Penjara Cinta

oleh
27 April, 2009 | kategori Esei | komen [0] | Cetak
Sitok Srengenge
Kepada Saw Wai

Penyair Saw Wai, rekan sejawat yang budiman; dengan sedalam-dalam duka aku turut prihatin atas kabar buruk yang menimpamu. Prihatin, karena kesewenangan penguasa yang kauhadapi kini sesungguhnya adalah bahaya laten bagi kebebasan berekspresi, musuh besar para penulis, jurnalis, seniman, dan orang-orang yang berpikir kritis di negeri-negeri yang dikangkangi tirani.

Apa dosa seseorang yang menulis dan menerbitkan puisi cinta? Mestinya siapa pun bisa mafhum, puisimu bertajuk “14 Februari”, yang dimuat Jurnal Cinta pada Januari tahun lalu, tak lebih semacam upaya menyongsong Hari Valentine—perayaan kasih sayang yang direka dari mitos kaum borjuis Barat dan kini jadi bagian gaya hidup para remaja di belahan bumi yang kita huni.

Sungguhkah, di Burma, cinta telah menakutkan para penguasa? Kita tak pernah benar-benar tahu, kawanku. Kita tak pernah benar-benar tahu. Cinta adalah kata abstrak yang amat kompleks. Cinta bisa bermakna personal, namun juga diyakini mengandung esensi yang universal. Atas nama cinta Rahwana menculik dan menyandera Sita lebih dari satu setengah windu. Atas nama cinta pula Rama menyerbu dan membumihanguskan Alengka. Mengapa cinta tak setapak pun berjarak dengan derita?

Cinta, yang aku bayangkan, adalah senyawa dari harapan dan kecemasan. Menggairahkan sekaligus melumpuhkan. Hadir penuh pesona. Tak bisa ditampik atau diminta. Bagai udara yang lebih dulu ada dan akan selalu ada. Begitu saja ia melimbur sekujur jiwa kita.

Pernahkah kausadari bahwa di balik punggung cinta tersembunyi sebilah belati? Jika kau terpedaya hingga lena, cinta akan meminjam tanganmu untuk menikamkan belati itu ke ulu hatimu.

Kini cinta telah meminjam tangan-tangan perkasa para hakim untuk merajammu. Ketukan palu mereka adalah kekuatan besar yang serentak menguakkan pintu penjara dan melesakkan tubuhmu ke dalamnya. Semua itu terjadi, sekali lagi, atas nama cinta. Mereka memasungmu yang juga atas nama cinta menulis puisi ini:

Aaron Beck, si dokter jiwa, berkata
Hanya jika kau tahu bagaimana derita
Hanya jika kau gila
Kau dapat hayati keindahan Seni
Wahai, fotomodel mungil yang membuatku sakit kepala
Mereka bilang ini penyakit patah hati, yang tak terkira
Jutaan penderita penyakit inilah yang akan mengerti cinta
Tergelaklah dan bertempiklah tangan-tangan bersepuh emas ini

Aku bisa mengendus anyir satir dari puisimu. Seni, katamu, hanya akan dipahami oleh orang-orang yang menghayati derita, orang-orang yang gila. Dan cinta, katamu pula, hanya dimengerti oleh mereka yang patah hati—setara dengan putus asa, lantaran ketiadaan harapan. Kau sengaja memandang dari seberang, meminjam kaca mata pihak yang tak sepaham. Aku duga, yang kauacu adalah para penguasa di negerimu. Ya, para penguasalah yang kerap menganggap seni sebagai hal tak berguna dan hanya dipahami orang-orang gila. Kau isyaratkan padaku: untuk bisa memahami, lebih dulu kita mesti mencintai. Namun, bagi para penguasa, cinta tak lebih dari perkara melankoli. Umbaran perasaan. Semacam utopia bagi kaum yang tak berpengharapan.

Tapi, sungguhkah, para penguasa di negerimu tak lagi memandang penting makna cinta? Kenangkanlah, para hakim yang menistakanmu itu, pun menggunakan cinta sebagai dalih keputusan mereka. Rupanya mereka tahu bahwa puisimu itu merupakan bentuk akrostik, serupa sandi asma dalam khazanah sastra di negeriku, yakni setiap kata pertama dalam tiap baris akan membentuk susunan menurun dan dapat dibaca sebagai pasan rahasia. Dalam bahasamu, efek akrostik puisi itu membentuk satu kalimat baru: Jenderal Senior Than Shwe yang gila kuasa.

Sandi asma itulah yang jadi biang bencana. Kau dituduh menghina Sang jenderal Senior, pemimpin junta militer, dan karenanya mengacaukan ketenteraman masyarakat. Maka, atas nama cinta kepada Sang Jenderal dan masyarakat yang konon hidup tenteram, juga atas nama keadilan, mereka merasa patut menjebloskanmu dua tahun ke penjara.

Tentu kita tahu, cinta mereka tak lebih dari sekadar dalih. Tak ada alasan lebih yang melandasi kesewenangan itu, kecuali hasrat kekuasaan. Hasrat purba yang membutakan nurani manusia, yang mengikis tenggang rasa, yang menjadikan banyak orang cenderung silap: merasa diri paling baik, paling benar, paling kuat. Siapa pun yang berbeda dengannya berarti buruk, salah, lemah, nista dan tak berguna; dan karenanya patut digerus.

Dan kau, Saw Wai, memilih menjadi yang berbeda dengan mereka. Kautulis puisi cinta sembari menyadarkan kaum remaja betapa ada yang tak beres dalam kehidupan kalian. Kau jadikan puisi sebagai bagian dari perjuangan kemanusiaan, penumbuh semangat demokrasi di bawah kepemimpinan sejati Aung San Suu Kyi. Dengan cinta kausemai kebebasan berekspresi. Hanya dengan menghormati kebebasan berekspresi suatu masyarakat bisa mengamalkan demokrasi.

Kau mengingatkanku pada kata-kata Oscar Wilde, “Bila kau benar-benar menginginkan cinta, kau akan menemukan cinta itu sedang menunggumu.”

Dari jauh aku hanya bisa berharap, jangan kau berhenti menginginkan cinta. Jangan kau berhenti merebut dan merawat kebebasan berekspresi. Sebagaimana wasiat penyair besar di negeriku, Chairil Anwar: … jangan mengerdip, tatap dan penamu asah. Tulis atas kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah.

Puisi cintamu telah menjelmakan selembar “kertas gersang” negerimu menjadi pewarta yang baik tentang ranah yang basah oleh air mata. Semoga pengorbananmu tak sia-sia. Semoga menularkan semangat yang kelak mampu mengubah neraka bagi warga yang putus asa menjadi tanah air yang memungkinkan persemian harapan. Kau tahu, bukan rasa putus asa yang membuat seseorang memahami cinta. Tapi, sebaliknya, cinta akan membuat siapa pun terbebas dari rasa putus asa. Sebab, di dalam cinta, setiap kecemasan bersenyawa dengan harapan.

Sitok Srengenge menulis puisi, prosa, esai, dan kritik pertunjukan. Bukunya yang telah terbit, antara lain antologi puisi Persetubuhan Liar, Kelenjar Bekisar Jantan, Anak Jadah, Nonsens, On Nothing, dan novelMenggarami Burung Terbang. Sitok masih tercatat sebagai Direktur Utan Kayu International Literary Biennale. Di Komunitas Salihara Sitok menjadi Kurator Teater dan Manajer Galeri. Ia juga pendiri dan pengelola Penerbit KataKita.


Kiriman Berkaitan

Tags: Burma, Penyair, Saw Wai, Sitok Srengenge
 
 

Tinggalkan Komen