Pertembungan atau Sintesis Peradaban?
oleh admin
14 Julai, 2007 | kategori Esei | komen [1] | CetakOleh: Ali Noer Zaman
Menurut Samuel P. Huntington, perang antara peradaban terjadi antaranya kerana perbezaan nilai-nilai yang berakar dari sejarah, bahasa, kebudayaan, tradisi dan agama di dunia yang akhirnya mempengaruhi pandangan manusia terhadap kelompok lain. Mengecilnya dunia akibat globalisasi telah memungkinkan manusia sering bertemu sehingga mempertajamkan kesedaran dan rasa perbezaan di samping rasa persamaan di antara berbagai komuniti, yang menentukan mana lawan dan mana kawan.
Ramalan Huntington tentang pertembungan peradaban agaknya sulit diterapkan di Indonesia, yang sejak lama telah dikenal sebagai tempat bertemunya pelbagai peradaban besar dunia. Pengaruh asing yang pertama datang adalah kebudayaan India yang membawa agama Hindu dan Buddhisme, disusul Cina, Islam, dan akhirnya Barat Kristian yang masuk bersama-sama dengan negara-negara kolonial, terutama Belanda.
Hal yang menarik adalah pelbagai peradaban dunia itu bertemu secara damai untuk menghasilkan sebuah kebudayaan sintesis khas Indonesia. Perang-perang yang terjadi di tempat ini pada umumnya lebih berpunca daripada persoalan politik dan ekonomi.
Kemampuan budaya Indonesia untuk menyerap pelbagai peradaban dunia, menurut Clifford Geertz, seorang ahli antropologi Amerika yang meneliti agama Jawa di tahun 1950-an, adalah adanya budaya animisme yang dianut masyarakat setempat yang mampu mensintesiskan elemen animisme, Hindu-Buddha, dan Islam. Sifat fleksibel ini mampu menjinakkan watak radikal kebudayaan asing. Maka dalam hal Islam, Clifford Geertz menyatakan bahwa Islam Jawa, Indonesia adalah Islam yang dinamik, adaptif, reseptif, pragmatis, dan bergerak secara perlahan.
Contoh reseptif-sintesis kebudayaan Indonesia dapat dilihat dalam seni tradisional wayang yang sebahagian besar ceritanya diambil daripada karya India, Ramayana dan Mahabarata, namun dikemas dan diperkaya dengan ajaran Islam oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara sejak abad ke-16. Melalui perpaduan kedua-duanya, kita dapati sebuah cerita menarik yang tidak semata-mata bertumpu kepada perang kebaikan dan keburukan sebagaimana dalam cerita awal Indianya, tetapi juga nasihat moral tentang bagaimana hubungan antara makhluk dengan pencipta seperti ditunjukkan dalam lakon Bima Suci yang mencerminkan pengaruh ajaran Islam tentang ittihad atau di Jawa, manunggaling kawula gusti (penyatuan mistikal dengan Yang Maha Esa).
Dalam menghubungkan perbezaan antara watak tauhid Islam dan politeisme kebudayaan Hindu India, maka dewa-dewa yang terdapat dalam kebudayaan India merupakan nama-nama Tuhan, ditafsir ulang menjadi sekadar makhluk-makhluk gaib seperti malaikat atau roh-roh leluhur yang kedudukannya berada di bawah kekuasaan mutlak Allah. Bahkan nabi-nabi Arab dihubungkan dengan dewa-dewa Hindu dalam sebuah geneologi mitologis dengan melihat kedua kelompok tersebut sebagai keturunan Seth. Untuk lebih menguatkan kedudukan Allah, para dewa dianggap tinggal di sebuah tempat di mana manusia mampu berkomunikasi dengan mereka, bahkan diminta bantuannya.
Pada zaman moden, bentuk sintesis kebudayaan Indonesia dapat ditemui dalam Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial-keagamaan yang didirikan pada tahun 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, yang menggambarkan pertemuan kebudayaan Islam dan Barat. Secara umum, Muhammadiyah berusaha menggabungkan ajaran Al-Quran dan Hadith Nabi dengan penemuan moden.
Yang menarik adalah kaedah gerakan Muhammadiyah yang banyak terinsipirasi daripada gerakan missionari Kristian Protestan, seperti penubuhan sekolah-sekolah moden dengan gaya pendidikan Barat, pengajaran ilmu-ilmu umum termasuk bahasa Belanda dan Inggeris, bukan semata-mata ilmu agama dengan bahasa Arab sebagai satu-satunya bahasa asing yang diajarkan, penubuhan hospital dan unit-unit sosial yang lain. Muhammadiyah juga terkenal dengan penekanannya pada rasionaliti, anti tradisi dan anti kultus peribadi yang banyak mendominasi organisasi keagamaan tradisional. Dalam kegiatan ekonomi, para pedagang Muhammadiyah memiliki cara kerja mirip etika Protestan yang berkembang di Eropah Barat dan Amerika Syarikat. Mereka merupakan penggerak ekonomi dan koperasi rakyat di daerah Jawa utara melalui industri kain batik.
Peradaban-peradaban dunia memiliki potensi untuk menghasilkan sebuah sintesis kreatif kebudayaan seperti yang terjadi di Indonesia. Dengan sikap inilah kita seharusnya menatap masa depan hubungan antara umat manusia. – Common Ground News
Kiriman Berkaitan
- Paradoks “Islam Hadhari” admin
- Tiada anti-Semitisme di India? admin
- Shi’ah (di) Indonesia Aqil Fithri
- Sejarah, Falsafah & Pemikiran Hindu: Satu Pengenalan Eddin Khoo
- Menyingkap “Jubah” Ekstremisme Agama admin
- Idealis Revolusioner: Antara Shari’ati dan Motahhari Aqil Fithri
bagos2 skali.
troiskan usaha anda
di harap lebih bjayedi mase hadpan.
ok2 tengs!!