Sajak-sajak Murad Ata
oleh Murad Ata
30 Mei, 2010 | kategori Puisi | komen [0] | Cetak
Syahwat
Pipihkan kata melayang
Pipihkan kata bertindih
Kita sedut racun malam
dalam ingatan kepada kekasih
dalam tersipu-sipu
itik berinjit di sisik kali
pipihkan kata bertindih
Terpukau malu
dengan kalam malam yang pedih
ingin keluar dari musim luruh
pipihkan kata melayang
Esok engkau aku tunggu
datang yang mana satu
Oktober ‘07
Temasya
Malam kembaran lagu
Palam macan biru
Haram melatam liku
Bangkit
Telaga hangit
Bara muncrat
Mata paling dalam
Kita melonjak
Irama setanjak
Dalam engah paling sajak
Mencapai birahi dini
Malam bingit paling sunyi
Setan pun kelu bahkan
2008
Di Depanmu
Telah lama aku ingin mempersilakanmu
Semedang kamu malu-malu
Mendekap selaksa ragu mahu ragu rindu
Ini pula rasa rinduku
Geletar pada telapak tanganmu
Ini pula kasa sanggupku
Berdirilah atas tapak kakiku
Ini kita joget kesaksian
Mengusik pintu kecerahan
2008
Monalisa Semalam Menyengkang
Malam kau menyengkang
bulat pupuk mata
siang kau kunci
syahwat mati
Lintas ke sini
duhai monalisaku
Tiga jembalang di celah ara
Tiga ludah di rusuk bara
Tiga serapah terbata-bata
Lintas segera di sini
membujur lalu melintang punah
di celah dakapku kita ‘kan beradu
dalam ragu-ragu
Oktober ‘07
Murad Ata, nama pena untuk seorang penulis.
Kiriman Berkaitan
- Tiga Sajak Murad Ata Murad Ata
- Sajak Terpelanting Jauh Hafiz Hamzah
- Victoria Hafiz Hamzah
- Sajak-sajak Wahyudi Yunus Wahyudi Yunus
- Sajak-sajak Marsli N.O Marsli N.O
- Sajak: Wan Nor Azriq Wan Nor Azriq