peduli pun. Mereka tak usir pun. Mana ada dalam negara yang kita boleh panjat kereta kebal. Di jalanan walaupun ada rakyat yang provokasi, mereka buat tidak tahu sahaja. Saya dengar sendiri ada rakyat yang meminta supaya tentera bersama mereka. Tentera itu hanya diam dan bersalam dengan mereka dan berlalu pergi. Berbeza dengan polis yang selalu bertembung kerana provokasi sebegitu. Tetapi masalah sekarang ini ialah tentera tidak buat pendirian. Saya rasa mungkin ada hikmah dia tidak buat pendirian. Kalau tentera buat pendirian pada rakyat, tentera akan membelot, kalau pada kerajaan tentera akan bertembung dengan rakyat. Jadi tentera megambil pendekatan berhikmah untuk berdiam diri. Menjaga integritinya. Semalam tentera telah keluarkan kenyataan minta polis jangan campur tangan dalam demo pada hari ini (Jumaat, 4/1). Maknanya demo pada hari ini akan dikawal sepenuhnya oleh tentera. Kita tengoklah macam mana. Jadi dalam perkara ini susah untuk minta tentera memberikan pendirian. Sekurang-kurang masih terpelihara maruah mereka apabila berada di tengah.</p>
<p><strong>Dalam keadaan ini, di mana dan bagaimanakah peranan Universiti Al-Azhar?</strong></p>
<p>Al-Azhar  berperanan sebagai satu institusi ilmu dan ulamak yang berkecuali.  Maksudnya ia tidak memihak kepada mana-mana. Apa yang berlaku baru-baru  ini, ada tiga wasiat daripada syeikhnya kepada pemuda Mesir supaya kasihkan pada  negara, keduanya menghormati dan menghargai pendirian serta aspirasi  pemuda yang mahu berjuang menyalurkan suara mereka melalui demonstrasi.  Ini dia iktiraf. Ketiganya wasiat kepada tentera, jangan menggunakan  kekerasan. Itu adalah pendirian Al-Azhar. Muhammad ‘Imarah ketika  ditanya apa pendirian Al-Azhar, dia kata Al-Azhar mahu kekal sebagai  institusi ilmu dan tidak terllibat dengan politik. Muhammad ‘Imarah ini  salah seorang ulamak Al-Azhar. Mana-mana <em>multaqa</em> atau <em>dirasat ilmiah</em> beliau mesti dipanggil. Bila beliau ditanya tentang tunjuk perasaan  itu, dia menjawab saya mahu ini diteruskan kerana ini adalah kehendak <em>syabab </em>(pemuda).  Dan dia kata dengan jelas, sistem mesti berubah maknanya Hosni Mubarak  mesti pergi. Tetapi bila orang tanya dia tentang Al-Azhar dia kata mahu  mengekalkannya sebagai insitutsi ilmu.</p>
<p>Saya rasa itu wajar kerana Al-Azhar ini jangan terlibat dalam konflik. Hal ini kerana kalau Al-Azhar  menyokong pemuda itu akan menjadi masalah sekarang, kalau menyokong Mubarak itu  akan menjadi masalah akan datang. Jadi kredibilitinya akan hilang. Kalau naik  pemerintah baru mungkin ada konflik juga. Syeikh Al-Azhar tidak  menyanggah apa yang pemuda buat dan dia juga tidak mengkritik kerajaan.  Dia menyebut perkara yang patut disebutnya. Dan mengekalkan kredibiliti  sebagai institusi ilmu. Ada orang yang tidak setuju dengan mengatakan  Al-Azhar <em>politiking</em> sebab tidak memberikan reaksi yang  menentang Hosni Mubarak. Susah kalau Al-Azhar nak kata begitu. Tapi  syeikh-syeikh seperti ‘Imarah memberi sokongan yang agak jelas kepada  pemuda dan tidak seorang pun yang menyokong Hosni Mubarak. Syeikh  Muhammad Qutb misalnya mengatakan bahawa demonstrasi ini adalah <em>syar’ie</em>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bagaimana pula dengan pandangan Mufti Mesir, Syeih Ali Gomaa?</strong></p>
<p>Dia menyeru supaya para <em>mutadhahirun </em>(penunjuk  perasaan) kembali ke rumah sebab dia bercakap dalam konteks apa yang  berlaku itu memudaratkan negara dari banyak segi. Itu pandangan dia  sebagai orang yang berada dalam institusi mufti negara. Ali Gomaa  (transliterasi bahasa arab ialah <em>‘Ali</em> <em>Jum’ah</em>~editor)  ini alim orangnya tetapi dia terpaksa memberi pandangan begitu. Dia  mengambil dari aspek itu sahaja iaitu mudarat kepada negara dan  melumpuhkan ekonomi. Sebenarnya pendemo itu langsung tidak merosakkan  harta benda. Mereka itu bersih daripada melakukan perkara-perkara  begitu. Yang buat kerosakan itu adalah pihak-pihak yang ingin sabotaj  dan penjenayah. Sebab itu fatwa Ali Gomaa itu payah untuk mereka terima.  Kata mereka kami bukan membuatkan kerosakan kepada negara, yang  merosakkan negara adalah mereka itu.</p>
<p><strong>Saya ingin tahu tentang keadaan mahasiswa dan rakyat Malaysia di sana?</strong></p>
<p>Rakyat Malaysia di Mesir memang tidak menghadapi ancaman dalam aspek adakah ada pihak yang ingin menyerang kita secara khusus. Itu tidak berlaku. Kecualilah mereka tidak tahu siapa kita dan menganggap kita orang Amerika misalnya. Tetapi amat mustahil untuk berlaku. Masalah yang timbul pada kita ialah masalah keselamatan daripada aspek diri dan harta benda. Sebab seperti yang saya katakan tadi ada lebih daripada 20 ribu banduan yang keluar penjara. Kemudian di Mesir itu juga ramai orang yang suka mencuri. Mereka ini akan mengambil peluang. Itu yang saya katakan di Mesir mesti sentiasa ada polis yang mengawal keamanan. Bila polis tiada memang keselamatan sangat membimbangkan.</p>
<p>Jadi buat masa ini yang selamatnya adalah di Mesir itu kita ada rumah-rumah negeri, kita ada Malaysia Hall di mana ia merupakan penempatan secara berkelompok. Jadi sekitar halamannya itu terjaga. Mereka juga rasa selamat. Saya dengar pelajar-pelajar sampai dua ratus orang berkawal tetapi untuk kawasan itu sahaja. Namun bagaimana dengan rakan-rakan yang duduk di luar dan sebahagian daripada mereka masuk ke sini meyebabkan keadaan sesak. Kalau seminggu mungkin boleh tetapi kalau sebulan sesak begitu akan bertambah sukar. Masalah untuk tidur dan makan akan timbul, sementelahan sekarang musim sejuk. Untuk jangka masa seminggu mungkin boleh bertahan. Makanan semakin kurang. Kedai semua tutup, bank tidak buka, ATM tidak berfungsi. Mereka ada kad tapi tak boleh keluarkan duit. Kalau ada duit mungkin boleh juga beli. Kemudian barang sekarang memang mahal. Naik sekali ganda. Sebelum saya balik lagi dah naik. Sekarang ini mungkin lebih. Dekat lapangan terbang jangan cakaplah, secawan teh RM100. Kalau kita tak nak beli peniaganya kata, tidak mengapa orang lain ada lagi yang akan beli. Ada pelajar kita kehabisan duit di lapangan terbang. Saya bukan nak menakut-nakutkan ibu bapa tetapi saya kena beritahu perkara yang sebenar. Dalam wawancara dengan Berita Harian minggu lepas, saya cadangkan supaya kena ada bantuan untuk bawa balik pelajar Malaysia kerana pelajar ini <em>dependent</em> bukan <em>independent</em> seperti kami yang dah berkerja. Kalau tidak ada yang tolong mereka di situ lah mereka duduk. Sebab itu saya cadangkan supaya hantar bantuan walaupun kapal perang.</p>
<p><strong>Jadi sehingga sekarang bagaimana bantuan?</strong></p>
<p>Sedikit masalah apabila hantar pesawat tentera. Sebab nak dapat perlepasan untuk hak mendarat susah. Kerana Mesir dalam keadaan begitu, sudah tentu sukar dia benarkan orang luar masuk apatah lagi tentera. MAS dah hantar satu kumpulan ke Jeddah. Kita tahu bahawa Mesir ini bukanlah sebuah negara yang mudah untuk berurusan. Kecuali kalau kamu ada <em>personal contact</em> dengan Hosni Mubarak. Dia pun sekarang bukan boleh dihubungi (ketawa). Saya ada dua cadangan, kalau terdesak saya cadangkan kapal perang tetapi saya rasa perlu <em>chartered flight</em>. Sebab tak rugi. Macam Tabung Haji buat untuk orang pergi Mekah. Satu pesawat itu kita guna. Yang mahalnya tiket kepal terbang ini bila kapal terbang tak penuh. Kita pun biasa buat begitu bila nak hantar pelajar ke Mesir dan Jordan. Masa itu ada pelajar 300 lebih, turun di Jordan 70 orang, bakinya pergi Kaherah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bagaimana dengan bantuan jalan darat dengan bas misalnya untuk keluar dari Mesir? </strong></p>
<p>Bas tak selamat. Takut kena rompak tengah jalan. Jadi yang paling selamat adalah jalan udara ataupun jalan laut. Satu lagi saya tidak dengar lagi kerajaan negeri yang membantu (<em>menurut laporan Bernama, kerajaan negeri Sabah memberikan bantuan membawa pulang pelajar-pelajarnya~editor</em>). Kenapa kerajaan negeri tidak tampil ke hadapan. Inilah masanya kita membantu. Jangan mengharapkan kerajaan pusat sahaja. Setiap kerajaan negeri harus ambil inisiatif. Sebab saya tahu kerajaan negeri banyak kali pergi ke Mesir. Kadang-kadang sampai 70 orang pergi satu rombongan. Itu dah separuh penerbangan. Kenapa dalam keadaan pelajar kita begini kita tidak boleh tolong.</p>
<p>Ambil contoh mudah misalnya satu negeri tawarkan satu penerbangan, kita dah ada sebelas kapal terbang. Semudah itu. Mungkin negeri yang kaya boleh memberi dua atau tiga. Selangor mungkin boleh beri tiga penerbangan, Perak, Pulau Pinang, Kedah misalnya miskin sikit mungkin beri kurang. Dan mungkin juga mengikut bilangan pelajar setiap negeri. Melaka mungkin satu kapal terbang sahaja. Sebenarnya kalau nak buat boleh. Isunya adakah kita ini prihatin atau tidak. Bila kita kata ibu bapa jangan melatah, siapa yang tak melatah, kalau kena anak sendiri baru kita tahu. Kita kena fikirkan tentang itu dan bertindak kena cepat. Kerana keadaan menjadi semakin buruk. Saya pun tidak nampak kalau Hosni Mubarak letak jawatan pun akan pulih. Akan memakan masa berbulan-bulan. Sebab bila naik kerajaan baru mesti ada kelompok yang ingin membalas dendam. Keadaan tidak akan tenteram juga. Seperti yang diketahui polis kebanyakan penyokong Mubarak. Jadi proses itu memakan masa. Jadi kena ambil kira soal ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kesimpulan Professor tentang apa yang berlaku di Mesir?</strong></p>
<p>Pandangan saya apa yang berlaku ini daripada perspektif seorang Muslim adalah positif bahawa ini adalah kemenangan untuk Islam. Bahawa kita hendaklah melihat ini sebagai kemenangan menentang penyelewengan dan penindasan. Suara untuk Islam itu semakin dapat diketengahkan dan kita harap Islam dapat memimpin suatu hari nanti kerana Mesir dengan kedudukannya yang strategik, dengan Tunisia yang akan dikuasai oleh golongan Islam. Sekarang sudah melebar ke Yaman, Jordan pun dah mula bangkit menentang penyelewengan dan banyak masalah di Jordan. Raja Jordan pun telah pecat Perdana Menteri dan lantik Perdana Menteri yang baru. Perkara ini akan berkembang. Kita lihat sebelum ini hanya berlaku di Algeria sahaja. Sekarang sudah merebak. Kita berharap kecemerlangan di rantau Timur Tengah itu akan kembali satu hari nanti setelah lama mereka yang cenderung kepada Islam tidak dapat berperanan.</p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>Disunting kembali: 12.30 pagi, 8 Februari 2011.</em><strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2012/01/azmin-ali-901-peluang-polis-pulihkan-imej-yang-tercalar/" rel="bookmark" title="5 Januari, 2012">Azmin Ali: 901 Peluang Polis Pulihkan Imej yang Tercalar</a></b> Ammar Gazali</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/02/persamaan-antara-revolusi-di-mesir-dan-iran/" rel="bookmark" title="11 Februari, 2011">Persamaan antara Revolusi di Mesir dan Iran</a></b> Fareed Zakaria</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/06/seruan-bersih-2-0/" rel="bookmark" title="27 Jun, 2011">Seruan Bersih 2.0</a></b> Hasmi bin Hashim</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/10/demi-rakyat-jerman/" rel="bookmark" title="31 Oktober, 2011">Demi Rakyat Jerman</a></b> Najwan Halimi</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/02/revolusi-ini-akan-diteruskan/" rel="bookmark" title="9 Februari, 2011">Revolusi Ini Akan Diteruskan</a></b> SPIEGEL Online</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2008/01/kebebasan-berekspresi-itu-suci/" rel="bookmark" title="8 Januari, 2008">Kebebasan Berekspresi Itu Suci</a></b> admin</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 49.325 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2011/02/menyaksikan-kebangkitan-rakyat-mesir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlu Ada Kompromi</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2010/12/perlu-ada-kompromi/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2010/12/perlu-ada-kompromi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 07:12:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Takeshi Fujitani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Aung San Suu Kyi]]></category>
		<category><![CDATA[Burma]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>
		<category><![CDATA[Jeneral Senior Than Shwe]]></category>
		<category><![CDATA[Jepun]]></category>
		<category><![CDATA[Myanmar]]></category>
		<category><![CDATA[The Asahi Shimbun]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=2205</guid>
		<description><![CDATA[Pemimpin pro-demokrasi Burma, Aung San Suu Kyi mengatakan bahawa gerakannya dan junta tentera negara itu perlu berkompromi dalam usaha untuk membina sebuah negara demokrasi Myanmar (Burma). ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//suukyi_major.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2213" title="suukyi_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//suukyi_major.jpg" alt="" width="600" height="509" /></a></p>
<p>Pemimpin pro-demokrasi Burma, Aung San Suu Kyi mengatakan bahawa gerakannya dan junta tentera negara itu perlu berkompromi dalam usaha untuk membina sebuah negara demokrasi Myanmar (Burma).</p>
<p>Aung San Suu Kyi memberi komen itu dalam wawancara telefon dengan Takeshi Fujitani dari <em>The Asahi Shimbun</em> pada hari Rabu dari rumahnya di Yangon (Rangoon).</p>
<p>Aung San Suu Kyi menyatakan bahawa dia bersedia untuk mengambil sikap yang lebih fleksibel pada isu-isu masa lalu yang telah membawa kepada konfrontasi dengan junta tentera, termasuk menolak untuk membolehkan keputusan pilihan raya tahun 1990 diterima dan Perlembagaan baru yang diterapkan oleh junta.</p>
<p>&#8220;Jika seseorang percaya pada dialog, dia juga harus percaya pada kompromi,&#8221; kata Aung San Suu Kyi.</p>
<p>Wawancara itu berlaku selepas 11 hari Aung San Suu Kyi dibebaskan daripada tahanan rumah.</p>
<p>&#8220;Selama lebih kurang 10 hari terakhir sejak saya dibebaskan, telah menjadi sangat jelas bahawa orang benar-benar inginkan perubahan,&#8221; katanya.</p>
<p>Beliau mengatakan junta tentera telah mengakui bahawa perlu sekurang-kurangnya memaparkan secara luaran bahawa mereka bergerak menuju demokrasi. Pilihanraya baru-baru ini, walaupun mereka dikritik kerana tidak adil, menunjukkan pengiktirafan itu.</p>
<p>Ketika ditanya tentang perpecahan dalam gerakan pro-demokrasi sebelum pilihan raya itu, Aung San Suu Kyi mengatakan dia komited untuk berkerjasama.</p>
<p>&#8220;Jika anda percaya pada demokrasi, anda harus menerima adanya kepelbagaian,&#8221; katanya. &#8220;Kita perlu cuba untuk mewujudkan lembaga-lembaga demokrasi dan amalan demokrasi, yang akan membolehkan kita untuk tidak bersetuju tanpa mengganggu perjalanan seluruh negara.&#8221;</p>
<p>Ditanya tentang hubungan dengan negara-negara lain, Aung San Suu Kyi mengatakan dia akan melakukan dialog yang lebih baik dengan China dan India, jiran Myanmar yang kuat.</p>
<p>Dia mengatakan juga akan perlu untuk menilai kesan sekatan ekonomi yang dipaksakan oleh Barat, dan perlu ada usaha untuk menyemak semula sekatan itu.</p>
<p>Dia mengatakan bahawa masyarakat Jepun lebih menyokong gerakan demokrasi di Myanmar daripada kerajaan mereka. &#8220;Kami sentiasa berfikir bahawa kerajaan Jepun dapat memberikan sumbangan lebih,&#8221; katanya.</p>
<p>Beliau berkata bahawa beliau telah memohon kepada kerajaan Myanmar untuk izin mengakses Internet dari rumahnya. Katanya beliau ingin menggunakan Facebook untuk berhubung dengan orang-orang muda di seluruh dunia.  Ini adalah teks penuh wawancara tersebut:</p>
<p><strong>Soalan: Kamu dapat menemui anak kamu. Pada masa yang sama, ada 2,000 orang yang ditahan dan tidak mempunyai akses kepada keluarga mereka. Bolehkah anda berkongsi pemikiran anda pada situasi yang dihadapi oleh mereka itu?</strong></p>
<p>Jawapan: Saya sangat senang bahawa anda mengajukan soalan ini. Ini adalah tepat apa yang ingin saya katakan. Saya sangat menghargai fakta bahawa pihak berkuasa mengeluarkan visa untuk anak saya supaya dia boleh datang menemui saya, dan saya ingin mereka untuk melakukan segala sesuatu yang mereka boleh untuk membuatnya mungkin bagi semua keluarga yang telah terpisah kerana penangkapan ahli keluarga untuk dapat berkumpul kembali dengan gembira.</p>
<p><strong>S: Bagaimana perasaan anda tentang generasi muda? Mungkin ini pertama kalinya mereka melihat anda, Aung San Suu Kyi sebenarnya. Adakah anda mengharapkan ini dari kerumunan, dengan kaum muda begitu banyak, datang untuk melihat anda dan menyokong anda?</strong></p>
<p>J: Ini berbeza dengan kesempatan sebelumnya ketika orang muda kurang sedikit dalam kerumunan itu, tapi saya tidak boleh mengatakan itu adalah kejutan sepenuhnya kerana akan selalu ada orang-orang muda. Peningkatan dalam jumlah yang hadir itu adalah yang saya temukan sangat menyegarkan dan menggalakkan. Saya sangat, sangat senang bahawa ada lebih banyak orang muda terlibat dalam proses politik.</p>
<p><strong>S: Dalam soal proses politik, anda telah menekankan berkali-kali bahawa penyertaan awam adalah suatu kemestian dan tanpa itu, tidak ada apa yang dapat dicapai. Saya ingin bertanya apa rencana anda atau platform untuk mendapatkan suara-suara terlibat?</strong></p>
<p>J: Ya, kita sudah mulakan dengan cara yang sangat praktikal. Pertama, kami memulakan dengan pertemuan dengan beberapa calon bebas yang bertanding dalam pilihan raya, kerana mereka juga merupakan sebahagian daripada warga kita. Dan hanya kerana anda tidak berasal daripada sebuah parti politik, bukan bererti kita tidak boleh bekerja sama. Pada masa yang sama, kami berusaha untuk menguatkan perkhidmatan sosial kami, projek-projek kemanusiaan. Dengan cara itu, kami boleh menjadi dekat dengan masyarakat, dan orang akan belajar untuk membantu diri mereka sendiri. Kami ingin membantu mereka untuk membantu diri mereka sendiri, dan pada masa yang sama kami ingin mereka untuk membantu kami untuk mencapai matlamat politik kami, yang serupa dengan matlamat mereka.</p>
<p><strong>S: Bagaimana anda boleh menyatukan kekuatan-kekuatan politik, termasuk Front Demokrasi Nasional (NDF)?</strong></p>
<p>J: Jika anda percaya pada demokrasi, anda harus menerima bahawa ada yang namanya kepelbagaian. Saya tidak berfikir ada negara di dunia, bagaimana demokratik sekalipun, di mana semua orang bersetuju. Lagi pula, di negara anda, juga, ada banyak parti politik. Dan setelah bertahun-tahun amalan demokrasi, mereka masih tidak bersetuju pada setiap perkara. Jadi saya fikir kita harus menerima bahawa akan sentiasa ada ketidaksepakatan kerana itulah manusia. Namun, pada masa yang sama, kita harus cuba untuk mewujudkan lembaga demokrasi dan amalan demokrasi, yang akan membolehkan bagi kita untuk tidak bersetuju tanpa mengganggu seluruh negara. Anda harus memahami bahawa perbezaan pendapat itu tidak bermakna bahawa anda harus memecahbelahkan negara. Kamu berbicara tentang ketidaksetujuan kamu, dan kadang-kadang kamu hanya perlu setuju atau tidak setuju.</p>
<p><strong>S: Anda menekankan tentang rekonsiliasi nasional. Apakah itu termasuk junta? Bagaimana anda mengharapkan mereka untuk berdialog dengan anda?</strong></p>
<p>J: Kepelbagaian adalah bukan sesuatu yang mudah diterima oleh pemikiran tentera. Namun, pada masa yang sama, bahkan rejim ini, seperti yang kita lihat, telah mengatakan bahawa mereka bekerja untuk demokrasi, walaupun jika mereka memenuhi syarat-syarat itu dengan mengatakan ia &#8220;demokrasi berdisiplin.&#8221; Jadi trend di dunia ini adalah seperti hari ini, sekurang-kurangnya secara kulitnya, bahkan diktator harus menerima bahawa kerajaan demokratik adalah yang paling dikehendaki. Dan, itu langkah pertama: fakta bahawa mereka harus menerima demokrasi yang dikehendaki, bahkan jika mereka cuba untuk memenuhi syarat itu dalam beberapa cara atau yang lain. Dan kemudian, tentu saja, ketika orang-orang terus bertanya pada saya, &#8220;Bagaimana kamu boleh mencapai rekonsiliasi dengan mereka jika ada begitu banyak perbezaan,&#8221; jawapan saya ialah oleh kerana perbezaan-perbezaan itulah yang menyebabkan kita harus cuba untuk mencapai rekonsiliasi. Ada perbezaan untuk berdamai. Jika tidak ada perbezaan, maka tidak akan ada keperluan untuk rekonsiliasi.</p>
<p><strong>S: Adakah anda berhubung dengan mereka setakat ini?</strong></p>
<p>J: Belum lagi, jika anda maksudkan dengan hubungan peringkat tinggi daripada mereka, kita tidak mempunyai semua ini sama sekali.</p>
<p><strong>S: Jika melihat kembali pada 20 tahun terakhir, saya tertanya-tanya adakah terlalu optimis untuk mengharapkan semacam kompromi?</strong></p>
<p>J: Oh, saya sangat yakin bahawa saya seorang optimis yang berwaspada. Dan saya fikir ada alasan yang kuat untuk sekurang-kurangnya mempunyai optimisme dengan kewaspadaan, kerana rakyat sangat menginnginkan perubahan. Dan selama beberapa hari ini.., lebih dari 7 hari sekarang saya fikir sejak saya dibebaskan &#8230; selama 10 hari terakhir atau lebih sejak pelepasan saya, itu telah menjadi sangat jelas bahawa rakyat benar-benar mahukan perubahan.</p>
<p><strong>S: Adakah anda ingin berbicara dengan Jeneral Senior Than Shwe?</strong></p>
<p>J: Oh, saya ingin berbicara dengan siapa saja yang berada dalam kedudukan untuk cuba membawa perubahan yang tulen.</p>
<p><strong>S: Apa batas akhir (<em>bottom line</em>) untuk anda? Anda mempunyai perbezaan besar dalam isu keputusan pilihan raya 1990 dan juga Perlembagaan, adakah anda bersedia untuk membuat semacam kompromi pada perkara-perkara tertentu?</strong></p>
<p>J: Jika seseorang percaya pada dialog, seseorang harus percaya pada kompromi juga. Jika anda tidak bersedia untuk kompromi, maka tidak ada gunanya mengatakan bahawa anda ingin dialog, kerana tidak akan menjadi dialog yang sebenarnya. Tapi kita tidak mengatakan apa yang menjadi batas akhir, kerana saya fikir sangat berbahaya untuk masuk ke perundingan, sebelum bahkan ada sebarang bisikan pun untuk melakukan perundingan, dengan mengatakan ini adalah batas akhir.</p>
<p><strong>S: Kadang-kadang media melabel anda sebagai sangat tidak fleksibel, namun pandangan anda ini terdengar sangat fleksibel.</strong></p>
<p>J: Ketika media mengatakan bahawa saya tidak fleksibel, saya meminta mereka untuk memberi saya contoh khusus dan kemudian mereka tidak tahu harus berkata apa. Jadi, saya perlu menanyakan apa yang anda maksud dengan mengatakan saya tidak fleksibel. Sila berikan contoh yang khusus? Apa yang saya lakukan yang anda anggap tidak fleksibel? Biasanya saya tidak mendapatkan jawapan sama sekali.</p>
<p><strong>S: Jadi, izinkan saya bicara tentang masalah sekatan. Saya fikir anda telah katakan sebelumnya bahawa anda perlu mengkaji atau menilai kesan daripada sekatan sebelum membuat keputusan?</strong></p>
<p>J: Tentu saja, saya tidak berfikir ini harus menjadi kejutan besar, kerana, sekitar setahun yang lalu saya membuat tawaran kepada SPDC (State Peace and Development Council) untuk bercakap dengan mereka tentang pemansuhan sekatan. Saya berkata bahawa saya bersedia untuk bekerjasama dengan mereka untuk memansuhkan sekatan ekonomi yang menyakitkan masyarakat luas. Respons daripada mereka adalah bukan yang kita inginkan. Tapi perasaan kita pada soal itu, pandangan kita pada hal itu, tidak berubah sama sekali. Jika sekatan benar-benar menyakiti rakyat, maka kita harus meninjau kembali situasi kerana kita tidak mahu rakyat disakiti tanpa sebab. Tapi, tentu saja, ada banyak yang berbeza pendapat tentang hal itu. Sebuah lembaga ekonomi yang sangat terhormat mengatakan bahawa sekatan hampir tidak mempunyai kesan pada situasi ekonomi di negera ini.</p>
<p><strong>S: Adakah anda menyedari kesan buruk pada orang miskin?</strong></p>
<p>J: Ini adalah apa yang saya sedang ingin tahu. Saya telah mendengar bahawa penutupan beberapa kilang tekstil tertentu telah mencipta sejumlah kehilangan pekerjaan. Statistik berbeza dari organisasi ke organisasi, beberapa orang mengatakan beberapa puluhan ribu, ada yang mengatakan seratus ribu. Tetapi tidak ada bukti berapa banyak yang menganggur. Dan kemudian, tentu saja, ada beberapa yang mengatakan bahawa semua wanita pekerja yang kehilangan pekerjaan mereka semua menjadi pekerja seks komersial. Yang juga terbuka untuk dipersoalkan. Hal ini tidak sesederhana seperti yang didakwa itu: bahawa setiap pekerja wanita yang kehilangan pekerjaan, menjadi pekerja seks komersial. Ini, bagi saya, terdengar seperti kedudukan yang agak ekstrim.</p>
<p><strong>S: Sekarang, kita mempunyai lanskap politik yang sama sekali berbeza di rantau tersebut. Salah satu faktor adalah China dan India, yang kekuatannya muncul dan benar-benar sangat berpengaruh dalam ekonomi dan politik Burma. Bagaimana anda berkomunikasi dengan mereka? Mereka tidak mempunyai hubungan yang cukup dengan anda.</strong></p>
<p>J: Maka, kita harus cuba bercakap dengan mereka, bukankah begitu? (Kita harus) memujuk mereka untuk berbicara dengan kita.</p>
<p><strong>S: Apakah jenis peranan yang anda harapkan mereka (negara tersebut) mainkan?</strong></p>
<p>J: Hal ini sangat bergantung pada apa yang mereka sedia untuk lakukan dan apa yang kita mungkin boleh memujuk mereka lakukan. Ini bukan sesuatu yang kita boleh putuskan sendiri.</p>
<p><strong>S: Apa penilaian anda tentang peranan negara-negara Barat, termasuk Jepun, dan juga Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu? Pada satu saat anda cukup kritis terhadap PBB, seperti yang saya faham.</strong></p>
<p>J: Saya fikir PBB harus dapat memainkan peranan lebih besar dalam apa yang berlaku di negara kita, dan saya fikir ada banyak hal yang kita perlu bincangkan tentang perkara ini.</p>
<p><strong>S: Bagaimana dengan Jepun? Apakah ada sesuatu kerajaan Jepun dapat berikan sumbangan?</strong></p>
<p>J: Ya, kita selalu berfikir bahawa kerajaan Jepun dapat memberikan sumbangan lebih. Saya mendapati rakyat Jepun, pada umumnya, jauh lebih menyokong daripada kerajaan mereka, walaupun saya ingin katakan dengan sangat jelas bahawa kita berfikir bahawa kerajaan itu  melakukan sesuatu lebih daripada yang telah dilakukan untuk masa yang lama oleh kerajaan lain. Jadi, kami menghargai apa yang mereka telah lakukan dengan cuba untuk membantu situasi di Burma, tapi kami tetap ingin mereka cuba untuk berbuat lebih banyak.</p>
<p><strong>S: Apakah anda pernah berhubung dengan Kedutaan Besar Jepun di Yangon selama tahanan rumah, misalnya?</strong></p>
<p>J: Tidak, tidak ketika saya di dalam tahanan rumah. Saya tidak fikir adalah mungkin bagi mereka untuk menghubungi saya.</p>
<p><strong>S: Bercakap sedikit tentang teknologi baru, anda menyatakan minat untuk menggunakan Twitter, dan Facebook. Saya tertanya-tanya bagaimana anda boleh memanfaatkan alat digital seperti untuk menyebarkan idea dan fikiran?</strong></p>
<p>J: Ya, saya hanya ingin berhubung dengan orang-orang muda dari seluruh dunia, bukan hanya rakyat Burma, tapi orang-orang muda di luar Burma juga. Dan saya fikir bahawa Twitter tentu saja, anda tahu saya tidak pernah menggunakan Twitter sendiri, atau Facebook kerana saya tidak dibenarkan memiliki Internet tatkala saya berada di bawah tahanan rumah, tapi saya mendengar tentang mereka di radio, dan saya fikir mungkin satu idea yang baik untuk berhubung dengan orang-orang muda dengan cara ini. Namun reaksi daripada sebahagian besar anak muda Burma adalah Facebook lebih mudah bagi mereka. Itu lebih mudah diakses bagi mereka. Dan, bagaimanapun, saya telah memohon kepada pihak yang bersangkutan untuk memiliki sambungan internet. Anda perlu meminta izin di Burma. Jadi, saya sedang menunggu untuk mengetahui apakah permohonan tersebut akan ditangani secara positif.</p>
<p><strong>S: Jadi maksud anda, anda ingin mempunyai akses internet di rumah?</strong></p>
<p>J: Saya tidak punya sama sekali. Saya sudah membuat permohonan. Saya sedang menunggu untuk mengetahui apakah saya akan dapat mempunyai akses. Ia seperti itu di Burma.</p>
<p><strong>S: Adakah anda benar-benar merasa bebas sekarang? Adakah anda merasa bebas dari sebarang kebimbangan mengenai tahanan rumah atau intimidasi?</strong></p>
<p>J: Saya tidak boleh mengatakan dengan pasti apa yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi. Saya berharap bahawa tidak akan ada lagi insiden kekerasan dalam bentuk apapun di masa depan, dan saya tentu berharap bahawa saya tidak akan diletakkan kembali di bawah tahanan rumah, tapi saya tidak boleh menjamin hal itu, kerana saya bukan orang yang membuat keputusan.</p>
<p><strong>S: Adakah anda mempunyai rancangan untuk pergi ke luar Rangoon, atau bahkan ke luar negeri?</strong></p>
<p>J: Tidak pada saat ini, kerana saya bahkan belum mampu melunaskan tunggakan kerja di Rangoon.</p>
<p><strong>S: Adakah anda berharap untuk melihat perubahan besar dalam waktu terdekat?</strong></p>
<p>J: Ya, begini yang saya maksudkan. Kita berharap akan ada perubahan ke arah yang lebih baik, dan untuk permulaan tidak usahlah kita fikir itu dalam hal &#8220;besar&#8221; atau &#8220;kecil&#8221;. Mari kita berharap perubahan apapun adalah baik.</p>
<p><strong>S: Kelmarin dahulu, Mahkamah Agung menolak permohonan anda tentang pembubaran parti. Apakah hal ini akan mempengaruhi aktiviti anda di masa mendatang?</strong></p>
<p>J: Saya tidak fikir itu benar-benar akan mempengaruhi kedudukan sebenar kita, kerana itu harus dilakukan dengan sokongan rakyat, yang tetap sangat kuat. Ada dua bahagian tentang rayuan itu. Itu bukan rayuan, jadi mereka tidak boleh menolak di bawah undang-undang. Ini merupakan kes sivil yang sebenar, dan tidak terbuka untuk diterima atau tidak diterima. Ia harus diterima. Jadi, apa yang kita lakukan adalah untuk mengemukakan rayuan keputusan bahawa ini perlu diperlakukan seperti satu rayuan, bukan sebagai sebuah kes sebenar.</p>
<p><strong>S: Pada pandangan anda adakah National League for Democracy (NLD) adalah institusi yang sah?</strong></p>
<p>J: NLD adalah institusi yang sah jika kita pergi mengikut undang-undang. Jika kita tidak mengikut undang-undang, maka tidak ada apa-apa yang sah.</p>
<p><strong>S: Jadi, aktiviti anda akan didasarkan pada organisasi ini, NLD itu?</strong></p>
<p>J: Sudah tentu. Kami berharap untuk memiliki rangkaian rakyat, gerakan bagi demokrasi, sehingga kita menjadi sebahagian daripada rangkaian, bukan sebuah parti politik yang terpencil.<strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/01/siri-2-surat-kedua-dan-ketiga-rainer-maria-rilke/" rel="bookmark" title="31 Januari, 2009">Siri 2: Surat Kedua dan Ketiga Rainer Maria Rilke</a></b> admin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/06/surat-terbuka-buat-noynoy/" rel="bookmark" title="30 Jun, 2010">Surat Terbuka Buat Noynoy</a></b> F. Sionel Jose</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/01/saya-tidak-ada-musuh/" rel="bookmark" title="21 Januari, 2011">Saya Tidak Ada Musuh</a></b> Liu Xiaobo</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/01/musuh-yang-biasa-dikenal/" rel="bookmark" title="13 Januari, 2011">Musuh yang Biasa Dikenal</a></b> Joharah Baker</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2008/01/seni-bahasa-universal-agama/" rel="bookmark" title="19 Januari, 2008">Seni, Bahasa Universal Agama</a></b> admin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/02/revolusi-ini-akan-diteruskan/" rel="bookmark" title="9 Februari, 2011">Revolusi Ini Akan Diteruskan</a></b> SPIEGEL Online</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 57.311 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2010/12/perlu-ada-kompromi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Idealis Revolusioner: Antara Shari&#8217;ati dan Motahhari</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2010/10/idealis-revolusioner-antara-shariati-dan-motahhari/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2010/10/idealis-revolusioner-antara-shariati-dan-motahhari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 06:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aqil Fithri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Abbas Manoochehri]]></category>
		<category><![CDATA[Abdolkarim Sorush]]></category>
		<category><![CDATA[al-Banna]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Rahnema]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Shari’ati]]></category>
		<category><![CDATA[Amien Rais]]></category>
		<category><![CDATA[Aqil Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Dawam Rahardjo]]></category>
		<category><![CDATA[Ervand Abrahamian]]></category>
		<category><![CDATA[Franz Fanon]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Gustavo Gutiérrez]]></category>
		<category><![CDATA[Haidar Bagir]]></category>
		<category><![CDATA[Hamid Algar]]></category>
		<category><![CDATA[Hasan Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Hussain Shahab]]></category>
		<category><![CDATA[Ibn Taymiyya]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Institute of Southeast Asian Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Mahmoud Ahmadinejad]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[Mehdi Bazargan]]></category>
		<category><![CDATA[Mohammad Khatami]]></category>
		<category><![CDATA[Motahhari]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Natsir]]></category>
		<category><![CDATA[Nasir Tamara]]></category>
		<category><![CDATA[Nurcholish Madjid]]></category>
		<category><![CDATA[Rafsanjani]]></category>
		<category><![CDATA[Revolusi Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Ruhollah Khomeini]]></category>
		<category><![CDATA[Sayyed Qutb]]></category>
		<category><![CDATA[Umar Shahab]]></category>
		<category><![CDATA[Université Sorbonne]]></category>
		<category><![CDATA[Zaynab al-Kubra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=2105</guid>
		<description><![CDATA[Wawancara dengan Nasir Tamara, pengarang buku <i>Revolusi Iran</i> (1980) dan <i>Indonesia Rising: Islam, Democracy and the Rise of Indonesia as a Major Power</i> (2009) memberikan tanggapan mendalam tentang beberapa tokoh Indonesia dan sejarah intelektual di negara itu. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2124" class="wp-caption alignleft" style="width: 610px"><a href="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//tamara_major.jpg"><img class="size-full wp-image-2124" title="tamara_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//tamara_major.jpg" alt="" width="600" height="398" /></a><p class="wp-caption-text">Nasir Tamara ketika diwawancara. © Aqil Fithri</p></div>
<p>Pada 1 Februari 1979, adalah hari revolusi. Di Mehrabad, Ruhollah Khomeini turun dari Air France Boeing 747. Memandang sayup-sayup. Di tengah-tengah lautan masharakat Parsi tersebut, muncul seorang anak muda Indonesia yang maseh menuntut di Sorbonne. Namanya Nasir Tamara, yang merakam tempuhan perjalanannya dari Paris ke Tehran, bersama Khomeini. Kenangan itu dilimpahkannya dalam buku yang fenomenal, <em>Revolusi Iran</em> (1980). Dan, dalam denyut revolusi inilah, Nasir ini begitu terkesan dengan dua dominasi gambar, yang melata di mana-mana waktu itu: “Pertama, Ruhollah Khomeni, tentunya. Dan, kedua, Ali Shari’ati.” Hari ini, saksi mata dari Revolusi Iran ini bertugas di Institute of Southeast Asian Studies, Singapura, serta baru menerbitkan buku <em>Indonesia Rising: Islam, Democracy and the Rise of Indonesia as a Major Power</em> (2009). Tapi, pengalamannya tentang Iran, tentang jalinannya dengan Indonesia, tentang perkembangan Shiah pasca-Revolusi, adalah sesuatu yang amat berharga untuk dibiarkan luput begitu saja. Justeru, wawancara ini cuba untuk mengimbas kembali ingatannya tentang tema-tema tersebut, serta kaitannya dengan intelektualisme dan aktivisme di Indonesia. Maka, Aqil Fithri— zamil Cendikiawan Awam Asia 2009/2010, tajaan Nippon Foundation, Jepun—berkesempatan menemubualnya di Jakarta setelah Seminar Hubungan Sejarah &amp; Kebudayaan Indonesia-Iran pada 28 April 2010.</p>
<p><strong>Sejauh anda kesan, bagaimanakah pengaruh Shari’ati dan Motahhari di Indonesia?</strong></p>
<p>Pertamanya, perkenalan saya dengan Ali Shari’ati banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan pendidikan saya. Ini kerana, kami sama-sama dari Université Sorbonne. Lantas, banyak guru dan teman Shari’ati di Sorbonne, yang ada antaranya sempat saya temui. Apatah lagi, dasar pendidikan saya adalah pemikiran Islam, justeru tentu saja bersentuhan dengan pemikiran Shari’ati. Seperti yang kita ketahui, sejarah hidup Shari’ati berakhir di Southampton, dikebumikan di Damsyik, bersebelahan makam Zaynab al-Kubra. Sewaktu di Iran, setelah pulang dari Sorbonne, Shari’ati mengerakkan Husainiyyah Irshad, yang menarik ribuan anak muda, sekaligus menyuntik kebangkitan Islam yang revolusioner. Itu Shari’ati, dan jalan sejarahnya. Kebetulan, saya berkesempatan juga bersama dengan penerbangan Almarhum Khomeini dari Paris ke Tehran, untuk meraikan Revolusi Iran 1979. Kepulangan Khomeini itu adalah yang pertama kali setelah 23 tahun dalam pengasingan, yang pernah terlempar di Turki, Iraq, dan Perancis.  Nah, ketika saya turun dari lapangan terbang Mehrabad, dan kemudiannya menelusuri jalanraya di Tehran, ternyata hanya terpampang dua gambar; Khomeini dan Shari’ati. Ketika itu, tiada Morteza Motahhari. Inilah dua sosok yang awal-awal menghiasi revolusi tersebut. Mengapa Motahhari tiada? Saya fikir Motahhari adalah fenomena belakangan. Fenomena yang barangkali hanya untuk mengimbangi kemasyhuran Shari’ati. Kerana itulah, beberapa mullah mengajukan Motahhari sebagai bandingannya. Maknanya, di sana barangkali ada ketidaksenangan dari kalangan agamawan dengan kalangan intelektual. Memang, sama seperti Shari’ati, Motahhari juga menguasai pemikiran barat dengan baik. Dalam karya-karyanya memang terdapat banyak juga kutipannya tentang pemikiran barat. Apatah lagi, Motahhari ternyata dibesarkan dalam pangkuan revolusi ini, sehingga hayatnya berakhir setelah kejayaan revolusi tersebut, iaitu pada 1 Mei 1979. Maka, satu faktor ini dapat menjadi landasan pembuktian bahawa Motahhari adalah fenomena belakangan, yakni sesudah kemuncak revolusi. Lantaran itulah, peranan Motahhari muncul lebih lewat di Indoensia, berbanding dengan Shari’ati.</p>
<p><strong>Mengapa hal ini terjadi? </strong></p>
<p>Saya fikir kerana mullah yang berkuasa di Iran mahu mengangkat Motahhari. Maksudnya, penobatan Motahhari adalah agenda pemerintah. Tidak seperti Shari’ati yang tumbuh dan mendapat pengiktirafan secara sosial. Mithalnya, Motahhari itu adalah dari kalangan agamawan, maka sudah tentu cocok dengan sistem Velayatul Faqeh, yang diamalkan di Iran dewasa ini. Sebaleknya, Shari’ati itu berdikari, pemikir bebas (free thinker), yang ini semua disepakati oleh pakar-pakar Iranologi, seperti Hamid Algar, Ali Rahnema, Abbas Manoochehri, Ervand Abrahamian, dll. Tentang Shari’ati di Indonesia, saya mengamati pertama kali bukunya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indoensia adalah dari tangan Amien Rais. Buku itu adalah <em>Man and Islam</em>, yang dalam terjemahannya menjadi “Tugas Cendikiawan Muslim.” Saya maseh ingat, buku itu terjual 5000 naskah (cetakan pertama) dalam hanya beberapa minggu. Kemudian buku yang sama dicetak kembali oleh Penerbit CV Rajawali. Bagi saya, itu fenomenal. Persoalannya, kenapa Amien Rais memilih Shari’ati, tidak Motahhari? Kerana prinsip ini: “kalangan pemikir bebas saja yang mengenal pemikir bebas yang lainnya.” Amien Rais adalah pemikir bebas, dan ternyatanya mengenal juga Shari’ati sebagai seorang pemberontak, revolusioner, anti status-quo. Apatah lagi, kita harus ingat, bersamaan saat itu juga, Amien Rais turut berdepan dengan Orba (Order Baru), di bawah regim Soeharto. Jadi, ada kemiripan persekitaran antara Amien Rais dengan Ali Shari’ati, sehingga mendorongnya menterjemahkan karya tersebut.</p>
<p><strong>Tapi, kelihatannya bukan saja di Iran, bahkan ada juga beza penerimaan antara Shari’ati dan Motahhari di Indonesia. Kalau Shari’ati, itu lebih tertumpu pada dunia intelektual, kampus-kampus, dll. Manakala, kalau Motahhari pula banyak diperhatikan di kalangan pesantren-pesantren, kelompok-kelompok shiah, dll.</strong></p>
<p>Saya kira, pandangan itu benar. Memang Shari’ati lebih mudah diterima semua, berbanding Motahhari. Mithalnya saja, kalau kita membaca karya Shari’ati tentang Hajj, itu dapat diterima oleh kalangan Sunni, dan kelompok-kelompok lain juga. Barangkali kerana, rujukan Shari’ati banyak dari sumber Sunni. Jadi, saya setuju, Shari’ati lebih terbuka untuk semua, manakala Motahhari lebih terbatas.</p>
<p><strong>Tapi, sejauh mana sebenarnya pengaruh Shari’ati, juga pengaruh Motahhari, dalam konteks mahasiswa indonesia, terutamanya sebelum reformasi 1998?</strong></p>
<p>Dampaknya lebih besar pada Shari’ati. Sebab, Shari’ati lebih menjelaskan soal penindasan, serta langkah-langkah praktis dari agenda mahasiswa dalam mrealisasikan perubahan regim. Begini, ketika zaman Soeharto, Marxisme di Indonesia memang dilarang. Tapi, dalam diam-diam, Marxisme ada pembacanya. Lalu, ada yang terkesan dengan pembacaan teologi pembebasan (<em>liberation teology</em>) yang berangkat dari pengalaman Amerika Latin, dan memang suasana itu begitu kental sekali pada dekad 80-an. Mendapat pembacaan itu tempat di kalangan anak-anak muda, serta para aktivis kiri di Indonesia. Jadi, bertitik tolak dari sini, Shari’ati masuk. Bagi mereka, Shari’ati rupanya berdiri sebaris dengan semangat teologi pembebasan tersebut, namun dari versi Islam. Seruan-seruan Shari’ati terhadap kebersamaan, terhadap perlawanan, terhadap pembelaan yang tertindas, itu telah merangsang lagi daya pikat kalangan ini pada sosok Shari’ati. Demikian juga Shari’ati membahaskan tentang perbezaan kelas, yang sarat dari bukunya <em>Marxism and Other Western Fallacies</em> tersebut, dan itu ternyata adalah senada dengan Marxisme. Ertinya apa? Ertinya adalah, barangkali Gustavo Gutiérrez adalah wakil dari Katolik, dari Latin, sebaleknya Shari’ati adalah wakil—dalam semangat yang sama—dari Islam, dari Asia. Memang, tahun-tahun 80-an itu, para mahasiswa Indonesia begitu bertenaga sekali. Di Yogyakarta terutamanya, tahun-tahun tersebut begitu meriah dengan nuansa kebangkitan mahasiswa Indonesia.</p>
<p><strong>Bagaimanapun, setelah reformasi berlainan? Seakan ketakjuban terhadap Shari’ati, juga barangkali pada Motahhari, kian meredam?</strong></p>
<p>Benar, kerana semuanya sudah dibicarakan. Perlawanan terhadap kekuasaan juga sudah dilewati. Menurut saya, dewasa ini mutu intelektual Indonesia sebenarnya jauh lebih maju dari pemikiran Shari’ati. Mithalnya, dalam aspek tadbir urus negara, pemikiran Shari’ati jelas maseh terbatas dalam ideal, dalam fikiran. Sebaleknya, cendikia Indonesia, seperti Gus Dur, Amien Rais, dll, itu sudah terlibat dalam sistem politik kekuasaan. Mereka sudah lebih praxis, atau lebih praktis. Sebab itu, saya berpendapat, dalam hal ini, Indonesia lebih maju dari perkembangan pemikiran di Iran, juga di negara-negara Arab. Lihat saja, Sayyed Qutb, al-Banna, dll, mereka maseh lagi terkepung dengan paradigma lama. Mereka tersisih dari penglibatan dengan kekuasaan, dan tidak dapat menembus arus-perdana dalam kekuasaan. Walhal, Amien Rais, Gus Dur, begitu juga Muhammad Natsir, mereka sudah ke hadapan.</p>
<p><strong>Tapi, bukankah Iran juga maseh ada warisannya, seperti dari Abdolkarim Sorush, Mohammad Khatami malahan. </strong></p>
<p>Memang, di satu sisi, Iran juga sudah memulai. Tapi, mereka maseh terbatas dalam wilayah paradigma mereka. Belum melampaui dari sistem yang sedia-ada. Manakala, Soroush itu jelas dalam kerangka teori lagi. Manakala, Khatami maseh bergerak dalam bingkai Velayatul Faqeh yang dibikin lebih awal Khomeini. Jadi, tidak ada pemikiran asli dari mereka. Perhatikan sekarang, Mahmoud Ahmadinejad terus memperkasakan Iran dalam konteks murni yang dibina oleh Khomeini. Jika ada sekalipun, itu dikenali sebagai reformasi dalam revolusi: hanya sebuah perubahan dalaman. Bukan sebuah perubahan struktur. Sementara Indonesia, sudah mengalami perubahan struktur, dari totalitarian kepada demokrasi.</p>
<p><strong>Dalam pengetahuan anda, siapakah intelektual-intelektual Indonesia yang begitu terpengaruh dengan pemikir Iran, khususnya Shari’ati, Motahhari, dll?</strong></p>
<p>Sekali lagi, Amien Rais, tentunya. Gus Dur juga. Bahkan, Gus dur telah terjemahkan buku Sayyed Hossein Nasr, <em>Ideals and Realities of Islam</em> menjadi Islam dalam Cita dan Fakta (1981). Mungkin ini kerana minat Gus Dur pada kesufian, dan nuansa penulisan Nasr juga memang bersifat sufistik. Walau bagaimanapun, ada bezanya di sini. Pada Gus Dur, sosoknya lebih dikenali di Lembaga Swadaya Masharakat (LSM), sebaleknya Amien Rais pada mahasiswa dan dunia kampus. Tentang gerakan kiri, yang menjadi kedekatan pada Shari’ati itu, tampaknya Gus Dur tahu benar. Saya yakin, ini kerana lingkungan pendidikannya, yang pernah menempuh ilmu di Iraq, yang ketika itu di bawah regim Baath, yang sosialis tersebut. Maka, pasti Gus Dur turut memahami jalur pemikiran kiri-kekirian Shari’ati itu. Sementara, Amien Rais tidak mengalami lingkungan seperti itu, walaupun turut menggemari Shari’ati. Pengalaman kentalnya di Amerika Syarikat, di University of Chicago. Jadi, kelebihan Gus Dur berbanding Amien Rais, adalah dimensi praktisnya.</p>
<p><strong>Tapi, bagaimana dengan Dawam Rahardjo? Cendikiawan ini juga pernah memberi kata pengantar yang cukup panjang, dan cukup baik untuk buku Shari’ati, <em>Kritik Islam atas Marxisme dan Sesat-Pikir Barat Lainnya</em></strong><strong>.</strong></p>
<p>Dawam Rahardjo memang dekat juga dengan sosialis. Tapi, beliau lebih kepada teologi pembebasan. Saya sepakat, Dawam turut memahami Shari’ati, kerana pengaruh dari teologi pembebasan ini. Pasti, selain Shari’ati, kalangan ini turut menggemari Hasan Hanafi. Apatah lagi, Shari’ati dan Hanafi, keduanya adalah lulusan Sorbonne. Maka, pengaruh pemikiran dari Perancis, yang kiri-kekirian itu begitu kental pada mereka.</p>
<p><strong>Memang, pengalaman Shari’ati di Sorbonne amat menarik, yang barangkali belum dicungkil habis. Nah, kebetulan anda juga dari Sorbonne. Bagaimana sebenarnya suasana Sorbonne sampai membentuk karekter Shari’ati yang memberontak, dan yang menggerakkan?</strong></p>
<p>Shari’ati di Sorbonne pada tahun 60-an. Pada waktu itu, gerakan anti-imperialisme. Che Guevara adalah simbol melawan Amerika. Franz Fanon simbol perjuangan Algeria. Mereka adalah tokoh-tokoh yang mendapat tempat di Paris. Hatta, ketika itu juga kehangatan Perang Vietnam. Jadi, memang bergelegak semangat melawan penjajahan. Sembari itu, gerakan mahasiswa di Paris sangat radikal dalam menerobos status quo dunia waktu itu. Kebetulan, Shari’ati adalah mahasiswa di Paris dalam semangat zaman itu, serta menikmati gelojaknya secara langsung. Pada zaman itulah juga, para professor dihina oleh para mahasiswa, sepertinya berkata, “Ah, professor tidak ada gunanya.” Unsur-unsur praktis jelas menjadi begitu kuat, berbanding hanya berteori semata. Malahan, ketika saya mula-mula sampai di Paris lewat 70-an, sehingga usai belajar di Fakulti Sejarah dan Antropologi (1981) tersebut, suasana yang sama maseh lagi semarak terasa. Itulah yang mendorong lahirnya manusia seperti Shari’ati. Selain itu, ada juga faktor dari keluarga, dan faktor keilmuan Mashhad, tanah kelahirannya tersebut.</p>
<p><strong>Berbicara mengenai anti-imperialisme, pernah Bandung menyelenggarakan Asian–African Conference (Afro) pada 1955. Apakah Shari’ati turut hadhir ketika itu? Sebab, dalam beberapa teks mengungkapkan persitiwa tersebut?</strong></p>
<p>Saya kira, Shari’ati tidak hadhir. Beliau di Iran, dan memang beberapa teksnya berbicara mengenai peristiwa Afro tersebut. Ini lantaran kesejajaran cita-cita persidangan tersebut dengan harapannya. Dengan jiwa anti-imperialisme-nya, maka Shari’ati mengharapkan semangat tersebut dalam mempersatukan kalangan negara yang membangun. Di pihak Indonesia, Sutan Sjahrir mempunyai visi yang sama.</p>
<p><strong>Sejauh pengetahuan ada, apakah pernah ada tokoh Indonesia yang pernah bertemu Shari’ati? </strong></p>
<p>Saya fikir tidak ada. Rakyat Indonesia yang belajar di Paris dalam waktu-waktu itu hanya saya saja. Itupun sudah menjangkau lewat 70-an dan awal 80-an. Memang, kerana kebetulan saya di Sorbonne, maka itu membantu persinggungan saya dengan Shari’ati, lebih-lebih lagi minat saya pada pemikiran dan politik Islam.</p>
<p><strong>Dewasa ini, Shari’ati seolah terbiar, tidak seperti Motahhari yang mendapat dukungan Kerajaan Iran. Di Indonesia, tidak pernah kita mendengar Kerajaan Iran membiayai—sama ada melalui proksinya, dll—sebuah seminar mengenai Shari’ati. Tapi, tidak untuk Motahhari. Menurut anda, apakah mungkin Shari’ati boleh bertentangan dengan aspirasi Kerajaan Iran jika maseh hidup sampai kini?</strong></p>
<p>Mungkin sekali. Lihat saja apa yang berlaku pada Bani Sadr, yang diusir. Demikian juga pada Mehdi Bazargan, yang tersisih setelah mundur sebagai Perdana Menteri untuk Republik Islam Iran pasca revolusi. Saya kira, pasti akan ada pertentangan Shari’ati dengan kelompok seperti Motahhari, Baheshti, dll itu, atau mudahnya dengan kalangan mullah.</p>
<p><strong>Tapi, bukankah ada tuduhan bahawa Shari’ati pada hujung-hujungnya seperti mementingkan dirinya sendiri. Kerana itu, ramai teman-temannya menarik diri dari Husaniyyah Irshad.</strong></p>
<p>Nanti, kita usah lupa juga, bahawa intelektual memang cirinya begitu. Intelektual itu bukannya memimpin kekuasaan, seperti Fidel Castro, dll. Di sini, Shari’ati itu adalah intelektual. Jadi, sudah sifatnya bertindak sebagai guru, sebagai cendikiawan tulen, sebagai pemikir perlawanan, yang merumuskan secara kritis masalah masharakat, sekaligus mengerti masharakat. Maka, dari intelektual-lah, masalah-masalah negara ditata dan dimodelkan, serta dijernehkan. Justeru, sudah tentu intelektual memerlukan kesendirian, banyak berfikir. Menurut saya, tidak ada salah sekiranya Shari’ati bertindak demikian. Tidak salahnya dalam erti, tidak salah dari perspektif intelektual.</p>
<p><strong>Di antara Shari’ati dengan Motahhari, bagaimana sikap peribadi anda antara keduanya?</strong></p>
<p>Bagi saya, Shari’ati itu menciptakan pemikiran yang menggerakkan masharakat. Sementara, kalau Motahhari hanya melanjutkan pemikiran dari Khomeini. Saya kira, Motahhari tidak revolusioner. Bukunya tidak begitu menekankan perbezaan kelas, seperti yang dijelmakan secara tuntas oleh Shari’ati. Jadi, secara sosiologi, Motahhari tidak menyentuh banyak hal yang tertanam dalam masharakat, terutamanya soal penindasan, dll.</p>
<p><strong>Tapi, berkaca pada Indonesia hari ini, kelihatannya pengaruh Motahhari lebih meluas, sampai ada Yayasan Motahhari, Sekolah Motahhari, dll. Hal yang sama tidak berlanjut dari Shari’ati, meskipun wacana Shari’ati lebih awal sampai di Indonesia. Apakah ini boleh bermakna bahawa pandangan Motahhari lebih tekal zaman berbanding Shari’ati?</strong></p>
<p>Kerana begini, kerana seperti yang saya ungkapkan sebelum ini, Motahhari punya kedekatan dengan Kerajaan Iran. Di situ, gagasan-gagasan Motahhari berkembang, dan sentiasa dipanjangkan. Sebaleknya, gagasan-gagasan Shari’ati terhenti pada peminat-peminatnya saja. Jadi, ada kaitan dengan pendanaan. Maka, jangan hairan jika ada seminar antarabangsa tentang Motahhari, ataupun seminar nasional tentang Motahhari di Indonesia. Itu lazim. Walau bagaimanapun, tiada yang begitu revolusioner darinya, dan ciri ini jauhlah berbeza dengan Shari’ati.</p>
<p><strong>Benar, berbeza dengan Shari’ati. Namun, mari kita lihat Indonesia dewasa ini yang sudah menempuh jalur demokrasi, bahkan boleh dikatakan menampilkan demokrasi dengan cemerlang sekali. Persoalannya, apakah wajar lagi idea-idea revolusioner—seperti dari Shari’ati itu—mendapat tempat dalam zaman sebegini. Mungkin, kerana zaman yang sudah tenang, maka gagasan-gagasan Motahhari yang persuasif terus dapat menampung kehendak intelektual masharakat?</strong></p>
<p>Sebelum itu, mari kita sorot Indonesia yang sekarang sudah memiliki demokrasi, yang memberi makna kebebasan pada masharakatnya. Jelas, pada saat ini, kebebasan yang dinikmati cukup luas. Justeru, tidak salah jika saya menyatakan bahawa wacana kepemikiran di sini jauh lebih maju dari wacana yang ditinggal Shari’ati, dll. Pada saya, mungkin saja Shari’ati tidak relevan lagi di sini. Ini bukan zamannya. Sudah melampaui dari apa yang pernah diungkapkannya. Sebab, Shari’ati hanya memikirkan persoalan mengenai peralihan kekuasaan, bukan persoalan perlaksanaan pemerintahan. Kalau di bawah regim totalitarian, Shari’ati pasti akan mendapat sambutan hangat. Diraikan sebagai lambang perjuangan kaum tertindas. Namun, Indonesia bukan lagi di bawah regim sedemikian. Intinya sekarang adalah keadilan. Setidaknya, rata-rata masharakat Indonesia sudah merasa ada keadilan, walaupun diakui belum cukup sempurna.</p>
<p><strong>Nah, setelah tiga dekad Revolusi Iran, bagaimana pandangan anda tentang keseluruhan dampak revolusi tersebut terhadap Indonesia? Apakah </strong></p>
<p>Sebetulnya, saya senang sekali dengan perkembangan dewasa ini. Saya senang juga melihat kelompok Shiah sudah mula berani menampilkan diri yang sesungguhnya. Sebelum ini, mereka terbelenggu dengan taqiyyah, dan berselindung di sebalek nama Sunni, atau di sebalek kata nama Mazhab Cinta, atau juga di sebalek nama Ahlul Bayt. Sekarang, jelas, mereka berani menyatakan dirinya sebagai Shi’ah, malah Shi’ah dalam versi Indonesia. Tentang Mazhab Cinta tersebut, sebelumnya kelompok Shi’ah berhujah bahawa Sunni, Shi’ah, Sufi, masing-masing adalah satu. Berdiri dalam kesatuan. Sekarang, semua kelompok menikmati kebebasan dari demokrasi ini. Sebuah rasa selamat dalam memiliki keyakinan.</p>
<p><strong>Mungkinkah akan ada sebuah kebangkitan Shi’ah di Indonesia?</strong></p>
<p>Bukan kebangkitan. Tapi, adalah peralihan. Maksudnya, ada faktor-faktor positif yang mendorong penerimaan Shi’ah di kalangan masharakat Indonesia. Kerana apa? Kerana di masa lalu, hubungan Shi’ah dan Nusantara sangat kuat. Ini kita boleh semak menerusi beragam kepustakaan, juga beragam warisan ritual dalam masharakat Indonensia. Dengan latar sejarah yang dekat ini, maka masharakat Indonesia begitu ramah menerima gagasan-gagasan yang mirip keshi’ahan. Saya ada menulis dalam makalah, “<em>Political and Diplomatic Relationship: Between Indonesia and Iran</em>” bahawa Revolusi Iran itu sebenarnya mendapat tentangan di negara muslim yang lain. Tapi, tidak di Indonesia. Sebab, para intelektual Indonesia dari kalangan Sunni turut sama memainkan peranan penting, mithalnya dalam menerjemahkan karya-karya pemikir Iran ke dalam Bahasa Indonesia. Jadi, ada faktor intelektual Sunni di Indonesia yang ikut sekali mendorong penerimaan wacana dari Iran, dan juga sekaligus dari Shi’ah. Lalu, terdapat juga Buya Hamka yang setelah kunjungannya ke Iran, begitu menghargai sumbangan revolusi tersebut, serta memuji sosok Khomeini dan pencapaian Iran. Walau bagaimanapun, diakui, terdapat juga beberapa tokoh di Indonesia yang tidak senang dengan kehadhiran Shi’ah, seperti yang diperlihatkan oleh Hidayat Nur Wahid, dll.</p>
<p><strong>Tapi, bagaimana dengan Nurcholish Madjid?</strong></p>
<p>Nurcholish Madjid, atau Cak nur itu tidak pernah menulis tentang Iran. Tidak pernah, kerana beliau sepertinya bingung melihat Iran. Memang, saya tidak pernah bertanya pada Cak Nur tentang mengapa ini berlaku. Tapi, saya juga mengetahui, Cak Nur sangat dekat dengan teman-teman Shi’ahnya, malah Jalaluddin Rakhmat itu adalah junior-nya. Bagi saya, mungkin Cak Nur secara peribadi tidak tertarik dengan Shi’ah.</p>
<p><strong>Tapi, bukankah ranah perhatian Shi’ah turut tertumpu pada falsafah, kebudayaan, keilmuan, kesufian, yang kesemua tema-tema ini seharusnya ada kedekatan batin antara perhatian Cak nur yang dianggap intelektual besar Indonesia tersebut?</strong></p>
<p>Cuba kita membaca kembali tesis Cak Nur, <em>Ibn Taymiyya on Kalam and Falsafa: A Problem of Reason and Revelation in Islam</em> (1984). Tesis tersebut tentang Ibn Taimiyyah. Jadi, saya kira, tidak logis dari lingkungan Ibn Taimiyyah itu mahu berpindah kepada faham yang bersifat tasawwuf.  Semacam punya bagasi, atau beban landasan intelektual yang sama sekali berbeza sekali dengan jalur Shi’ah. Demikian juga, saya perhatikan, Cak Nur orangnya tidak begitu memikul banyak trauma dalam hidupnya. Memang, beliau pernah diserang kerana slogan mashhyurnya, “Islam yes, partai Islam no.” Tapi itu sesudah dia sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Berbeza dengan Jalaluddin Rakhmat di mana terpisah dengan ayahnya semenjak dini ekoran kemelut politik Islam waktu itu. Jadi, ada didikan dan faktor lingkungan sehingga membezakan antara keduanya. Mithalnya juga, Jalaluddin Rakhmat itu latarnya dari Muhamadiyyah, yang tiba—tiba berubah kepada Shi’ah. Ringkasnya, saya kira barangkali di tahap awalnya, seperti ada suatu labirin dalam percarian intelektual untuk mereka yang menempuh trauma dalam hidupnya. Baru kemudian, sosok seperti Jalaluddin Rakhmat menemukan jawapannya dalam figur seperti Khomeini, Motahhari, dll.</p>
<p><strong>Tapi, apakah faktor terbesar pekembangan Shi’ah di Indonesia kerana peranan Jalaludidn Rakhmat?</strong></p>
<p>Bukan hanya Jalaluddin Rakhmat saja sebenarnya. Tapi, faktor juga kalangan Habaib, iaitu jalur dari leluhur keluarga nabi Muhammad saw ini yang melimpah dan melata di Indonesia ini. Justeru, kita harus dibezakan di sini, antara peranan para habaib dan peranan para intelektual. Sekiranya para intelektual itu mungkin kita boleh kelompokkan mereka yang seperti Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, dll. Mereka, tidak seperti tradisi Nahdlatul Ulama (NU), yang punya pesantren, dll. Manakala, untuk para habaib itu seperti dari Umar Shahab, Hussain Shahab, yang keduanya dari Palembang, itu berbeza. Malah, Hussain Shahab pernah saya bertemu di Qom seawalnya pada 1979 tersebut. Jadi, apa yang saya mahu katakan di sini ialah, ada titik berangkat yang berbeza untuk Shi’ah di Indonesia. Satu, dari ranah intelektual, yang jelas adalah peribumisasi (<em>indigenization</em>). Dan, satu lagi, dari ranah tradisional, dari para habaib tersebut. Bagi saya, ini barangkali sama juga fenomenanya di Iran. Khomeini itu juga adalah berleluhur dari habaib. Tapi majoriti yang lain adalah kalangan peribumi Parsi. Lihat saja Rafsanjani, bukan dari keturunan Nabi Muhammad saw. Dari kalangan peribumi inilah, tampak pembauran yang ketara antara keiranan dan keislaman. Sama seperti di sini juga, keindonesiaan dalam keislaman.</p>
<p><strong>Benar juga, kerana tampaknya perkembangan Shi’ah di Indonesia begitu subur, jauh lebih subur berbanding dengan negara-negara muslim yang lain, selain Iran itu sendiri.</strong></p>
<p>Benar, dan sekali lagi, faktor keterbukaan tokoh-tokoh Sunni dan para habaib di Indonesia itu sendiri. Bayangkan NU itu punya jaringan yang besar. Gus Dur itu pemimpin NU, dan beliau sampai pernah bilang, “jangan khuatir, kerana Shi’ah itu mirip dgn NU.” Begitu juga Amien Rais yang bilang, “Iran itu bagus.” Jadi, berkah mereka, Shi’ah turut mendapat tanggapan yang baik di Indonesia sehingga tumbuh mekar. Ini ditambah lagi dengan kemiripan latar antara Indonesia, Shi’ah, dan Iran, seperti yang telah kita bahaskan dalam sejarah Parsi-Nusantara.</p>
<p><strong>Akhir sekali, bagaimana anda melihat masa depan hubungan Indonesia dan Iran?</strong></p>
<p>Cerah sekali. Buktinya, Seminar Hubungan Sejarah &amp; Kebudayaan Indonesia-Iran yang diadakan khusus untuk memperingati 60 tahun hubungan dua nusa ini. Kita saksikan, sebuah acara yang diadakan di bangunan kerajaan, di muzium, yang mana sambutan yang barangkali mustahil untuk berlaku di Malaysia. Sebetulnya, sikap yang penting adalah, kita harus saling belajar. Banyak kebijaksanaan dari pengalaman Iran yang tidak harus kita abaikan begitu saja. Begitu juga belajar dari Indonesia. Berangkat dari faham inilah, saya sebutkan dalam buku saya <em>Indonesia Rising: Islam, Democracy and the Rise of Indonesia as a Major Power</em>, bahawa pembangunan itu tidak harus dilihat dari perspektif ekonomi semata. Pembangunan fizikal Indonesia bukanlah ukuran mutlak pada sebuah pembangunan keseluruhan. Sebaleknya, harus diiringi juga dengan keadilan, kebebasan, persamaan, yang mana semua nilai-nilai ini bergabung ke arah membentuk sebuah negara yang maju. Harapan saya, usah kita rasa berat untuk saling belajar.<strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/07/shiah-di-indonesia/" rel="bookmark" title="21 Julai, 2010">Shi’ah (di) Indonesia</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/12/islam-dan-kerajaan-terhad/" rel="bookmark" title="21 Disember, 2009">Islam dan Kerajaan Terhad</a></b> Amin Ahmad</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/05/satira-jangan-gelap-hati/" rel="bookmark" title="6 Mei, 2009">Satira Jangan Gelap Hati</a></b> Hasmi bin Hashim</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/08/shiah-intelektual-dan-indonesia/" rel="bookmark" title="23 Ogos, 2010">Shiah, Intelektual dan Indonesia</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2007/06/buku-dan-tehran/" rel="bookmark" title="14 Jun, 2007">Buku dan Tehran</a></b> admin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/02/persamaan-antara-revolusi-di-mesir-dan-iran/" rel="bookmark" title="11 Februari, 2011">Persamaan antara Revolusi di Mesir dan Iran</a></b> Fareed Zakaria</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 43.937 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2010/10/idealis-revolusioner-antara-shariati-dan-motahhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shiah, Intelektual dan Indonesia</title>
		<link>http://jalantelawi.com/2010/08/shiah-intelektual-dan-indonesia/</link>
		<comments>http://jalantelawi.com/2010/08/shiah-intelektual-dan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 02:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aqil Fithri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Shari’ati]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Haidar Bagir]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhwanul Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jamaat Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Khomeini]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Heidegger]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan Publishing]]></category>
		<category><![CDATA[Motahhari]]></category>
		<category><![CDATA[Mulla Sadra]]></category>
		<category><![CDATA[Shi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalantelawi.com/?p=1926</guid>
		<description><![CDATA[Aqil Fithri mewawancara Haidar Bagir, Pengarah Mizan Publishing, seputar keberadaan Shi'ah di Indonesia dan wacananya, juga tentang pengaruh Murtadha Motahhari dan Ali Syariati.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1973" class="wp-caption alignleft" style="width: 610px"><a href="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//haidar_major.jpg"><img class="size-full wp-image-1973" title="haidar_major" src="http://jalantelawi.com/wp-content/uploads//haidar_major.jpg" alt="" width="600" height="298" /></a><p class="wp-caption-text">Haidar Bagir  © Aqil Fithri</p></div>
<p>Shi’ah, barangkali untuk sebahagian besar dari kita, adalah kata yang mengerunkan, mungkin juga mengerikan. Harus dijauhkan, sejauh yang boleh. Tapi, untuk mereka yang berjiwa eksotik, itu berbeza. Mengapa? Kerana sikap saling belajar hanya dapat ditembus oleh mereka yang menginsafi bahawa dirinya tidak pernah sempurna. Hanya saja dengan melangkaui dirinya, lingkungannya, malah fahamnya sendiri, lalu buah-buah kebijaksanaan akan menghampirinya. Namun, apa pula hubungannya antara kebijaksanaan ini dengan Shi’ah? Pernah ada satu kalimat yang sangat terkenal di Ranah Persia. Kalimatnya berbunyi begini: “Iran adalah negeri para pencinta, bukan negeri para rasional.” Dari kalimat ini, mungkin terasa sesuatu yang asing menerjah dalam diri kita. Maka, keterasingan itulah tandanya tersemi sebuah eksotisme dalam sanubari kita. Justeru, AQIL FITHRI— zamil Cendikiawan Awam Asia 2009/2010, tajaan Nippon Foundation, Jepun—telah berkesempatan menemubual HAIDAR BAGIR, yang dirinya dikenal progresif di Indonesia. Bahkan, tesis PhD dari Pengarah Mizan Publishing ini memuatkan kaitan antara eksistensialisme Mulla Sadra dengan Martin Heidegger. Lihat, bagaimana sebuah kebijaksaan dari Persia, itu dihargai sampai ke Jerman, dan sampai ke Indonesia sekalipun: Timur dan Barat. Arakian, atas nama pencari kebijaksanaan, sebetulnya Shi’ah bukanlah sebuah kata yang menakutkan. Tentunya, kata “bijaksana” tidak pernah bertemu dengan kata “takut.” Shi’ah, buat mereka yang mencintai eksotik, adalah sebuah daerah yang misteri, yang sama-sama ingin kita selami, malah mungkin juga sama-sama ingin kita lampaui.</p>
<p><strong><br />
Secara umumnya, sejauh pengetahuan anda, bagaimanakah bentuk perkembangan Shi’ah di Indonesia?</strong><br />
Di sini, ada dua hal yang perlu dicermati. Pertamanya, saya harus nyatakan bahawa bentuk Shi’ah di Indonesia sama sekali tidak sama dengan apa yang terdapat di Iran, Syria, Lebanon, Iraq, dan belahan dunia yang lain. Shi’ah di Indonesia tampaknya sudah beradaptasi dengan pendekatan Islam citra Indonesia. Walau bagaimanapun, diakui terdapat juga sebahagian kecil dari mereka yang mengembangkan Shi’ah yang mentah-mentah dipetik menerusi sumber yang difahaminya sebagai asli. Namun, menurut saya, itu hanya terdiri dari sebahagian kecil saja. Bahkan, saya perhatikan, tidak sedikit kalangan Shi’ah yang mesra bergaul dengan Sunni, dan sekaligus tidak pula mendakwahkan Shi’ah dalam kalangan tersebut. Pada mereka, Shi’ah adalah berupa keyakinan peribadi. Shi’ah di tangannya, bukan hal yang bersifat propaganda, atau yang mesti disebarkan. Kendati, sebetulnya saya tidak terlalu bergaul dengan kelompok Shi’ah di Indonesia. Saya hampir-hampir tidak pernah ada di Islamic Culture Centre (ICC), melainkan diminta untuk menjadi pembicara acara. Justeru, pengamatan saya ini barangkali tidak terlalu mendalam. Tapi, dari satu aspek, saya jelas bahawa terdapat tradisi dari tariqah Alawiyyin, atau dari kaum Alawiyyin, yang sejak awal ada di Indonesia, di mana mereka berpegang-teguh kepada keyakinan pada Shi’ah atau ajaran Ahlul Bayt ini. Menariknya, kelompok ini diredam oleh sejarah dan sudah berbaur dengan kalangan Sunni. Sebab itu, seperti kata Gus Dur, bahawa tariqah Alawiyyin itu sangat besar pengaruhnya dalam Nahdatul Ulama (NU). Jadi, inilah yang mungkin mendorong kenyataan Gus Dur bahawa, “Islam NU itu secara budayanya adalah sama dengan Shi’ah.” Saya setuju, bahawa dalam banyak hal, tariqah Alawiyyin ini mirip sekali dengan Shi’ah. Meskipun begitu, harus diketahui juga, bahawa mereka yang anti-Shi’ah turut datang dari kalangan Alawiyyin juga. Kesan dari kenyataan Gus Dur ini ialah, Shi’ah itu tidak hanya pada nama semata, tapi juga pada budaya. Maka, menjadi Nahdiyyin, atau menjadi Muhamadiyyin, itu tidak bererti menolak seluruh budaya Shi’ah. Kerana, seperti yang saya ungkapkan, Shi’ah di Indonesia sudah menjadi lain sama sekali dengan Shi’ah di belahan tempat lain. Kalaupun ada, itu barangkali hanya sedikit saja, yang mungkin kita golongkan sebagai Shi’ah yang eksklusif. Itu hal yang pertama. Manakala, hal yang kedua ialah apakah Shi’ah memang menyeru pendakyahan? Sama seperti mazhab lain juga, kita tidak harus tersedut untuk masuk ke dalam satu-satu mazhab, apatah lagi secara terpaksa. Saya tahu, pernah ada seorang lulusan dari Qom, Iran yang sangat anti sikap mengembangkan ajaran-keshi’ahan. Katanya, “untuk apa didakyahkan Shi’ah bagi kalangan majoriti Sunni?” Itu kata-kata dari seseorang yang saya kenal sejak sembilan tahun sudah bersekolah di Qom, yang barangkali sekarang sudah berada di tingkat Hojjatul Eslam. Baginya, tindakan seperti ini adalah sebuah kesalahan. Namun, memang terdapat sebilangan kecil Shi’ah yang membawa Shi’ah ke dalam perbincangan fikih. Tapi, kita harus ingat juga, bahawa Shi’ah itu memberi perhatian besar pada soal-soal yang universal. Ini termasuklah keberpihakan pada <em>mustadh’afin</em>, menawarkan kebajikan pada masharakat, dll. Justeru, saya berani katakan bahawa salah-satu ciri khas Shi’ah di Indonesia adalah menekankan pada aktiviti sosial. Ini mirip juga dengan apa yang ditegaskan oleh Imam Khomeini, atau mereka belajar dari pengalaman Hezbollah di Lebanon. Jadi, Shi’ah Indonesia umumnya lebih kerana sikap-sosialnya, bukan kepada fikih.</p>
<p><strong>Dalam pengalaman Indonesia pasca-Revolusi Islam Iran, tampaknya beberapa pemikir Iran begitu berpengaruh. Ini termasuklah Shari’ati dan Motahhari. Sejauh manakah pengaruh keduanya dalam perkembangan Shi’ah di Indonesia?<br />
</strong>Bagi saya, Shari’ati dan Motahhari itu pengaruhnya punya perbezaan yang tersendiri. Shari’ati itu menampilkan diri, dan terbuka, serta disambut kalangan anak-muda. Sebagaimana di Iran, keduanya ini sempat bersahabat, sebelum berbeza pandangan. Bagi mereka yang melakukan analisis sederhana, mereka akan menyatakan bahawa Motahhari cemburu atas kemashhyuran Shari’ati. Terlepas dari ketidaksetujuan tersebut, saya memang melihat ada perbezaan pendekatan antara keduanya. Mithalnya, Motahhari itu lebih dingin, lebih ilmiah, lebih rasional, berbanding dengan Shari’ati yang tampaknya sarat dengan retorika. Lantaran itu, Shari’ati lebih menarik perhatian, serta memberikan dampak yang lebih meluas, kerana dimensinya yang mengerakkan, serta memancing hadhirin berfikir. Selain itu, Motahhari juga menekankan rasionaliti, manakala Shari’ati itu lebih kepada emosi. Namun, itu barangkali hanya berupa gaya pengungkapan. Ini kerana, kita tidak boleh menafikan juga bahawa pengetahuan Shari’ati juga cukup mendalam. Bahkan, pembacaan falsafahnya juga bagus sekali. Demikian Shari’ati dan Motahhari di Iran. Bagaimana pula keduanya di Indonesia? Jelas, pada saya juga hampir demikian. Kalau Motahhari, itu diterima lebih kepada intelektualisme, manakala Shari’ati lebih kepada aktivisme. Lebih menarik, pengaruh Motahhari datang belakangan berbanding Shari’ati. Faktornya sederhana saja. Faktornya kerana buku-buku Shari’ati diterjemah lebih dahulu berbanding dengan Motahhari. Hatta, sosok yang barangkali dapat dikatakan berada di tengah antara kedua, iaitu Imam Khomeini, itu juga tidak lepas dari dua sifat tersebut: intelektualisme dan aktivisme. Jadi, Imam Khomeini itu adalah pemikir, dalam erti ada sisi irfaninya, tapi dalam waktu yang sama turut mengerakkan kebangkitan. Begitu yang saya fahami dari tiga rangkaian tersebut, antara Shari’ati, Motahhari, juga Khomeini. Buat mereka yang tidak bersimpati dengan Motahhari, pasti akan berusaha untuk melakukan perbezaan jauh, di mana mereka mendakwa Motahhari hanya bertindak sebagai revolusioner setelah Shari’ati. Pada batas-batas tertentu, ada kebenaran. Tapi, itu harus diperhalusi dengan sebaiknya.</p>
<p><strong>Justeru, mengapa buku-buku Shari’ati lebih dahulu diterjemahkan?<br />
</strong>Ini kerana Shari’ati itu lebih mengerakkan masharakat. Dan, kemudian Shari’ati lebih mendorong kelompok yang berminat padanya untuk menerjemahkan karya-karyanya, supaya semangat tersebut dikongsi dengan khalayak yang lebih luas. Mithalnya, Amien Rais adalah individu pertama dari Indonesia yang menerjemahkan karya Shari’ati, iaitu dari buku <em>Man and Islam</em>. Amien Rais membaca Shari’ati lebih awal, dan dari situ tergerak untuk menerjemahkan, dengan hasrat kandungan menarik itu dapat disebar-luaskan. Kerana inisiatif awal inilah, dan kerana dimensi mengerakkan inilah, maka buku Shari’ati lebih dahulu diterbitkan. Tapi, apakah hanya Shari’ati yang mengerakkan? Seperti yang saya katakan sebelumnya, tidak. Imam Khomeini itu contohnya, sebagai seorang sufi, dengan karangan hadith 40-nya yang sangat irfani, sekaligus juga terkenal sebagai pemimpin yang revolusioner, yang menggerakkan. Kalau Shari’ati itu aktivisme, manakala Khomeini adalah aktivisme, sekaligus intelektualisme. Di mana Motahhari? Pada saya, Motahhari itu lebih tampak pada intelektualisme. Namun, saya perlu catatkan juga, bahawa dari segi kefalsafahan, sama ada Shari’ati, mahupun Motahhari, keduanya saling menguasai. Bezanya, adalah pada pendekatan. Shari’ati itu dinamika, manakala Motahhari itu mendatar.</p>
<p><strong>Ada sebuah buku, judulnya “Dialog Sunnah-Shi’ah.” Buku itu dikenang sangat kontroversi di Indonesia, dan kebetulan Mizan Pubsliher yang menerbitkannya. Anda merupakan pendiri Mizan Publishing, lalu apakah faktor yang mendorong penerbitan buku tersebut?<br />
</strong>Sebetulnya ada dua hal yang mendorong. Pertama rancangan (<em>by design</em>), dan kedua kebetulan (<em>by accident</em>). Untuk <em>by design</em>, ceritanya bermula lantaran ayah saya, Muhammad al-Bagir sudah kebetulan menerjemahkan buku tersebut, sebelum berdirinya Mizan Publishing. Lama sebelum itu juga, ayah saya memperoleh buku tersebut pada tahun 1950-an, di mana dikirim seseorang yang barangkali dari Kuwait mengirimkan kepadanya.  Buku yang judul aslinya adalah “<em>al-Murajaat</em>,” itu dibacanya. Kemudian, tercetusnya Revolusi Islam Iran. Maka waktu itu muncul banyak tulisan yang keliru mengenai Shi’ah di Indonesia. Selama itu juga, ayah saya sempat bertukar tulisan dengan, Buya Hamka yang menulis Shi’ah dari perspektif negatif di Kompas. Lantaran ayah saya yang sudah mengenal Shi’ah agak lama, maka merasa bertanggungjawab untuk memperbetulkan beberapa kekeliruan tersebut. Mengapa sampai ada kekeliruan ini? Maka kita harus kembali menghimbau suasana masharakat Islam ketika itu. Pada waktu itu, memang masharakat Islam waktu itu merasa mundur. Manakala, bayang-bayang imperialisme maseh kuat terasa, seperti kita maseh gagal melepaskan diri sepenuhnya. Selain itu, banyak Harakah Islamiyyah mengalami kekalahan, kelelahan, kekecewaan—secara politik. Ini termasuklah Ikhwanul Muslim , Jamaat Islami, dll, sehinggalah akhirnya muncul Revolusi Islam Iran, yang memprakasai sebuah revolusi yang menumbangkan kekaisaran Shah Iran, serta mencabar hagemoni Amerika Sharikat. Bagi umat Islam ketika itu, fenomena ini memberikan sebuah harapan baru. Malangnya, di celah-celah harapan itu, muncul beberapa tulisan yang berseberangan, yang mencemuhkan kebangkitan tersebut. Saya maseh ingat, mithalnya ada yang menulis bahawa umat Shi’ah itu bertawwaf di Karbala, wahyu itu seharusnya turun pada Imam Ali bukannya pada Nabi Muhammad saw, dll. Ini semua adalah kekeliruan, dan ayah saya yang mengetahui kedudukan sebenar, mula merasa terpanggil untuk menerangkan. Maka, beliau menulis di Panji Mas, dll, sebagai usahanya untuk menjernehkan tersebut. Dalam kemelut itu jugalah, ayah saya teringat maseh mempunyai buku “<em>al-Murajaat</em>,” dan membaca kembali, serta menerjemahkannya. Mengapa diterjemahkan? Kerana dialog yang tercatat pada buku tersebut begitu santun, dan memikat, serta sesuai untuk mereka yang mencari kejujuran. Setelah diterjemah, awalnya ayah saya menawarkan pada Pustaka Salman untuk diterbitkan. Ketika itu, saya adalah mahasiswa di ITB. Tapi, saya lupa, sama ada ditolak atau tiada jawapan, maka akhirnya Mizan Publishing yang menerbitkannya. Mengapa Mizan Pubslihing yang menerbitkan? Kerana kebetulan Mizan Publishing baru didirikan, dan kebetulan lagi sudah ada buku yang siap untuk diterbitkan, lalu Mizan juga belum punya apa-apa naskah selain buku tersebut. Kerana <em>by design</em> inilah, Mizan Publishing menerbitkannya. Dan juga, sekaligus <em>by accident</em>, kerana kebetulan Mizan Publishing belum punya buku ketika itu untuk diterbitkan. Kira-kira begitu, sejauh ingatan saya.</p>
<p><strong>Bagaimana buku-buku Motahhari dan Shari’ati yang diterbitkan di Mizan Publishing?<br />
</strong>Bahkan, buku-buku Motahhari dan Shari’ati sekalipun. Itu kerap <em>by design</em> dan juga <em>by accident</em>. <em>By design</em> kerana waktu itu kita ikut tertarik dengan buku-buku yang menginspirasikan dari Iran, di mana Shari’ati dengan gaya bersemangatnya, dan Motahhari dengan gaya falsafinya memudahkan masharakat memahami. Motahhari ini menarik kerana, dalam karya-karyanya turut terselit sha’ir-sha’ir dari Rumi, Saadi, Hafez, Ferdowsi, dll. Memang, ketika itu ada juga Iqbal, meskipun berat untuk dihadam. Selain itu, ada Fazlur Rahman, namun terlalu mendatar. Pada saya, Motahhari memberi warna yang lain sama sekali, di mana gayanya yang sederhana. Itu <em>by design</em>, mengapa kita tertarik pada karya dari Motahhari dan Shari’ati ini. Tapi, apa pula <em>by accident</em>? Memang ketika itu Mizan Publishing tidak punya banyak naskah, dan kebetulan ketika itu hangat dengan ledakan Revolusi Islam Iran, maka naskah-naskah yang sampai pada kita rata-ratanya tentang Motahhari dan Shari’ati, dan kebetulan lagi, kandungannya begitu menarik sekali. Lalu, dari situ, kita tidak bermasalah untuk menerbitkannya.</p>
<p><strong>Tapi, apakah buku “Dialog Sunnah-Shi’ah” itu adalah buku tentang Shi’ah yang pertama di Indonesia?<br />
</strong>Setelah Revolusi Islam Iran, saya kita benar. Namun, sebetulnya ada juga buku dari Abu Bakar Aceh, yang kalau tidak silap judulnya adalah “<em>Shi&#8217;ah</em>.” Saya kira, sebelum buku tersebut, barangkali ada beberapa lagi, yang mengenai Shi’ah, meskipun saya tahu jumlahnya sangat sedikit.</p>
<p><strong>Sejauh yang anda tahu, apakah ada wacana atau aktivisme atau seminar tentang Motahhari dan Shari’ati di Indonesia, setidaknya setelah Revolusi Islam Iran?<br />
</strong>Ada satu buku, judulnya “<em>Melawan Hagemoni Barat: Ali Shari’ati dalam Sorotan Cendikiawan Indonesia</em>,” yang disunting oleh M. Deden Ridwan. Saya juga menerbitkan “<em>Murthada Muthahhari, Sang Mujahid, Sang Mujtahid</em>.” Tapi, sejauh ingatan saya, buku-buku Motahhari dan Shari’ati banyak diterbitkan oleh Pustaka Salman, Shalahuddin Press, selain Mizan Publishing sendiri. Yang terkenal dari Mizan Publishing adalah buku Shari’ati yang berjudul, “<em>Kritik Islam Atas Marxisme dan sesat-pikir Barat lainnya.</em>” Selain dari dua pemikir Iran tersebut, ada juga Sayyed Hossein Nasr, yang juga digemari dalam khalayak intelektual Islam di Indonesia. Mungkin, Johan Effendy turut menerbitkan juga buku dari Allama Thabataba’i.</p>
<p><strong>Dewasa ini, alumni dari Qom begitu melimpah sekali di Indonesia. Kelihatan ada perubahan orientasi, dari terjemahan buku-buku Persia yang bernuansa intelektual kepada buku-buku yang berbentuk fikih, dan idealogi. Tampaknya, Motahhari dan Shari’ati tidak lagi begitu menarik perhatian mereka. Apakah perubahan ini ada kebenaran?</strong><br />
Begini, Motahhari dan Shari’ati punya jarak dalam pendekatan, juga dalam hubungan mereka akhir-akhirnya. Ini di mana, Shari’ati tidak disukai oleh kaum mullah di Iran, sehingga disebut sebagai crypto-Wahhabi. Bahkan, seingat saya, ada anekdot di mana pernah ada mahasiswa yang bertanya pada Imam Khomeini, “apakah boleh dibaca buku-buku Shari’ati?” Jawab Imam Khomeini, “bacalah buku Motahhari.” Dan, ditanya lagi soalan yang sama, dan begitulah jawapan yang sama dari Imam Khomeini. Lalu, apa hubungan ini dengan alumni dari Qom tersebut? Pada saya, mereka mungkin tidak lagi tertarik pada Shari’ati. Namun, untuk Motahhari maseh, dan terus diterjemahkan. Dan, kalau ada penerjemahan buku-buku fikih, itu adalah gelombang baru, lantaran pertautan mereka dengan Mazhab Ja’fari begitu kuat sekali.</p>
<p><strong>Hamid Algar, memang kerap-kali membahaskan perbezaan antara Motahhari dan Shari’ati. Tapi, menarik untuk mendengar pandangan anda juga?<br />
</strong>Dalam buku “<em>Murthada Muthahhari, Sang Mujahid, Sang Mujtahid</em>” saya sudah sebut sepuloh alasan mengapa Motahhari dipilih untuk buku tersebut. Maksudnya, mengapa Motahhari harus diperhatikan. Sebaleknya, untuk Shari’ati, saya lihatnya adalah sosok yang tidak ragu-ragu untuk melancarkan kritikan terhadap kalangan agamawan. Dan, beberapa buku Shari’ati juga memetik sumber Shi’ah yang kontroversi. Ini boleh disemak dari bukunya “<em>Fatima is Fatima</em>.” Tidak persis begitu pada Motahhari. Ini kerana, Motahhari lebih sederhana, lebih hati-hati, dan sering tidak keberatan mengutip sumber-sumber Sunni. Mithalnya, Motahhari mengungkapkan sumbangan Umar al-Khattab yang membebaskan Parsi dari kekaisaran, dan membawa Islam ke Iran. Di kesah yang lain, khalayak ada menanyakannya setelah ceramahnya, “Mengapa anda membicarakan hal yang baik dari Abu Bakar.” Lalu kata Motahhari, “musuh Islam itu tidak mengenal siapa Sunni dan siapa Shi’ah.” Tapi, dalam soal keyakinan atas nama ilmu, Motahhari tidak ragu-ragu juga. Jelas dalam bukunya “<em>Understanding the Quran</em>,” Motahhari mengkritik kecenderungan Ismaili. Di samping itu, Motahhari turut mengkritik Kaum Akbari, dengan penuh percaya-diri. Kerana sifat-sifat inilah, terbitnya buku “<em>Murthada Muthahhari, Sang Mujahid, Sang Mujtahid</em>,” sebagai usaha untuk memperkenalkannya pada masharakat Indonesia. Sebab, tampaknya ufuk terbuka dari Motahhari ini sangat cocok dengan lingkungan Islam di Indonesia, yang rata-ratanya adalah Sunni.</p>
<p><strong>Di Indonesia, ada Yayasan Motahhari. Tapi, tiada pula Yayasan Shari’ati?</strong><br />
Benar, kerana itu tanggapan dan sambutan terhadap Motahhari dan Shari’ati berbeza di Indonesia. Barangkali pernah ada semacam perkumpulan mengenai Shari’ati di Indonesia, yang mungkin terpengaruh dengan gagasan teologi pembebasan dari Amerika Latin. Tapi, apa pun memang waktu itu saya dan teman-teman bersepakat untuk mendirikan Yayasan Motahhari, lantaran itu lebih sesuai untuk suasana Islam di Indonesia.</p>
<p><strong>Apakah anda melihat ada perbezaan paradigma kalangan kelompok Shi’ah, antara 80-an, 90-an, juga dewasa ini?<br />
</strong>Terlebih dahulu, saya harus tegaskan, bahawa Shi’ah itu sudah ada di Indonesia sebelum Revolusi Islam Iran lagi. Mithalnya, ada di daerah-daerah tertentu, dan mereka ini adalah sangat tradisional. Maka, sekiranya ditanya perubahan kelompok, itu barangkali agak sulit. Namun, untuk menjawab persoalan tersebut, mahu atau tidak, kita harus kembali pada pertanyaan asas: apa itu kelompok Shi’ah? Sebab, kebanyakan mereka, seperti yang saya amati, merasa bahawa keshi’ahan mereka itu hanya pada batas individu, dan ruang peribadi mereka. Tidak menjangkau sehingga menjadi kelompok. Maksud ruang peribadi ialah, pada batas keluarga, dan kalangan yang dekati dengan mereka saja. Hal ini dapat kita rasakan, saat mereka bergaul dengan kalangan Sunni. Saya saksikan, mereka tidak segan-segan untuk bersikap seperti Sunni, dan menjiwai kehidupan Sunni itu sendiri. Ini bukan sebuah sinkritisme, dan istilah sinkritisme untuk kasus ini adalah tidak tepat sama sekali. Maksudnya, Shi’ah dalam diri mereka tidak hilang, meskipun dalam lingkungan kebudayaan Sunni mereka. Jadi, pertanyaan awalnya yang harus kita selesaikan ialah: apa maksudnya kelompok Shi’ah? Sebab, kita sama sekali akan menemukan perbezaan antara Shi’ah di Indonesia, dengan Shi’ah di Iran. Malah, sejauh yang saya ingat, tidak pernah ada kekacauan antara Sunni-Shi’ah di Indonesia, kecuali sedikit pada tahun 1982. Jadi, Shi’ah di Indonesia pada saya sejak awal telah terdidik untuk bersikap sederhana, tidak fanatik, serta menekankan kompromi. Ini sifat sejati dari Shi’ah di Indonesia. Justeru, kalau mahu lihat perubahan paradigma, maka kesimpulan mudah saya: Shi’ah dari hari ke hari makin moderat. Sebab itu, kita dapat membezakan sebahagian kecil Shi’ah yang menjadi fanatik, berbanding dengan Shi’ah majoriti yang tradisional. Dalam peristilahan yang lain, terdapat dua jalur Shi’ah di Indonesia: Shi’ah tradisional dan Shi’ah eksklusif. Untuk Shi’ah tradisional, mereka maseh meraikan lagi hari wafat, milad, dan hari khas buat Nabi dan para Imam mereka. Selain itu, mereka turut meneruskan tradisi Karbala dengan cara yang sederhana. Manakala, Shi’ah eksklusif, yang sebahagian kecil ini, mereka lebih ekstrim, dan mendakwa selain mereka bukanlah Shi’ah. Tapi, kita tidak harus lupa, fanatisme ini bukan milik kelompok-kelompok tertentu saja. Fanatisme tidak hanya terdapat pada Shi’ah semata. Sebaleknya, fanatisme ini terdapat pada semua faham, semua agama, semua mazhab, dan semua masharakat.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan kehadhiran IJABI dalam peta Indonesia?<br />
</strong>Barangkali kasus IJABI lebih sulit, dan lebih kompleks, kerana fenomenanya berbeza. Mungkin, tidak boleh dianggap sebagai eksklusif, kerana mereka turut mempertahankan sikap pluralisme. Tapi, mereka juga tidak boleh dibilang sebagai tradisional, kerana di saat yang sama mereka memberi penekanan pada hujah, nalar, dan sikap-sikap moden.</p>
<p><strong>Sebetulnya, sikap anda sendiri pada Shi’ah bagaimana? Kerana, barangkali sudah tiba waktunya untuk kira menikmati zaman saling belajar, dan tidak lagi bersikap fanatik, untuk apa pun faham yang kita miliki.<br />
</strong>Beginilah, saya sebenarnya yakin dan seyakin-yakinnya bahawa setiap dari kita boleh saling belajar. Itu keyakinan saya. Kita sebagai manusia mampu untuk meletakkan diri kita pada mereka yang lain. Mampu untuk meminjam kesenangan/kesusahan yang lain pada diri kita. Ini mampu untuk kita lakukan. Justeru, saya sama sekali tidak ada keraguan bahawa antara semua kelompok, termasuk dari kelompok Shi’ah, kita semua dapat saling belajar. Kita dapat mengambil mana yang jerneh, dan menyingkir mana yang keruh. Antara Sunni-Shi’ah, masing-masing ada kelebihan dan kekurangan. Tapi, saya juga harus berbagi, bahawa saya selalu kesulitan untuk terlibat dalam faham Shi’ah yang eksklusif. Saya maseh ingat, pernah diajak untuk menulis sebuah buku-bersama tentang Karbala. Perspektif Karbala yang sering tampil sering menggelisahkan saya. Saya bingung, mengapa setiap Karbala kita diajar untuk menangis-nangis saja. Sampai akhirnya, buku tersebut tidak memuatkan tulisan saya. Hanya saja, saya diminta untuk menulis kata pengantarnya. Tapi, apa kandungan kata pengantar saya? Pengantar saya berbeza. Di sana saya tegaskan: “Husayn adalah Imam Cinta, dan Karbala adalah Padang Cinta.” Pengantar itu sengaja saya tulis untuk membebaskan diri dari sikap yang obses dengan Yazid ibni Muawiyyah. Sejujurnya, Karbala adalah persoalan Imam Husayn. Bukan persoalan Yazid Ibni Muawiyyah. Nah, apa yang dapat kita belajar dari Imam Husayn? Kita belajar darinya sebuah kecintaan yang luar-biasanya terhadap manusia, dan terhadap kemanusiaan, sekaligus terhadap Tuhannya. Imam Husayn sama sekali tidak sanggup melihat ada manusia yang ditindas. Bahkan, untuk sedetik pun, tidak sanggup. Lantaran itulah, cucunda Nabi ini berjuang tanpa ada sekelumit pun kepentingan buat dirinya. Dalam hal ini saya teringat pada Sheikh Husayn Fadhlullah, yang mengupas perihal Imam Ali as-Sajjad, yang telah menjadi satu-satunya lelaki terselamat dari Karbala. Kata Sheikh Husayn Fadhlullah, Imam Ali as-Sajjad tidak menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk menangis-nangis saja. Itu bukan sikap seorang Imam, dan memang seharusnya tidak begitu. Tidak mungkin seorang Imam hanya menjalani kehidupan dengan penuh tangisan, atas derita dari trauma lalu. Bagaimana mungkin seorang Imam, yang sudah tahu betul nasib keluarganya, tapi hanya melewatkan waktu-waktunya dengan tangis-tangisan. Itu tidak mungkin. Maka, tegas Sheikh Husayn Fadhlullah, kalau demikian sikap para Imam, mengapa ada di kalangan kita yang asyik menangis-nangis saja. Di samping itu, kita juga boleh belajar saja dari Zaynab al-Kubra, di mana sewaktu Karbala tangannya yang maseh berbau darah, dan saat bau itulah, srikandi ini berujar, “aku mencium bau shurga.” Jadi, mereka yang berjuang itu seharusnya menyambut Karbala dengan kebahagiaan.</p>
<p><strong>Memang, hidup tanpa saling belajar, dan hidup tanpa cuba untuk memahami secara benar, hanya akan menipiskan makna-makna kehidupan kita.<br />
</strong>Benar, justeru, saya senang jika kita mula memikirkan dan melaksanakan sebuah sikap yang baru. Sikap yang meletakkan Karbala itu sebagai urusan Imam Husayn, dan kita belajar darinya. Barangkali, dalam kasus Karbala ini, saya lebih dekat dengan Sunni, berbanding dengan rata-rata Shi’ah. Walau bagaimanapun, sebetulnya cara pandang ulama Sunni itu ada pada ulama Shi’ah. Lihat saja, sufi-sufi Sunni itu kayaknya menulis seperti sufi-sufi Shi’ah. Maka, sebuah kerugian yang besar, jika awal-awal kita menutup pintu untuk saling belajar. Belajar dari Sunni, itu tidak menjadikan kita kurang Islam-nya. Dan, begitulah sebaleknya. Dalam hal-hal tertentu, seperti Karbala yang sudah saya ungkapkan, juga dalam soal shalat, khumus, dll, itu ada hal-hal yang boleh kita perhaluskan, dan boleh kita hargainya. Sejujurnya, tidak ada bezanya. Lantas, kalau ada pertanyaan pada saya, mengapa saya memilih jalan ini, dengan terlibat dengan semua kelompok? Saya akan menjawab, “inilah sebenarnya jalan saya.” Saya yakin dengan seyakin-yakinnya, bahawa setiap mereka yang beramal soleh, tempatnya adalah shurga. Nah, kalau bukan-muslim yang beramal soleh pun, saya maseh yakin tempatnya adalah shurga, maka apatah lagi mereka yang hanya berbeza mazhab Sunni-Shi’ah.</p>
<p><em><strong>Aqil Fithri </strong>adalah editor Ummahonline.com, juga zamil Cendikiawan Awam Asia 2009/2010, tajaan Nippon Foundation, Jepun. Ia dapat dihubungi menerusi aqilfithri@gmail.com.</em><strong>Kiriman Berkaitan</strong>
<ul class="similar-posts">
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/10/idealis-revolusioner-antara-shariati-dan-motahhari/" rel="bookmark" title="15 Oktober, 2010">Idealis Revolusioner: Antara Shari&#8217;ati dan Motahhari</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2010/07/shiah-di-indonesia/" rel="bookmark" title="21 Julai, 2010">Shi’ah (di) Indonesia</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2009/10/beberapa-perspektif-tentang-bahasa-budaya-dan-bangsa/" rel="bookmark" title="1 Oktober, 2009">Beberapa Perspektif tentang Bahasa, Budaya dan Bangsa</a></b> Aqil Fithri</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2011/01/menjadi-islam-dengan-berfikir/" rel="bookmark" title="28 Januari, 2011">Menjadi Islam dengan Berfikir</a></b> Hafiz Zainuddin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2006/09/kanak-buku/" rel="bookmark" title="10 September, 2006">Kanak dan Buku</a></b> admin</i></li>
<li><i><b><a href="http://jalantelawi.com/2007/01/cabaran-bah-muzik-indonesia/" rel="bookmark" title="14 Januari, 2007">Cabaran Bah Muzik Indonesia</a></b> admin</i></li>
</ul>
<p><!-- Similar Posts took 60.662 ms --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalantelawi.com/2010/08/shiah-intelektual-dan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

