Kekuatan Idea Buruk

oleh
14 Disember, 2007 | kategori Esei | komen [0] | Cetak

Oleh: Tom Plate

Dalam pasar idea dunia, segala sesuatu memiliki nilainya sendiri, bahkan sebuah idea buruk.

Sebuah idea buruk bahkan dapat melimpahi dataran kebenaran tergelap dengan cahaya yang gemerlap ? dengan cara yang tak dapat dilakukan oleh sebuah fakta semata.

Pertimbangkanlah, misalnya, idea bahawa Islam tidak sesuai dengan demokrasi. Itu merupakan idea yang sangat buruk ? tapi hal tersebut dapat memiliki tujuan yang sangat baik. Untuk awalnya, gagasan ketidaksesuaian Islam dengan demokrasi dapat memotivasi umat Muslim yang paling moderat dan beradab untuk tidak hanya berdiam diri saja dan menyusun pembelaan terhadap agama dan budayanya dengan semangat kemenangan dan keyakinan yang menawan.

Itulah apa yang benar-benar terjadi ketika Anwar Ibrahim yang karismatik dan sulit dicari bandingannya berbicara pada ” The Asian Century Begins”, sebuah seminar tiga hari yang diselenggarakan oleh International Association of Political Consultants (IAPC) pada awal bulan ini.

Anwar ? seorang Muslim yang taat dan terpelajar ? adalah Wakil Perdana Menteri Malaysia dari tahun 1993-98, yang kemudian selama beberapa tahun menjalani hukuman penjara sebagai tahanan politik Malaysia.

Mendapat pengampunan kerana  adanya perubahan pemerintah nasional, reformis ini, sekarang mengisyaratkan akan memasuki kembali pilihanraya di negaranya, hampir-hampir bersikap evangelis tentang perlunya ? dan kemungkinan tercapainya ? hubungan Timur-Barat yang harmonis.

Seperti Indonesia, negaranya sebagian besar berpenduduk Muslim dan memiliki sebuah struktur pemerintahan yang sama sekali sekular. Apa yang begitu nyata dan mengesankan tentang seminar ini adalah jumlah peserta VIP Muslim yang begitu mendukung dan bangga dengan pemerintahan sekular mereka.

“Keraguan terhadap ketidaksesuaian Islam sama saja menanyakan apakah agama Kristian dan demokrasi sangat sesuai,” suara Anwar menggelegar, padahal ia jenis orang yang hati-hati dan jarang bersuara keras. “Mengapa tidak sekalian menanyakan apakah Judaisme dan demokrasi sesuai! Mengapa kita hanya melihat kaum Islamis sebagai kambing hitam?”

Cara Anwar dan banyak umat Muslim lain melihat berbagai hal, orang yang menganggap bahawa Islam tidak dapat menghindarkan diri jatuh ke dalam ekstremisme merupakan munafik dan/atau bodoh. Mereka menunjuk Turki dan Indonesia sebagai contoh-contoh utama dari masyarakat Muslim yang sangat besar , yang benar-benar merupakan kekuatan politik yang sekular.

Mereka menunjukan bahwa kaum Islamis di Asia Tenggara tidak pernah memiliki perselisihan dengan sekularisme. “Sama sekali tidak ada perdebatan serius di Indonesia tentang demokrasi sekuler,” tegas Anwar.

Bintang politik Malaysia tersebut kemudian mengejutkan setiap orang dengan menunjuk sebuah sumber inspirasi utama, yang biasanya didiskreditkan, bagi kelangsungan pemerintah kontemporer Indonesia. “Berikan penghargaan kepada Suharto yang membuat umat Muslim menerima perlunya sebuah negara sekular. Bahkan para pemimpin muda Indonesia juga meyakini nilai negara sekular.” Mantan Presiden Suharto, kini keadaan kesihatannya terus merudum dan tidak memiliki kekuasaan apapun, selama 30 tahun lebih telah menguasai Indonesia yang luas, yang dulu merupakan jajahan Belanda, dengan tangan besi dan keserakahan tak berdasar. Transparency International pernah memeringkatkannya pada posisi teratas dari semua diktator dunia dalam hal korupsi.

Tetapi di kalangan para peniaga, Suharto dianggap pembawa modenisasi ekonomi, yang membawa kesejahteraan baru bagi negara tropika ini. Di antara banyak Muslim moderat negara tersebut, Suharto dihargai kerana  menjauhkan dan mengendalikan orang-orang “gila” negara, sambil membiarkan para peniaga yang waras berkarya dan mengembangkan perekonomian.

“Suharto memberikan negaranya 30 tahun lebih ketiadaan perdebatan tentang arti penting dari sekularisme,” jelas Anwar.

Tetapi bagaimana dengan para Muslim itu ? betapapun kecilnya jumlah minoriti, entah di Indonesia atau dimanapun ? yang berkhutbah racun eksklusif, mengubah diri mereka sendiri menjadi bom manusia, atau menerbangkan pesawat awam ke bangunan yang sangat tinggi dan terkenal?

“Sebahagian umat Muslim perlu mendengar lebih baik,” katanya. “Jalan sejati bagi Islam politik dimulai dari [tempat seperti] Jakarta. Ancaman terhadap demokrasi tidak berasal dari Islam … tetapi kita harus menghindari tafsiran-tafsiran sempit tentang Syariah [hukum Islam].”

Anwar juga berdoa bahawa para pendukung sekularisme tidak akan membuat kesalahan pengemasan filosofi tata pemerintahan yang neutral terhadap agama sebagai sebuah gerakan anti-agama: “Sebuah negara sekular dapat menjadi negara yang bersahabat dengan agama dan dapat diterima warga Muslim. Pembangunan sebuah masyarakat yang taat penting ertinya ? bahkan ketika negara tersebut tetap bersikap neutral secara keagamaan.”

Dewasa ini, Indonesia ? negara berpenduduk Muslim paling besar dan pada kenyataannya negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia ? semakin lama kelihatannya semakin menjadi sebuah cerita yang sangat penting, bentangan kisah, yang mungkin saja akan menentukan arah abad ini. Kerana  jika Anwar dan kelompok Muslim moderat benar, maka hubungan antara Timur dan Barat akan terbukti tak sekeras benturan trans-civilisational march of progress.

Sayang, tidak banyak orang Barat yang kelihatannya mengerti bahwa dunia Islam tidak mudah-mudah disamakan dengan Bin Laden, kecuali Majoriti  moderat kehilangan pegangan mereka dan orang-orang seperti Anwar dihalangi berkuasa ? atau kecuali Barat terus menerus dan dengan keras kepala menggambarkan Islam dalam stereotip yang menusuk, sehingga pulasan propaganda berubah menjadi ramalan yang nyata, hingga kita akhirnya meyakinkan mereka agar menggacukan senapang.

* Tom Plate, seorang anggota Burkle Center for International Relations, dan kolumnis sindikat jurnalisme yang muncul di harian-harian internasional, dari Tokyo hingga Seattle.


Kiriman Berkaitan

 
 

Tinggalkan Komen