Menyingkap “Jubah” Ekstremisme Agama

oleh
14 Februari, 2007 | kategori Esei | komen [0] | Cetak

Oleh: Laura McAleer & Hala Ali

Setelah 11 September, banyak kalangan di dunia Barat yang berjuang untuk mengenali tindak-tinduk terorisme dan para pelakuknya secara tepat. Sering kali, orang membaca akhbar dan menonton berita televisyen lalu membuat kesimpulan bahawa tindakan-tindakan tersebut dilakukan atas nama jihad, konsep Islami yang biasa diertikan, dan salah, sebagai “perang suci.” Banyak orang Barat (dan lainnya di penjuru dunia) menyamakan keduanya, membangun salah erti tentang Islam dan masyarakat Muslim. Kesalahpengertian ini merosak hubungan antara AS dan dunia Islam, dan hanya dapat dikurangkan dengan mengenali perbezaan makna yang mendasar antara terorisme dan jihad.

Bahagian Luar Negara AS, menurut dokumen polisi rasmi National Strategy for Combating Terrorism, mendefinisikan terorisme sebagai “kekerasan terancang dan bermotivasi politik yang dilakukan terhadap sasaran-sasaran non-militer oleh kelompok-kelompok sub-nasional atau gerakan-gerakan bawah tanah,” yang biasanya bertujuan untuk mempengaruhi orang. Ini adalah sebuah tindakan yang dikutuk oleh semua agama yang bertujuan menggoncangkan stabiliti kekuatan utama dunia dan berusaha untuk memperlemah kekuatan mereka dan mengancam masa depan mereka.

Peristiwa 11 September jelas sesuai dengan gambaran ini. Namun, kenyataan bahawa serangan-serangan atas gedung World Trade Center dan Pentagon dilakukan oleh sekelompok orang yang bertindak atas nama Islam tersebut telah membawa prasangka yang sangat besar terhadap masyarakat Muslim di Amerika Syarikat dan di seluruh dunia. Ini dapat dibuktikan oleh sebuah kajian pendapat Washington Post-ABC News pada bulan Mac 2006, yang melaporkan bahawa 33% orang Amerika percaya Islam memaafkan kekerasan terhadap non-Muslim (naik dari 14% pada 2002). Bahkan ramai dikalangan orang Amerika yang mengatakan mereka memahami Islam dan yang cenderung melihat agama tersebut penuh perdamaian dan terhormat berkemungkina untuk mengatakan bahawa Islam melindungi para ekstremis yang berbahaya, dan mereka berkemungkinannya untuk memiliki prasangka-prasangka terhadap Muslim.

Apakah definisi jihad yang Muslim rasakan tepat dan inginkan agar difahami dunia Barat? Kata “jihad” berasal dari akar kata bahasa Arab (Jim Ha Dal) yang berarti memanfaatkan kebijakan dan sifat baik kita, serta rahmat Tuhan untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Lebih khususnya, orang dapat mengatakan bahawa jihad adalah melakukan setiap upaya untuk beribadah dan mematuhi Tuhan, memperoleh ilmu pengetahuan, menasihati orang lain bagaimana caranya berbuat kebaikan dan menjadi orang yang beriman kepada Tuhan, dan bekerja keras menyebarluaskan perdamaian, kebebasan, cinta, dan toleransi. Lebih jauh, kata “Islam” berasal dari kata bahasa Arab “saalam”, yang berarti damai.

Berdasarkan pemaknaan di atas, peristiwa 11/9 dan tindak-tindak terorisme yang dilakukan sejak saat itu kerananya tidak dapat dilihat sebagai tindakan jihad. Bahkan, mereka direncanakan dan dilaksanakan oleh orang-orang yang memilih untuk menggunakan agama mereka sebagai jubah.

Sebuah perbandingan dapat dibuat dengan para Pejuang Perang Salib (Crusader): Para Crusader dari Eropah bertindak atas nama Kristian, tetapi ajaran-ajaran Kristian (baik pada waktu itu maupun sekarang) tidak mengizinkan tindakan-tindakan mereka yang mengerikan, bahkan “teroris”. Para ekstremis Islam yang melakukan tindak terorisme kurang lebih serupa dengan para Crusader tersebut; mereka telah salah memahami, salah mengertikan, dan terbiasa tumbuh dalam pemutar belitan ajaran agama mereka, dan representasi-representasi salah ini dijadikan dasar tindakan mereka.

Jelas, para Muslim yang terlibat dalam terorisme telah bertindak atas keyakinan pribadi mereka sendiri yang tidak mewakili dengan tepat ajaran dari agama atau keyakinan majoriti penduduk dunia Muslim. Bahkan, Al Qur’an mengajarkan bahwa, “Barang siapa membunuh seorang manusia, bukan kerana orang itu membunuh orang lain atau bukan kerana membuat kerosakan di muka bumi, maka ia telah membunuh seluruh manusia. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia …”

Kebenaran-kebenaran dasar tentang konsep jihad belum disebarkan secara meluas di Barat. Kurang tersebarnya informasi yang ditimbulkannya tidak hanya menjadi pemutus yang mengecewakan antara kedua kebudayaan, tetapi juga sebuah sumber pendorong utama tindakan teroris. Kenyataan bahwa banyak orang Amerika dan orang Barat lain yang gagal melakukan upaya untuk memahami Islam dan, seperti yang diungkap oleh kajian pendapat di atas, mencurigai semua Muslim yang mereka jumpai, hanya akan mendorong lebih banyak lagi Muslim yang bersembunyi di balik “jubah” ekstremisme Islam. Lingkaran salah tanggap ini semakin memperpanjang kekerasan yang hanya dapat dihentikan melalui pendidikan. Dengan definisi yang tepat dan melalui saling pengertian, “jubah” tersebut dapat disingkap dari mereka yang telah terlibat dalam tindakan-tindakan terorisme di masa lalu, dan potensi tindakan itu di masa depan dapat dicegah.

* Laura McAleer adalah seorang mahasiswa Georgetown University dan Hala Ali kuliah di South Valley University of Qena. Mereka berdua terlibat dalam program dialog antara-budaya Barat-Arab, Soliya. Artikel ini telah diubah & dialih bahasa oleh jalantelawi.com dari artikel yang disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews), dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org .


Kiriman Berkaitan

 
 

Tinggalkan Komen