Perjalanan Seorang Amerika ke Dunia Islam
oleh admin
14 Januari, 2007 | kategori Esei | komen [0] | CetakOleh: C. Holland Taylor Winston-Salem, NC
Walaupun nenek moyang saya selama lebih dari tiga abad hidup di Amerika Syarikat, saya secara pribadi hampir sepanjang hidup tinggal, merantau, dan bekerja di berbagai negara Muslim. Pada usia sembilan tahun, saya berpindah ke Iran bersama dengan keluarga saya justeru lebur dalam budaya Parsi selama tiga tahun, dari 1965-68.Suara azan, seruan bagi umat Muslim untuk melakukan shalat, menjadi sebahagian yang tak terpisahkan dari masa kanak-kanak saya, demikian juga dengan bentuk Islam yang majmuk, toleran, dan spiritual, yang dipraktikkan oleh kebanyakan orang Iran.
Ketika bersekolah menengah di Jerman, pada awal tahun tujuh puluhan, saya berekesempatan dua kali menempuh perjalanan darat melintasi Timur Tengah, bahkan ke Turki, Iran, Afghanistan, dan Pakistan – di sanalah saya mengenal lebih jauh keragaman ekspresi budaya Islam dan kekayaan warisan seninya.
Tahun-tahun 1990-an, saya menjadi presiden pengarah sebuah syarikat telekomunikasi antarabangsa yang menjual saham strategis pada syarikat pengangkutan nasional Indonesia. Hal itu mendorong saya mengundurkan diri dari industri telekomunikasi, saya berpindah ke tanah Jawa dan saya mempelajari tentang sejarahnya, serta membentu LibForAll (“Liberty for All”) Foundation bersama dengan presiden Indonesia pertama yang terpilih secara demokratis, Abdurrahman Wahid.
Terletak di pinggiran timur dunia Islam, Indonesia telah lama terkenal mempraktikkan versi yang paling liberal dan toleran dari agama itu. Tetapi mundur kembali ke abad enam belas, negara-negara kota Muslim baru di sepanjang pantai utara menghancurkan kerajaan-kerajaan lokal Hindu-Buddha sambil memperluas kekuasaan mereka hingga pedalaman wilayah tersebut, yang menyebabkan pergolakan hebat.
Mabuk kemenangan, para penganut fanatik agama baru tersebut – yang kebanyakan keturunan Arab atau Cina – menyebarkan keganasan sambil membasmi warisan kebudayaan kuno di tanah itu. Lawan mereka adalah suku bangsa pribumi Jawa –dipimpin oleh para sunan dan tokoh politik Muslim, seperti Sunan Kalijogo –yang mencari kesinambungan dan landasan persamaan antara berbagai agama.
Selama hampir seratus tahun, kekuatan yang saling berlawanan tersebut berjuang memperebutkan jiwa Jawa – dan, akhirnya, Islam Indonesia – dalam sebuah perang yang perjuangannya ditentukan tidak hanya di medan pertempuran, tetapi juga di dalam hati dan pikiran orang biasa. Dalam konflik antara para ekstremis agama dan Muslim Sufi ini, ideologi spiritual Sufi– dimasyarakatkan oleh para sunan, dalang, dan pemuzik – memainkan peranan yang sangat penting dibandingkan kekuatan ketenteraan dalam mengalahkan ekstremisme keagamaan di Jawa. Keterlibatan saya dengan warisan spiritual yang kaya dari Sufisme, atau Islam mistik, yang terletak di jantung kebanyakan masyarakat Muslim di seluruh dunia.
semakin meningkatkan apresiasi saya terhadap salah satu tradisi keagamaan besar dunia ini.
Pada akhirnya, sebuah dinasti baru, yang menetapkan tenggang rasa keberagamaan sebagai aturan hukum dan menjamin kebebasan nurani bagi semua orang Jawa pun berdiri – jauh sebelum gagasan yang sama berakar kuat di Barat. Pendiri dinasti tersebut adalah seorang Sufi Jawa bergelar Senopati ing Alogo, yang kemenangannya ditentukan oleh daya tarik pesannya tentang kemerdekaan, keadilan, dan spiritualitas batin yang dalam.
Setelah peristiwa 11/9 dan serangkaian serangan teroris di Indonesia, Presiden Wahid dan saya mendirikan LibForAll Foundation – diilhami oleh kaedah yang digunakan oleh leluhur Presiden Wahid sendiri untuk mempertahankan budaya Jawa dari ekstremisme keagamaan lima abad silam.
Di Indonesia, kami telah membentuk sebuah jaringan dikalangan mereka yang berpengaruh dalam bidang agama, pendidikan, budaya popular, pemerintah, perniagaan, dan media yang bekerja untuk mempertahankan budaya mereka yang mendorong toleransi antara umat beragama dalam menghadapi gelombang baru ekstremisme yang melanda seluruh dunia Muslim.
Kami juga sibuk memperluas usaha LibForAll di Indonesia untuk mengeksport wajah Islam yang penuh senyum, dengan menghubungkan para pemimpin Muslim “moderat” “dalam sebuah jaringan mercu suar di dalam dunia Muslim yang akan mendorong terciptanya toleransi dan kebebasan berfikir dan beribadah” (Associated Press). Sebagai hasilnya, wilayah operasi LibForAll telah meluas hingga ke Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa, dan Amerika Syarikat.
Kunci keberhasilan dalam perjuangan global mendorong para tokoh Muslim dari segala golongan bersatu menyerukan bahwa “sang raja tidak mengenakan sehelai benangpun” (maksudnya, Islam radikal tidak memiliki pembenaran teologis), dan karena itu mendorong “majoriti umat Muslim besar yang diam” untuk menolak ideologi kebencian dan kekerasan golongan ekstremis.
Analogi sang raja tidak mengenakan sehelai benang pun sangat tepat, dan merupakan kunci strategi LibForAll. Terlepas dari berbagai usaha mereka untuk membenarkan ideologi kebencian agama dengan menghiasi diri sendiri dengan “mantel Rasul”, kaum Muslim radikal sesungguhnya merupakan pewaris gerakan Khawarij – sebuah aliran yang penuh kekerasan dan penghianat yang telah membunuh menantu Nabi, ‘Ali, karena dianggap “kurang Muslim”.
Tujuan kami dengan tepat telah dirumuskan secara singkat oleh Presiden Wahid ketika ia menulis: “Umat Muslim sendiri dapat dan harus menyebarkan pemahaman Islam yang ‘benar’, dan karenanya menolak ideologi ektremis. Untuk memenuhi tugas ini memerlukan pengertian dan dokongan dari berbagai individu, organisasi, dan pemerintahan yang memiliki pemikiran yang sama di seluruh dunia. Kita harus mencerahkan hati dan pemikiran kemanusiaan, dan menawarkan pandangan alternatif yang meyakinkan tentang Islam sebagai sebuah agama penuh cinta Ilahiah dan toleransi yang mengusir ideologi kebencian fanatik kembali ke tempat asalnya, ke dalam kegelapan.”
* C. Holland Taylor adalah ketua & CEO LibForAll Foundation, www.libforall.org , sebuah lembaga tidak berasaskan keuntungan bermarkas di Indonesia dan AS yang bekerja untuk melawan ekstremisme keagamaan dan menolak penggunaan terorisme. Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org
Kiriman Berkaitan
- Pasca Islamisme admin
- Pertembungan atau Sintesis Peradaban? admin
- Islam dan Kerajaan Terhad Amin Ahmad
- Eid di Indonesia Aqil Fithri
- Ibn Rushd, Kant, dan Projek Pencerahan Islam Luthfi Assyaukanie
- Memahami Sekularisme Turki admin