Di Tunisia, Tempat Dialog Musik Bernaung

oleh
26 Ogos, 2010 | kategori Esei | komen [0] | Cetak

Perkampungan para seniman di Sidi Bou Said – kota di Tunisia utara – telah menjadi kunjungan kegemaran pelancong asing. Jalan-jalan sempit dan berangin, rumah-rumah putih bergaya Andalusia dengan bunga bougainvilla merah menyala yang menggelayut di dinding-dindingnya, serta pemandangan laut nan indah, semuanya menarik perhatian para pelancong dari berbagai penjuru. Namun, hanya sedikit pengunjung yang sadar bahwa Sidi Bou Said juga merupakan tempat salah satu projek budaya paling mengghairahkan di seantero kawasan Mediteranean.

Menteri Kebudayaan Tunisia telah menyediakan tempat bagi Pusat Musik Arab dan Mediteranean (CMAM, Centre des Musiques Arabes et Méditerranéennes) di Istana Ennejma Ezzahra (yang berarti Bintang Venus dalam bahasa Arab) yang merupakan bekas kediaman pelukis sekaligus musikolog Perancis, Baron Rodolphe d’Erlanger yang meninggal pada 1932, yang telah dibaiki menjadi lebih luas dan cantik.

CMAM mengadakan beragam program, termasuk menyelenggarakan acara musik, dan menyimpan koleksi musik Tunisia dari National Sound Archive, yang melestarikan dan menyebarluaskan dokumen-dokumen musik Tunisia dan Arab, sehingga dapat dipelajari oleh para peneliti musik. CMAM juga memastikan pemeliharaan warisan seni dan musikologi D’Erlanger, dengan berfungsi ganda sebagai muzium sekaligus ruang pertunjukan.

Tak hanya itu, CMAM juga telah menjadi salah satu pengantara paling penting dan dinamik dari pertukaran musik dan budaya antara Eropah dan dunia Arab. “Bagi para musisi muda Barat yang ikut serta dalam berbagai bengkel kami, perjumpaan pertama dengan musik Arab sering kali seperti mendapat wahyu,” terang Mounir Hentati, ketua bahagian komunikasi dan Timbalan Pengarah CMAM, dan “para peserta dari Tunisia pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mempelajari jazz atau musik klasik secara langsung.”

Andaikan pembangun istana ini tahu, nescaya ia akan bangga. D’Erlanger, yang tinggal di Sidi Bou Said dari tahun 1910 hingga wafatnya, membantu menciptakan pengertian yang lebih baik antara Timur dan Barat. Dia juga seorang tokoh penggerak dalam perencanaan Konferensi Musik Arab pertama di Kairo pada 1932.

Motivasi besar D’Erlanger untuk berhijrah ke Tunisia adalah hasratnya untuk membangkitkan kembali peradaban Andalusia-Arab. Istana Ennejma Ezzahra menjadi markas untuk mewujudkan rencana ini. D’Erlanger mempelajari bangunan-bangunan besar tradisi Andalusia dan, di kota tua Tunis, ia membuat gambar terperinci seluruh bangunan. Dari sini, ia menciptakan Al-Andalus versinya sendiri: istana Arabia, dengan hiasan dalaman bercorak Arab, Italia dan Inggris, yang menyandingkan budaya Timur dan Barat.

Pada tahun 1989, pemerintah Tunisia membeli istana ini dan menyatakannya sebagai monumen nasional. Para seniman terkenal Tunisia, termasuk pemain kecapi terkenal Anwar Brahem dan penyair sekaligus pelukis Ali Louati, turut memberi dokungan untuk memastikan bahawa pusat ini tidak hanya akan menjadi sebuah muzium, tapi juga menjadi sebuah projek dinamis pelbagai disiplin.

Barang-barang tertua yang dipamerkan di National Sound Archive dikumpulkan oleh etnomusikolog Jerman, Paul Träger, yang merakam lagu-lagu rakyat Tunisia pada 1903. “Saya menemukan rakaman-rakaman ini dalam suatu kunjungan ke Arsip Fonogram Berlin,” terang Hentati, yang berharap mendapat lebih banyak dana untuk penelitian musikologis. “Dalam kunjungan saya ke Berlin, saya menemukan bahwa selama Perang Dunia I para peneliti Jerman telah merakam lirik, melodi dan ritma dari lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para tawanan perang dari Tunisia.”

Banyak karya berbahasa Jerman diciptakan dengan menggunakan beberapa temuan penelitian ini. Sedangkan di Tunisia nyaris tak ada yang diketahui tentang wawancara penelitian itu ataupun pengumpulan bahan yang mengiringinya.

Konsep musik CMAM sendiri telah berubah mengikuti zaman. “Pada tahun-tahun awal, kami menumpukan pada produksi musik tradisional kami sendiri,” kata Hentati. Kini fokusnya telah bergeser menjadi pertukaran antarbangsa melalui berbagai konsert terbuka dan kuliah umum. Setiap tahun, pemain jazz solo dari Belgia dan Tunisia, dan negara-negara lain, berkumpul untuk sebuah acara bertajuk “Colours”.

Dengan dukungan Perancis, acara yang lain, “Young Virtuosos”, menghimpun para instrumentalis klasik muda ke CMAM untuk sebuah pertunjukan musik. Dan berbagai ensembel musik dunia dari lima benua turut serta dalam serial produksi CMAM bertajuk “Music”, yang didedikasikan untuk musik Tunisia.

“Saya bermimpi pusat musik ini akan membantu mendorong tidak saja pertukaran antara dunia Arab dan Eropa tapi juga seluruh dunia,” kata Brahem pada pembukaan CMAM. Tampaknya, sebagian mimpi itu kini telah menjadi kenyataan!

Martina Sabra adalah penulis bebas. Artikel ringkasan ini disebarluaskan oleh Pejabat Berita Common Ground (CGNews) dengan izin Qantara.de. Tulisan lengkap dapat dilihat di www.qantara.de.


Kiriman Berkaitan

Tags: Ali Louati, Anwar Brahem, Baron Rodolphe d'Erlanger, Paul Träge, Pusat Musik Arab dan Mediteranean, Sidi Bou Said, Tunisia
 
 

Tinggalkan Komen