Feminisme Islam di Maghribi

oleh
12 Januari, 2008 | kategori Esei | komen [0] | Cetak

Oleh: Mertina Sabra

Bonn, Jerman – “Islam dan feminisme tak seiring-sejalan,” ujar Asma Lamrabet, seorang doktor Maghribi dan penulis. Pada tahun 2004, dia menubuhkan  sebuah kelompok kerja bagi isu-isu wanita dan dialog antara kebudayaan di Rabat. Usaha tersebut sekarang telah terkenal seantero Arab, juga di beberapa negara Barat.

Lamrabet adalah seorang isteri diplomat dari sebuah wilayah pinggiran kaya Rabat. Secara teori dia dapat saja menghabiskan waktunya mengadakan pesta-pesta, tetapi ia tidak tertarik dengan kebiasaan-kebiasaan kalangan jet set Maghribi. Sebagai seorang doktor yang berpendidikan, ia bekerja di hospital setiap harinya. Ketika ia datang, ia duduk di mejanya dan menulis buku tentang feminisme dan Islam selain menyelenggarakan berbagai lokakarya Al Qur’an perihal tersebut.

Kedudukan wanita di seluruh negara-negara Muslim dan Arab, suram, kata Lamrabet; penghargaan lebih besar terhadap wanita dalam Islam diperlukan. Ini bererti penafsiran kembali ayat-ayat suci dan mengenali tafsir-tafsir lama apa adanya: macho dan patriarki.

Pernyataan-pernyataan yang begitu provokatif, yang dapat dibaca lebih rinci dalam ketiga bukunya, menyebabkan Asma Lamrabet memperoleh sejumlah pengikut: wanita dan juga laki-laki. Entah jurutera, pengawas sekolah, penguam, atau mahasiswa, mereka semua berkongsi minat yang sama. Mereka tidak puas dengan wacana Islam dominan yang semakin lama semakin diperluas oleh media pan-Arab.

Masalah utama dengan wacana Islam dominan adalah wanita selalu dikurangi peranannya, tegas Asma Lamrabet; seorang wanita jika bukan hanya seorang ibu, seorang isteri, saudara wanita, juga anak. Ia tak pernah ditampilkan sebagai seorang pribadi, sebagai makhluk merdeka, dan mandiri. Tetapi Al Qur’an menggambarkan wanita sebagai umat manusia, katanya, dan melihat wanita sebagai umat manusia juga bererti mengakui hak mereka atas kemerdekaan dan kewenangan.

Dalam kelompok kerja bagi isu-isu wanita dan dialog antar kebudayaan, para wanita dan laki-laki yang tertarik, menguji potensi kesetaraan dalam Al Qur’an. Asma Lamrabet percaya ajaran-ajaran Islam lebih bersifat simpati kepada wanita daripada yang secara umum diakui. Islam tidak memiliki sebuah penciptaan mitos yang menggambarkan wanita sekedar sebagai pelengkap laki-laki. Adam dalam Islam, menurut Lamrabet hanya merupakan seorang umat manusia; dalam Al Qur’an, Adam tidak memiliki jenis kelamin.

Kelompok tersebut juga disertai oleh peguam Rachida Ait Himmich. Ia merupakan anggota dari sebuah partai sayap kiri sekuler: keduanya sekuler dan Muslim, yang bagi Ait Himmich bukan merupakan sebuah pertentangan. Ia berkata ia dapat menghidupkan berbagai sisi dari jati dirinya dalam kelompok tersebut. Ia dapat menjadi seorang wanita Muslim dan di saat yang sama merasa bebas; ia dapat merangkul nilai-nilai etis universal sekaligus nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh Islam, dengan melihatnya sebagai penafsiran kembali terhadap Al Qur’an.

Dalam kelompok-kelompok kajian mereka, Asma Lamrabet dan sesama pengkampanye lain mengakui tafsiran-tafsiran Islam tradisional sekaligus konteks kesejarahan tertentu. Baginya, walaupun Al Qur’an tetap merupakan wahyu Allah, ajaran-ajarannya hanya bisa dipraktekan dalam sebuah konteks sosial dan politis tertentu. Banyak ulama konservatif hukum Islam melihat pendekatan seperti itu sebagai penghujatan.

Antara fanatisisme keagamaan yang sedang tumbuh di dunia Arab dan Islam, dan meningkatnya Islamofobia di Barat, Asma Lamrabet dan kelompok kerja feminisnya sedang memperdebatkan perihal apa yang disebut sebagai sebuah “jalan ketiga”: sebuah pendekatan moden yang menggabungkan etika universal dan humanistis dengan teladan kemanusiaan Islam.

Hingga saat ini, apa yang disebut “jalan ketiga” ini tidak memiliki daya tarik yang besar di kalangan masyarakat Arab dan Muslim. Kecaman-kecaman datang dari berbagai arah. Para Muslim Konservatif menuduh Lamrabet dan kelompoknya kurang memiliki kecakapan teologis yang diperlukan untuk menafsirkan ayat-ayat suci dengan tepat.

Para kritikus yang lebih condong sekuler menganggap pendekatannya terhadap Al Qur’an tidak bersifat historis dan ia tidak memiliki pendapat yang cukup kuat melawan poligami dan kekerasan terhadap wanita.

Asma Lamrabet menunjuk kepada perlembagaan kelompok kerja bagi isu-isu wanita dan dialog antara kebudayaan tersebut, yang telah diterima sebagai sebuah asosiasi terdaftar. Namun dokumen tersebut masih samar, sama seperti kebanyakan dari perkataan dan tulisan Asma Lamrabet. Buku-bukunya ditulis dengan fasih dan penuh semangat, tetapi secara konseptual dan dalam hal metodologi, risalah-risalah tersebut memiliki banyak titik lemah.

Terkadang, mereka berbatasan dengan bentuk propaganda fundamentalis Islam yang akrab dari aktivis politik Islam Maghribi, Nadia Yassine. Perlakuan Lamrabet terhadap subjek utamanya, identiti kebudayaan, berdasarkan pada sebuah anggapan bahawa identiti sekarang dilihat sebagai sesuatu yang kuno dalam perdebatan sosiologis yang relevan. Dengan tetap berpegangan pada sebuah anggapan identiti Islam samar, Asma Lamrabet sedang menempatkan dirinya lebih dekat kepada para pelaku propaganda Islam politis. Konsep yang mudah diingat seperti “jalan ketiga” tidak dapat mengubah ini.

Namun, semangat yang dimiliki Asma Lamrabet dan sesama rakannya dalam memperjuangkan sebuah Islam baru yang lebih berkemanusiaan sangat mengagumkan. Gema positif di kalangan kaum wanita Muslim muda menunjukkan sekali lagi bahawa feminisme Islam bukan lagi merupakan sebuah isu pinggiran, dan perkembangan ini mungkin mendorong sebuah wacana terbuka tentang Islam dan masyarakat.

* Mertina Sabra adalah seorang koresponden Qantara.de.


Kiriman Berkaitan

 
 

Tinggalkan Komen