Kes Pemerkosaan Qatif: Sebuah Katalis bagi Perubahan?

oleh
4 Disember, 2007 | kategori Esei | komen [0] | Cetak

Oleh: César Chelala

Belum lama ini di Arab Saudi, seorang perempuan muda dari kota Qatif yang telah diperkosa oleh tujuh lelaki dihukum penjara dan dirotan  90 kali, yang kemudian bertambah menjadi 200 rotan, akibat kecaman perempuan tersebut tentang kesnya melalui media. Ketika Josée Verner, Menteri Hal Ehwal Wanita Kanada, menyebut hukuman tersebut “barbar” ia hanya menyuarakan apa yang dirasakan kebanyakan orang tentang keadaan tersebut.

Peguam mangsa, Abdulrahman al-Lahim – seorang peguam hak-hak asasi manusia terkemuka di negara tersebut – dilarang mengikuti perjalanan perbicaraan dan izinnya dicabut sehingga membiarkan perempuan muda tersebut tanpa pembelaan hukum apa pun. “Pelarangan seorang peguam mewakili mangsa di pengadilan sama saja dengan kejahatan perkosaan itu sendiri,” demikian pernyataan Fawzeyah al-Oyouni, anggota pendiri Gabungan Pembelaan Hak-hak Perempuan Saudi yang dibentuk belum lama.

Kes  tersebut telah membangkitkan sebuah reaksi. Menurut Saud al-Faisal, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, pengadilan Saudi akan meninjau kembali kes tersebut. Walaupun ini merupakan sebuah hasil yang positif, yang memberi harapan terhadap kemungkinan perubahan keputusan, apa yang tidak positif adalah penegasannya bahwa “kes  ini telah digunakan untuk melawan pemerintah dan rakyat Saudi.”

Sebuah sistem pengadilan agama mengatur keadilan di negara tersebut. Para hakim dipilih oleh raja berdasarkan cadangan-cadangan dari Mahkamah Judisial Agung. Baik hakim mahupun pengadilan memiliki pertimbangan penuh untuk mengatur keadilan, kecuali dalam kes-kes  yang telah diatur secara jelas dalam syariah (hukum Islam), seperti kes hukuman mati.

Kes Qatif seharusnya dilihat dalam konteks peranan dan hak-hak kaum perempuan yang lebih luas di Arab Saudi, tempat penafsiran Al Qur’an diterapkan lebih ketat dibandingkan dengan di kebanyakan negara majoriti Islam lain, khususnya yang menyangkut hak-hak perempuan. Situasi undang-undang perempuan tersebut berasal dari campuran keadaan kesukuan, sosial, dan sejarah, yang sangat dipengaruhi oleh agama.

Kes ini dan kes -kes serupa lainnya yang telah menarik perhatian kita pada sistem hukum Saudi, dipengaruhi oleh para ulama yang memiliki suatu tafsiran terbatas tentang hukum Islam. Sebagai akibatnya, kedudukan hukum perseorangan tetap belum diundang-undangkan dan pemberian putusan hukuman sering bersifat arbitrer. Sistem tersebut tidak mengenal konsep preseden.

Sistem Pengadilan Saudi mencerminkan konflik lebih luas antara modenisasi dengan hukum dan adat kebiasaan. Islam di Arab Saudi dilaksanakan secara berbeza dari di negara-negara lain. Kenyataannya, tafsiran terbatas tentang Islam ini telah dikritik tajam oleh mereka yang-berpendapat bahawa Al Qur’an sangat jelas mengenai hak-hak perempuan.

Bagi para pendukung hak-hak perempuan, Al Qur’an memiliki banyak ayat yang menyatakan bahawa kaum laki-laki dan perempuan, sederajat dalam hak-hak dan tanggungjawab mereka. Khususnya, mereka merujuk pada khutbah terakhir Nabi Muhammad, dalam mana ia menyatakan, “layani perempuan dengan baik dan bersikap baiklah kepada mereka kerana  mereka adalah pembantu dan penolong yang berkomitmen.”

Walaupun pemerintah Saudi belum lama ini telah mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki keadaan perempuan di negara tersebut, dengan pembentukan sebuah pengadilan khusus untuk menangani kes-kes kekerasan domestik, pelaksanaan undang-undang buruh yang baru dan pembentukan suruhanjaya hak-hak asasi manusia, Kes  tersebut seharus menunjukkan dengan jelas bahawa jalan keadilan bagi kaum perempuan masih jauh.

Benar kaum perempuan sedang mengayunkan langkah-langkah besar di negara tersebut: semakin banyak dari mereka yang ikut serta dalam sistem perdagangan dan pendidikan, dan mereka gigih dalam memperoleh hak-hak politik lebih besar. Namun, meski mereka mencakup 55 persen dari lulusan sekolah, mereka hanya menciptakan kurang dari lima persen tenaga kerja.

Kes  Qatif memberikan bangsa Saudi sebuah peluang yang unik, tidak hanya untuk menyeimbangkan keadaan yang tak adil tersebut, tetapi untuk melangkah lebih jauh dalam memperbaharui sistem peradilan, sehingga penyalahgunaan seperti ini – yang begitu bertentangan dengan ajaran dan jiwa Islam – tidak akan pernah terjadi lagi. Lebih tepatnya lagi, ia dapat berfungsi untuk mendorong perubahan yang diperlukan di Timur Tengah.

* César Chelala, salah seorang pemenang penghargaan Overseas Press Club of America, adalah koresponden asing bagi Middle East Times International di Australia.


Kiriman Berkaitan

 
 

Tinggalkan Komen