Membawa Resolusi Konflik ke Pentas
oleh admin
16 Januari, 2008 | kategori Esei | komen [0] | CetakOleh: Simnia Singer-Sayada
Musim panas 2007, saya mulai latihan di Abraham Vision (www.abrahamsvision.org), sebuah “organisasi transformasi konflik yang menjelajahi identiti-identiti kelompok dan individu melalui pendidikan berdasarkan pengalaman dan politik.” Abraham Vision adalah sebuah organisasi beranggota kaum muda yang mempelajari hubungan-hubungan antara masyarakat-masyarakat Yahudi, Muslim, Israel, dan Palestin, serta mendorong sesama untuk mempraktikkan “pilihan-pilihan yang adil berbandingkan status quo.”
Pertemuan pertama kami diadakan di Balkan, dan segera memulai sebuah dialog tentang politik identiti dengan berkongsi pengalaman keseharian kami, khususnya pengalaman-pengalaman yang telah membentuk hubungan kami dengan Timur Tengah. Dengan membangun dan mengakui pentingnya mendengarkan orang lain di atas apa yang telah kami masing-masing kongsi dengan kelompok, kami mulai belajar tentang diri kami sendiri. Program tersebut menggunakan kaedah-kaedah analisis perbandingan konflik. Kajian Perang Balkan kemudian digunakan sebagai sebuah saranan untuk menjaga jarak antara kami sendiri dengan Timur Tengah dan lebih memahami mekanisme konflik dan tindakan manusia.
Selama peranan serta saya dalam program tersebut, saya dipenuhi dengan pemikiran dan pertanyaan. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya mematahkan definisi-definisi dan menemukan peranan saya dalam nasionalisme, simbolisme, gender dan masyarakat, gender dan konflik, budaya dan politik, agama dan konflik, kebijakan AS, dan ekonomi politik dari konflik dan ras.
Hingga saat ini, saya tidak mengenali tanggung jawab pribadi saya dalam aspek-aspek kemasyarakatan ini. Di satu sisi, saya ketakutan untuk menerima label saya sebagai seorang Amerika Yahudi. Di sisi lain, saya menemukan hal yang membebaskan dengan merangkul kenyataan siapa diri saya, membongkar cap-cap saya, menilai tindakan-tindakan saya, dan melihat mereka sebagai pilihan-pilihan politik yang penuh dengan peluang-peluang untuk menciptakan perubahan.
Sekembalinya ke kuliah di New York University setelah musim panas, saya ingin mengaitkan apa yang saya alami pada Program Visi dengan apa yang saya pelajari dalam teater pendidikan, khususnya dengan menggunakan teori Augusto Boal tentang “Teater Orang Tertindas”. Ia percaya bahawa sebuah sistem permainan dan teknik teater dapat digunakan sebagai alat untuk memberdayakan orang bangkit melawan segala bentuk penindasan dan diskriminasi.
Salah satu teknik tersebut, “Hipnosis Kolumbia”, menciptakan sebuah peluang untuk menggali akibat dari tindakan-tindakan kita terhadap orang lain. Dalam sebuah kelompok, seorang pemimpin terpilih pindah ke tengah ruangan. Secara bertahap, anggota kelas yang tersisa bergabung, satu demi satu memegang orang lain dalam satu kelompok pada kepala, lengan, lutut, hidung, dll…. Ketika setiap orang telah bergabung dengan orang lain, pemimpin tersebut mulai berjalan melintasi ruangan, dan akibat-akibat tak ketara dari tindakan-tindakannya mempengaruhi ke seluruh kelompok, setiap anggota bergerak dan kerana itu menggerakkan orang-orang di sekitar mereka. Kekuatan dari benar-benar melihat dan merasakan akibat-akibat dari tindakan-tindakan tak ketara dapat menghasilkan penemuan-penemuan pribadi yang besar.
Sebuah kegiatan seperti ini dapat diterapkan pada berbagai diskusi yang terkait dengan konflik. Misalnya, orang dapat mulai menilai kembali bagaimana simbol-simbol telah digunakan untuk menimbulkan konflik dan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita, dan lebih luas lagi, untuk mempertimbangkan kemungkinan implikasi-implikasi politik dan sosial lebih besar dari apa yang kelihatannya merupakan tindakan-tindakan tak berarti yang kita lakukan sehari-hari.
Melihat peluang-peluang membawa pelatihan dan pengalaman praktis tersebut ke dalam teater, seorang kawan Amerika Mesir dan saya mulai membahas berbagai kemungkinan mengurangi konflik politik berkelanjutan antara bangsa Arab dan Yahudi melalui teater pendidikan. Kolaborasi kami yang menyusul sangat menarik dan mencabar. Kami mengembangkan Shalom Sahbity (Damai, Kawanku), sebuah pendidikan pelbagai ragam dengan menggunakan drama, tarian, dan media untuk menceritakan kisah-kisah dan pengalaman-pengalaman pribadi kami dari Timur Tengah. Saat ini kami sedang tampil di penjuru New York, dan merancang untuk pentas keliling ke pusat-pusat masyarakat dan sekolah-sekolah di Amerika – dan kemungkinan suatu hari di Timur Tengah. Kami berharap untuk melibatkan para peserta melalui kegiatan-kegiatan teater pendidikan dan merangsang dialog membangun tentang konflik Arab-Israel.
Alat-alat teater pendidikan seperti ini dapat memberi sumbangan bagi pembentukan sebuah lingkungan yang mendorong dialog membangun dan transformasi konflik. Kami sedang melihat sendiri, dalam kerja kami dengan Shalom Sahbity, dampak yang dimiliki teknik seperti itu terhadap pribadi-pribadi, dan membayangkan terus-menerus bagaimana mereplikasi kembali karya ini dalam skala yang lebih besar untuk menjangkau orang-orang dan kelompok-kelompok lain yang terlibat dalam konflik.
* Simnia Singer-Sayada mendapatkan gelar Master dari New York University dalam bidang Teater Pendidikan, dengan fokus pada kesadaran hak-hak asasi manusia dan perubahan sosial.
Kiriman Berkaitan
- Opera Hidup Abror Rivai
- Idealis Revolusioner: Antara Shari’ati dan Motahhari Aqil Fithri
- Sajak-sajak Marsli N.O Marsli N.O
- Perjalanan Seorang Amerika ke Dunia Islam admin
- Menjaga Kepercayaan Hilman Idham
- Filem Sebagai Media Baru Abror Rivai